Ikhwan Idaman Akhwat (2)

3. Perilakunya menyenangkan

Umumnya sih, ikhwan yang udah oke keimanannya, insya Allah oke juga
kepribadiannya. Sebab, setiap apa yang dilakukan itu pastinya ngikutin cara
pandang kehidupannya. Artinya, apa yang diilakukannya sesuai yang dipahami.
Tapi, kadang praktek beda ama teori.

Nah, gimana nih dengan ikhwan yang jaim? Atau gimana pula menurutmu kalo ada
ikhwan yang caper bin ganjen ama akhwat?

“Aku nggak suka kalo ngeliat ikhwan yang jaim. Kayaknya dia tipe orang yang
nggak pede untuk menunjukkan jati dirinya (cieee). Apalagi kalo ngeliat
ikhwan yang caper dan ganjen ama akhwat, aku nggak suka banget. Karena
biasanya ikhwan yang kayak gitu orangnya rese… kan nggak semua akhwat suka
diganjenin (99,99 % nggak suka),” tulis Ira ke STUDIA.

But, karena menurut Ira 99,99 persen akhwat nggak suka, ternyata masih ada
tuh dari 0,01 persen akhwat yang suka tipe ikhwan yang jaim. Sebut aja
Yanti, menurutnya, “Suka, sebab kita-kita jadi tengsin kalau mau jailin
ikhwan jaim. Tapi kalo ganjen dan caper nggak sukaaaaa…. ikhwan kok nggak
inisiatif cari kerjaan selain caper-in akhwat” paparnya.

“Keimanan so pasti dong ya kudu jadi pilihan utama. But, perilakunya juga
harus mencerminkan keimanannya. Jadi aku nggak suka sama ikhwan yang ganjen,
yang suka caper sama akhwat, yang sombong, yang nggak mau akur sama ikhwan
lainnya, yang ngomongnya nggak sopan. Meskipun dia ilmu agamanya bagus dan
rajin berdakwah,“ jelas Arini.

Waaah… harap hati-hati buat para ikhwan. Jangan sampe para akhwat udah
nggak sreg duluan sama kita pas ngelihat tampilan kita kayak gitu. Memang
sih, ikhwan juga manusia (yeee.. nggak mau kalah sama akhwat yang juga
manusia). Karena manusia, maka nggak bisa lepas dari kelemahan dan
keterbatasan. Memang sih, tapi kan bisa dipermak jadi oke. Soalnya yang
namanya afektif (perasaan or emosional) itu bisa dilatih dengan pembiasaan.

Jika si dia melamarmu…

Maaf, maaf, jangan keburu kepikiran pembahasan ini khusus dewasa. Ya,
mungkin ini lebih baik, daripada ditulis: “jika si dia memacarimu…”. Tul
nggak? Justru kita harus membiasakan pemahaman bahwa hubungan akrab pranikah
(baca: pacaran—gaul bebas-apalagi seks bebas) itu salah. Sementara hubungan
yang sah untuk saling mencurahkan kasih-sayang dan perhatian antara
ikhwan-akhwat, tentunya lewat pernikahan. Ini yang harus terus
dikampanyekan. Itu sebabnya saya lebih memilih diksi alias pilihan kata,
“melamarmu”. Setuju kan? Awas kalo nggak setuju (idih, ngancem!)

Sobat muda muslim, kalo suatu saat kamu udah siap nikah, terus ada ikhwan
yang mo ngelamar kamu, apa yang bakalan kamu lakukan?

“Ehm… siapa pun ikhwan yang dateng. Aku nggak bisa langsung memutuskan.
Sholat istikharah adalah solusinya. Tapi urusan fisik en materi, kayaknya
nggak zamannya lagi dipermasalahkan (yang harus dilobi tuh ortu, coz siapa
sih ortu yang rela anaknya hidup miskin. Kedengeran matre sih, tapi
sebenernya ortu bersikap kayak gitu, aku yakin alasan mendasarnya bukan
karena matre, mereka cuma pengen anaknya hidup bahagia. Ciee.. sok bijaksana
gini nih).” Mila menulis barisan kata-kata ini via e-mailnya ke STUDIA.
Bener nih?

Eh, kalo ada ikhwan yang gagah, keren, pinter, tsaqafah Islamnya juga
tinggi, anak orang kaya, rajin berdakwah, sholeh, keimanannya mantep (wuih,
ada nggak sih se-perfect ini di dunia nyata?), terus kamu ngarepin jadi
pendamping hidupnya nggak?

“Oh… so pasti gitu looh! Eh, tapi ikhwan yang seperti itu langka
ditemukan,” Tika ngasih jawaban.

“Ingin banget, tapi semua keputusan akhir kan Allah yang nentuin, kita
mungkin cuma bisa usaha,” Ninink menjawab dengan bijak.

Tapi, gimana kalo setelah sekian lama menanti ikhwan idaman hati, eh, yang
dateng tuh ikhwannya dengan kriteria: wajah pas-pasan, miskin, ilmu agamanya
biasa aja, hanya rajin sholat dan dakwah. Gimana tuh?

“It’s ok. I’ll receive. Yang jelas dia orang yang terbuka, bijak, dewasa,
dan merdeka. Kekayaan baginya adalah pemikiran yang diejawantahkan dalam
kehidupan dan perjuangan. Dan atas dasar itu pula, mencuatlah kesadaran
dalam dirinya utk menunaikan kewajiban-kewajiban yang dipanggulnya. Cukup
itu, tidak lebih.” papar akhwat yang punya inisial “sg” dalam e-mailnya ke
STUDIA.

Sobat muda muslim, kayaknya kalo ditampung semua pendapatnya bisa panjang
urusannya neh. Tapi yang jelas, kita bisa punya kesimpulan bahwa umumnya
para akhwat mencari ikhwan idaman yang imannya mantep, sholeh, pengertian,
perhatian, dan punya jiwa pengemban dakwah. Wuih, sederhana dan sangat
wajar. Semoga ini menjadi pegangan dan ukuran kita semua. Karena, yang
namanya keimanan (akidah) tuh kriteria number one euy dalam prioritas
pilihan kita untuk mencari pendamping hidup. Nggak bisa ditawar lagi.

Oke, tulisan ini sekadar melengkapi aja dari tulisan di edisi pekan kemarin
yang udah dibahas panjang-lebar (lengkap dengan dalil-dalilnya sebagai
panduan bagi ikhwan dan akhwat). Artinya nih, tulisan di edisi ini sekadar
penekanan aja dengan lebih banyak mengeksplor pendapat para akhwat.
Mengungkap fakta aja dan sedikit ngasih penjelasan tambahan. Semoga
bermanfaat dan jadi bahan renungan kita. Makasih. [solihin:
sholihin@gmx.net]

4 Responses

  1. yang penting nggak lepas dari 4 konsepnya Rasulullah SAW dalam memilih pasangan kan Mba Imma…..🙂

  2. Amiin…

    Doain supaya segera nikah tapi tanpa harus tergesa-gesa…..🙂

  3. Jika engkau ingin mendapatkan akhwat yang shalihah maka shalihkan dirimu dahulu wahai ikhwan … begitu pula bagi akhwat yang menginginkan ikhwan yang shalih maka shalihahkan dirimu dahulu wahai akhwat … pada dasarnya akhwat shalihah untuk ikhwan yang shalih, jika engkau memilih dunia maka engkau hanya mendapatkan dunia saja dan akan merugi selamanya di kehidupan yang abadi, jika engkau menginginkan akhirat maka akhirat akan kau dapatkan bersamanya pula dunia akan mengikuti.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: