“Di Akhir Sujudnya”

0980-298x300 “Mbok…tolong bawakan es pudingnya ke depan sekalian ya!” suruh Manda pada mbok Ijah.

Mbok ijah seorang nenek yang sudah hampir tiga tahun ini bekerja pada Manda. Manda merekrutnya karena mbok Ijah sudah tak punya sanak keluarga lagi. Suaminya meninggal tujuh tahun lalu karena sebuah penyakit yang dibiarkan begitu saja, TBC. Usianya juga tak jelas, saat ditanya berapa usianya ia pun hanya mengira-ngira 70 tahunan. Manda merasa iba pada nenek itu lantaran ia mendapatkan uang bulanan dari upah mencuci dari tetangga yang membutuhkan tenaganya. Itu pun kalau dibutuhkan, kalau tidak dibutuhkan nenek itu pergi ke pasar Kramat Jati untuk mengais sisa sayuran yang masih cukup segar kemudian ia jual kembali ke pembeli dengan harga yang jauh murah. Sehari pendapatannya hasil mengais tak tentu, paling banyak ia dapatkan 15 ribu rupiah saja itu pun sekali dua kali ia dapatkan. Sisanya dibawah itu.

Rumahnya sudah tak layak dijadikan tempat tinggal. Dindingnya cuma separoh terbuat dari bata yang belum sempat di lapisi semen, separohnya terbuat dari bambu yang dianyam. Meski keadaannya seperti itu tapi rumahnya teduh seteduh hati mbok Ijah yang tak iri dengan rumah para tetangga bak istana. Ia senang menebar senyum saat ia berjumpa dengan para tetangga. Banyak tetangga yang mengiba padanya tak ayal mbok Ijah mendapat sumbangan beras dari tetangga yang masih punya hati nurani. Disekeliling rumahnya tumbuh pohon pete yang berumur sekitar sepuluh tahunan, pohon rambutan yang siap dipanen, dan masih banyak lagi pohon lainnya yang tak jauh besarnya. Tapi itu semua bukan miliknya, milik tetangga yang masih egois untuk menebangnya. Mereka takut tak punya pohon lagi untuk di panen sendiri. Ya rumah mungil itu memang berada di tengah-tengah pohon itu dan tak satupun rumah yang bersebelahan dengannya. Itulah sebabnya rumahnya semakin sejuk dan teduh.

Mbok Ijah akhirnya mau membantu Manda setelah banyak pertimbangan yang dipikirkan mbok Ijah. Dengan bekerja di rumah Manda setiap hari mulai dari pagi hingga sore akan semakin memperbaiki perekonomiannya. 300 ribu tiap bulan sudah cukup baginya seorang diri. Daripada sebelumnya yang tak jelas pendapatannya dari buruh mencuci dan mengais sayuran di pasar. Mbok Ijah masih kuat melakukan pekerjaan rumah seperti menyapu, mengepel, melicinkan baju, dan memasak. Jadi mbok Ijah tak perlu mencuci karena tugas mencuci sudah diselesaikan oleh mesin.

Rumah Manda hari ini diramaikan oleh arisan keluarga yang setiap bulannya diadakan. Kebetulan bulan ini tepat di rumah Manda. Arisan yang dihadiri hampir 50 orang ini telah menguras tenaga Manda, suaminya, dua anak Manda yang menginjak belasan tahun dan terutama mbok Ijah. Semua sibuk mempersiapkan makanan, minuman hingga makanan penutup mulut. Terlihat mbok Ijah yang mondar-mandir dari dapur ke ruang tamu untuk membawakan semuanya. Manda dan suaminya sibuk dengan tamu-tamunya. Fatih dan Fena duduk-duduk sambil ngobrol dengan sepupunya. Hanya sesekali mereka membantu mbok Ijah hanya karena mbok Ijah takkuat membawanya.

“Mbok…sendoknya habis.” Fena mengisyaratkan agar segera ditambah.

Mbok Ijah tanpa cela dan tetap ikhlas menjalani itu semua dengan sabar. Terlihat peluh di dahinya, ia usap dengan kain serbet yang ada di tangannya.

“Nanti kalau tamu sudah selesai makan, semangka dan jeruknya bawa ke depan ya mbok.” Manda menyuruh dan mbok Ijah hanya menjawab dengan anggukan kepala.

Pertemuan yang berlangsung hampir 3 jam itu pun akhirnya selesai. Tapi belum selesai bagi mbok Ijah. Kini pekerjaannya semakin banyak dan rumit. Membereskan sisa makanan dan minuman, mencuci piring dan gelas serta yang lainnya yang telah terpakai, kemudian mengembalikannya seperti sedia kala. Keluarga Manda sudah tak peduli dengan pekerjaan itu, mereka telah capek, lelah dan mengantuk.

“Mbok setelah semua beres, mbok boleh pulang lebih awal. Besok pagi bisa diteruskan kalau sudah capek.” saran Manda, ibu muda itu. Saat itu memang jarum jam baru menunjukkan pukul 12 lewat 20 menit.

“Iya bu…” jawabnya dengan takzim.

Bagi mbok Ijah tanggung jawab adalah sebuah amanah, bukan karena takut oleh majikan. Ia tak peduli dengan raga yang sudah mulai renta dan tenaganya tak kuat seperti dulu waktu masih muda. Ia selesaikan semua tugas-tugasnya dengan baik. Setelah ia tunaikan sholat fardhu nya dan jam di dinding bercat putih itu menunjukkan pukul 2 siang, ia pun pulang tanpa berpamitan karena takut mengganggu istirahat keluarga Manda.Yah…ia menyadari bahwa memang ia sekarang semakin tua. Rasa lelah itu sangat terasa saat ia baringkan tubuhnya ke tempat tidur berkasur kapuk. Tanpa banyak pikiran dan berangan-angan ia pun langsung menutup mata untuk pergi ke peraduan.

Manda tersentak dari tidurnya saat suara petir menggelegar seraya memecahkan genderang telinga setiap insan. Ia langsung beranjak keluar kamar memastikan semua baik-baik saja. Ia terkejut semua pekerjaan rumah telah rapi. Rapi seperti sedia kala, rapi seperti tak ada acara apa-apa sebelumnya. Sungguh benar-benar beruntung Manda memiliki mbok Ijah yang bertanggung jawab.

“Mbok…Mbok Ijah…”panggil Manda pikirnya mbok Ijah belum pulang.

Dicarinya didapur, kamar mandi, hingga sampai ke depan tapi tak ia jumpai. Ia justru menjumpai diluar rumah langit gelap tertutup awan hitam yang berjalan berduyun-duyun siap untuk menubruk rumah-rumah dengan jutaan kilogram air. Gelap…gelap sekali…seperti suasana saat adzan magrib berkumandang padahal masih pukul 3 sore. Kilat menyambar kesana-kemari diikuti suara gelegar petir yang saling bersahutan. Manda bergegas masuk rumah menutup semua jendela dan pintu yang masih terbuka dan membangunkan seisi rumah.

“Ayah…lihatlah keluar. Sepertinya mau turun hujan lebat kali ini.” Manda berusaha membangunkan suaminya yang masih asyik dengan selimut tebalnya.

“Ah…biarlah. Ini kan sudah biasa, kota kita memang sudah jadwalnya hujan.” Sanggah suami Manda sambil menarik selimut menutupi seluruh tubuhnya.

Hujan pun akhirnya turun secara tiba-tiba dan semakin lama semakin deras. Manda sempat khawatir dan takut dengan sinar kilat yang terlihat dijendela kamarnya yang belum tertutup tirai sehingga nampak jelas sinar kilat itu. Tak lama kemudian bunyi petir yang cukup menggetarkan jantung berbunyi, efek dari sinar kilat itu. Lama Manda menanti hujan reda di kamar, ia pun menggerakkan tubuhnya keluar kamar untuk melihat kondisi sekeliling rumah. Dijumpainya ruang keluarga yang basah dengan air. Ditelusuri ternyata ada atap yang bocor pas dibelakang sofa. Ia lalu bergegas mencari ember di dapur untuk menampung sementara. Ternyata tak diruang tengah saja rupanya, didapur pun juga demikian. Setelah semua usai teratasi, ia mengintip teras depan.

“Masya Alloh…Ayah, cepat kemari!” Manda berinisiatif untuk membangunkan suaminya.

“Ada apa Ma?” jawabnya agak kesal.

“Lihat itu airnya mau masuk ke teras rumah kita.Sedikit lagi yah…cepat lakukan sesuatu!” Manda semakin panik di belakang jendela depan.

Suaminya pun membuka pintu dan mencari sesuatu untuk menghalau air agar tak masuk rumah. Ternyata rumah diujung gang pun telah panik penghuninya lantaran air telah masuk ke dalam rumah mereka.

“Fat…Fen…bangun sayang! Bantuin ayah nih, rumah kita mau kebanjiran.” Manda membangunkan anak-anaknya.

Semua keluarga Manda sibuk. Manda dan Fena menyelamatkan segala sesuatu yang menyentuh lantai agar tak basah kena banjir, mulai dari karpet permadani, buku-buku, semuanya diangkat ke tempat yang agak tinggi. Suaminya dan Fatih berusaha menghalau air agar tak masuk rumah.

“Mama cepat bantu kami, airnya masuk nih. Fatih ga bisa nahan. Sebelah sini tahan ya Ma.” Fatih mulai kewalahan menahan timbunan pasir yang dimasukkan ke dalam karung bekas beras.

“Ayah cepat. Masih kurang karungnya. Tambah lagi ayah.” Manda semakin panik dan menyarankan suaminya segera membuat karung pasir lagi. Tetangga pun juga sama, sibuk seperti keluarga Manda yang tak ingin banjir tahun ini terjadi. Segala cara telah dicoba, tapi kali ini memang benar-benar keluarga Manda harus ikhlas air hujan itu masuk ke dalam rumah.Hujan kali ini memang sedang tak bersahabat. Belum pernah selama Manda dan keluarganya tinggal di daerah itu mengalami banjir. Kalau pun hujan, hujan turun seperti biasanya. Entah ada apa di hari itu. Hujan semakin lama semakin deras diikuti gemuruh angina kencang menyelimuti desa itu. Suasana semakin menyeramkan tatkala di kebun buah milik Pak Nanang terjadi gumpalan angin yang kemudian membuat sebuah corong besar dan tinggi mirip pipa besar dan tinggi menjulang ke langit.

“Lihat sebelah sana! Apa itu angin puting beliung, Ma?” Tanya Fena dengan rasa ketakutan.

“Subhanalloh…Allohu Akbar…!!!” teriak Manda, suaminya dan Fatih hampir bersamaan.

“Semuanya tetap tenang. Kita banyak berdzikir ya!” suami Manda mencoba menenangkan mereka.

“Ayah, lihat! Anginnya bergerak. Allohu Akbar….Allohu Akbar…”Manda semakin panik.

Angin itu mulai bergerak pelan-pelan menjauhi pemukiman penduduk. Bersyukur di desa itu masih ada kebun kosong yang tidak dihuni penduduk. Coba kalau semua kebun itu penuh dengan rumah-rumah mungkin sudah rata dengan tanah. Sedikit demi sedikit angin itu bergerak ke selatan dan tak diduga angin itu menuju rumah mbok Ijah yang satu satunya rumah berada dikebun itu.

“Ma,bukankah rumah mbok Ijah ada disekitar angin itu?” Tanya suami Manda.

“Allohu Akbar! Iya yah…Anak-anak kita berdoa ya semoga angin itu cepat hilang.” Manda terus melafazkan asmaNya meski cuma bibirnya yang komat-kamit.

Angin itu ternyata tak bersahabat juga. Ketegangan semakin menjadi saat pohon rambutan yang siap dipanen tumbang dan merobohkannya pas di atas rumah mbok Ijah. Beruntung angin itu langsung menghilang setelah menabrak pohon rambutan itu.

“Mbok Ijah….!!!” Teriak semua orang. Tanpa pikir panjang para lelaki langsung menuju rumah mbok Ijah tak peduli dengan hujan yang membasahi tubuh mereka. Mereka ingin membantu mbok Ijah, mereka ingin tahu keadaannya. Ya, rumah itu kini sudah roboh setelah pohon rambutan itu roboh. Bangunan rumah itu memang sudah tua, setua penghuninya. Tak ada yang bisa diselamatkan. Mbok Ijah kini tinggal jasadnya saja. Keadaan semakin gaduh, saling mencaci maki dan menyalahkan. Kenapa mereka masih egois dengan diri mereka sendiri hanya karena pohon yang tinggi itu tak di tebang pada waktunya. Padahal mereka juga tahu sendiri itu akan membahayakan mereka terutama rumah mungil itu.

Kini semua tetangga kehilangan mbok Ijah, terutama keluarga Manda. Tak ada lagi mbok Ijah yang mencuci pakaian mereka, tak ada lagi mbok Ijah yang senang menebar senyum dan sapa pada semua orang, tak ada lagi mbok Ijah yang membantu urusan rumah tangga Manda. Ya…semua tinggal kenangan. Hati Manda terasa sangat pilu, kenangan termanis dari mbok Ijah takkan ia lupakan. Mbok Ijah adalah orang yang sangat bertanggung jawab dalam pekerjaannya. Ya, mbok Ijah melakukan itu semua karena sifat amanah yang ia miliki. Manda melangkahkan kakinya ke dapur, semua masih rapi. Tangan terampil mbok Ijah lah yang melakukannya. Dilihatnya lemari makanan, makanan yang diperuntukkan mbok Ijah ternyata masih utuh tak terjamah.

“Masya Alloh… Maafkan Manda ya mbok…” Sebulir air mata Manda jatuh dan membasahi pipinya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: