“Saat Ujian Itu Datang”

ikhwan-12-139x300 Pukul 10.13 handphone ku berdering. Kuraih dan kulirik, nama “abbiii sayang” tertera di layar. Kuangkat sambil kuraih Azhar, anak semata wayang kami agar ia tak lari kemana-mana.

“Assalamu’alaikum sayang…” kubuka pembicaraan.

“Wa’alaikumsalam wr wb. Ade baik-baik saja? Maksud mas, ade ga sakit bukan? Ini mas tiba-tiba meriang setelah 1 jam sampai dikantor. Makin lama ko makin tidak enak padahal sudah dikasih obat.” Cerita suamiku agak terbata-bata mengisyaratkan bahwa semuanya adalah benar keadaannya.

“Masya Alloh…Ya sudah mas buat istirahat dulu, mungkin obatnya belum bekerja. Jika memang kuat, lebih baik istirahat dirumah biar mas tenang.” Saranku wujud perhatian seorang istri pada suami.

Tiba-tiba pukul 12.25 sebuah sms datang yang dikirim suami yang isinya: “Mas ijin pulang dek,siapkan teh hangat saat mas sampai dirumah ya…”

Tepat pukul 13.30 suara gemuruh motor suami yang sudah khas ditelingaku sampai didepan rumah. Secangkir teh hangat telah kusiapkan,kusambut suamiku didepan pintu dengan azhar yang kugendong. Senyum, salam dan cium dia berikan kepada kami. Dan saat aku cium tangannya, subhanalloh…tangannya bersuhu diatas normal, panas. Aku ayunkan tanganku ke keningnya untuk mengecek suhunya. Yup…taksalah lagi,suamiku benar-benar demam tinggi. Aku kompres, kuselimuti, kusiapkan makanan dan minumannya sambil aku memperhatikan Azhar. Subhanalloh…dalam batin aku ingin merawat suamiku, tapi Azhar tidak mau diam dan tak jua menutup mata. Ia bermain kesana-kemari dan ia membutuhkan perhatian. “Maafkan ade ya mas…ade tidak bisa berbuat apa-apa.” batinku sambil melihatnya terbaring di tempat tidur, menggigil. Alloh…segera sembuhkan suamiku…

Penantian kami hingga pukul 4 sore tak membuahkan hasil, suamiku semakin menggigil dan demam. Aku pun memutar otak agar aku bisa berbuat sesuatu dalam kepanikan itu. Dan akhirnya aku putuskan untuk membawanya ke dokter terdekat. Azhar? Azhar aku titipkan pada tetangga yang kebetulan kami sangat mengenalnya.

Aku tuntun suamiku dan memberikan semangat agar bisa berdiri tegak dan berjalan. Belum sampai melihat motor kami di teras rumah, tepatnya diruang tamu tiba-tiba suamiku jatuh tak berdaya, lemas seperti tak ada kekuatan sedikitpun. Ya Alloh…aku coba tuk menuntun kembali ke tempat tidur. Ia takhenti-hentinya menyebut Asma-Nya, terus beristigfar dan air matanya menetes terus. Ada apa ini, pikirku semakin panik dan bingung. Aku coba untuk memanggil orang agar ada orang yang bisa membantu. Tapi suamiku menahanku, “Jangan tinggalkan mas, nanti jika terjadi sesuatu bagaimana? Mas mau ade disamping mas terus.”

“Sebentar saja sayang…ade mau minta bantuan orang didepan rumah.Cuma sebentar saja, tidak lama. Mas sabar ya…” bujukku padanya. Jika tidak, aku bisa terlambat. Aku harus cepat bertindak dan membantunya.

Beberapa menit kemudian aku berada disampingnya. Suami minta dihubungkan pada orang tua kami di Ponorogo dan Jombang. Suami minta aku mengabarkan keadaannya dan memohon maaf kepada keduanya. Suami pun sempat berbicara dengan mereka. Suami minta kepada mereka agar menjaga aku dan Azhar jika terjadi sesuatu.

Airmata ku pun menetes dan berharap suamiku tertolong, sembuh seperti sedia kala. Ya Alloh…ujian apa yang kau berikan kepada kami? Aku menahan emosiku walau sebenarnya aku sudah tak kuat. Aku belum siap jika aku harus kehilangan nahkoda kapal kami sekarang. Pernikahan kami belum genap 2 tahun, kami pun juga baru dikaruniai anak yang lucu yang baru berusia 10 bulan.

Suamiku semakin tak tahan dengan sakitnya. Semua tubuhnya kecuali kepalanya tak dapat digerakkan, kaku dan sakitnya luar biasa bak tubuh yang tertusuk-tusuk ribuan jarum tajam.

“Alloh….Laahaulawalaakuwwata illabillah…Astagfirullohhaladzim…Ashaduanla illahaillalloh wa ashaduannamuhammad darrosululloh…” ia terus menyebut-nyebutnya sambil menahan sakit.

Aku sentuh kaki dan tangannya, dingin. “Innalillahi…Alloh…jangan ambil suamiku saat ini, aku masih membutuhkannya…” batinku dengan harap. Suami terus berucap syahadat. Ia pun sempat memohon maaf padaku dan berpesan macam-macam agar aku menjaga Azhar.

“Mas pasti sembuh! Mas harus semangat untuk ade dan Azhar. Mas harus yakin mas pasti bisa melaluinya. Mas yang sabar ya…” Kucoba memberikan semangat sambil menghibur diri dan bersabar. Aku pegang erat tangannya yang semakin dingin sambil terus berdzikir menyebut asma-Nya.

Tak lama kemudian beberapa orang tetangga kami melihat bagaimana keadaan suami saat itu. Lalu tak lama kemudian membawa suamiku ke dalam taxi. Kularikan kerumah sakit terdekat agar segera mendapat pertolongan. Aku sertakan Azhar dan tetanggaku yang menggendongnya.

Alhamdulillah suami langsung mendapatkan pertolongan secepatnya setelah tim UGD di salah satu rumah sakit swasta membawanya masuk keruangan berbilik-bilik yang bertirai hijau. Dokter dan dokter muda dibantu beberapa perawat pun segera bertindak. Aku terus memberikan semangat pada nya dan terus mendoakannya. Aku serahkan semua pada Alloh dan aku percayakan mereka untuk memeriksa dan mengobati suamiku. Setelah aku lihat suamiku agak tenang setelah mendapat tindakan, aku mengurusi administrasi dan tes darahnya. Aku harus berbolak-balik untuk menyelesaikannya. Kulihat Azhar anak yang lugu itu cuma terdiam memandang bundanya mondar-mandir saat aku berlalu darinya. Dan taklama kemudian menangis karena minta digendong bundanya, haus pikirku.

Setengah jam kemudian hasil tes darah sudah ada ditanganku. Segera aku serahkan pada dokter yang memeriksa tadi. Dokter bilang trombosit suamiku berada diambang batas bawah, mendekati 150.000. Dokter pun menyarankan agar dirawat inap agar dapat di evaluasi untuk beberapa hari supaya penyakitnya dapat diketahui. Keputusan yang cukup berat memang, tapi akhirnya kami pun setuju dengan saran dokter. Sementara ini dokter bilang suamiku mengidap sakit suspect cikungunya. Virus penyebarnya disebabkan oleh nyamuk, semua bagian persendian sakit dan seperti lumpuh total. Esok harinya ibu datang dari Jawa untuk menemaniku merawat azhar. Maklum sejak menikah kami hanya tinggal sendiri tanpa ada yang membantu, saudara kami pun juga jauh tempat tinggalnya. Kemudian malamnya menyusul pula adik suami dari Jogja datang untuk menjenguk suami. Alhamdulillah…aku kini tak sendiri menanggung beban yang cukup berat ini.

***

Hari demi hari aku lalui dengan bolak-balik rumah sakit dan rumah. Alhamdulillah keadaan suamiku makin membaik, persendiannya sudah tak sakit lagi. Tapi entah mengapa trombosit suamiku makin hari makin turun padahal aku lihat tubuhnya semakin sehat.

“Dok, saya pulang saja ya. Biar rawat jalan saja…” suamiku mencoba untuk menyarankan pada dokter di hari ke-4 sejak dirawat. Tapi tak semulus keinginannya. Dokter melarang karena trombosit suami semakin turun.

“Bapak harus istirahat dulu karena trombosit bapak semakin hari semakin turun. Nanti jika sudah ada penunjukkan kenaikan baru saya bolehkan pulang.” Jawab dokter yang sepertinya sudah tak ingin lama-lama bersama kami karena pasien lainnya menunggu. Aku lihat raut wajah kecewa dan pasrah hinggap didiri suamiku. Ia yakin keadaannya baik-baik saja tapi ternyata Alloh belum mengijinkan.

Malam itu aku bermalam di rumah sakit untuk menemani suami karena adik iparku telah kembali ke Jogja. Disisa malamku, aku lantunkan ayat suci dan bersujud pada-Nya. Aku berhenti sejenak dalam lantunanku dan kulihat tubuh kaku suamiku. Tak terasa airmataku menetesi pipiku. Ya Alloh…aku memohon pada Mu, sembuhkan suamiku. Sampai kapan engkau memberikan cobaan ini? Masya Alloh…tak seharusnya aku berkata seperti itu. Alloh yang berhak memberikan ujian ini kepada hamba-hambaNya yang Dia mau. Seharusnya aku ikhlas dengan cobaan ini, siapa tahu Alloh memberikan peringatan kepada keluarga kami atau justru memberikan keberkahan setelah ujian ini jika kami bersabar. Kufokuskan kembali pikiranku untuk membaca qur’an lagi.

Sekitar pukul 1 malam HP ku berdering.

“Obat panase Azhar nang endi, nduk?” Ibu menelpon ku menanyakan obat penurun panas milik Azhar ada dimana.

“Masya Alloh…Azhar panas, bu?” kepanikanku mulai lagi. Lalu ibu mencoba menenangkanku. Selepas sholat subuh, aku ijin ke suami untuk pulang ke rumah karena aku mengkhawatirkan Azhar. Lalu suami juga mengijinkan aku untuk membawa Azhar keklinik terdekat di rumah. Kami khawatir jika Azhar harus terinfeksi juga seperti ayahnya.

Sampai di rumah aku langsung tengok anakku Azhar. Badannya masih panas meski sudah diberi obat penurun panas dari bidan. Tanpa pikir panjang aku ajak ibu untuk membawa Azhar ke klinik. Setiba diklinik dokter memvonis Azhar gejala DBD karena dari suhu tubuh yang terus naik, tanpa ada kemajuan dan bintik-bintik merah didaerah dadanya. Tapi dokter menyarankan agar tidak dirawat inap di rumah sakit, cukup dengan makan dan minum secara teratur dan minum obat sampai habis. Alhamdulillah…aku bersyukur meski sebenarnya aku khawatir dengan keadaan Azhar.

Setelah Azhar tenang tertidur sehabis minum obat, aku melepas lelah sebentar di rumah. Aku pikir nanti sekitar jam10 aku kembali ke rumah sakit setelah keadaan Azhar kelihatan membaik. Kumenerawang jauh di atas tempat tidur di samping Azhar. Uffh…kucoba menenangkan diri dengan ujian ini.

Pukul 8 lebih tanda dering sms hp ku berdering, suami memintaku agar segera kembali ke rumah sakit. Ia membutuhkanku. Baru saja aku beristirahat sejenak lalu secepatnya aku pun bersiap-siap untuk kembali ke rumah sakit. Segera aku gas motor butut suamiku seraya aku terlupakan akan keadaan Azhar saat itu. Dalam perjalananku menuju rumah sakit, aku terus menyebut asmaNya. “Imma harus kuat! Imma harus sabar!Allohu Akbar!!!” berkali-kali aku katakan untuk menghibur diri agar aku terus bertahan dengan cobaan ini.

Sesampainya disana, aku melihat tubuh suamiku tergeletak dia atas tempat tidur sepadan kelas II sedang menggigil kedinginan. Kusentuh keningnya, subhanalloh…panas sekali. Kemana tubuh yang kemarin ceria, kuat dan sehat, kemana senyum yang kemarin senantiasa tersebar, kemana canda tawa yang kemarin menghias diruang kamar ini? Yang kulihat justru sebaliknya. Suamiku cuma minta dikompres dan diselimuti karena obat turun panas sudah diminumnya 2 jam yang lalu. “ Sabar ya mas…mungkin obatnya sedang bekerja sekarang.” Hiburku lalu kemudian ia menutup mata. Ia kini semakin tenang setelah kedatanganku. Aku lihat ia terbaring lemas dan masih menggigil, aku yakin sebenarnya ia menahan sakit itu.

Aku hubungi ibu dirumah menanyakan keadaan Azhar. Ternyata Azhar masih terus panas. Setelah minum obat, panasnya turun sebentar. Kemudian naik lagi padahal tempo minum obat masih jauh. Makan pun juga susah kata ibu. Ibu cuma bisa menggendong Azhar agar tidak rewel, diajaknya jalan-jalan disekitar rumah.

Suami mengetahui keadaan Azhar, aku pun disuruh pulang saja untuk merawat Azhar. “Ade urus Azhar saja dirumah, mas akan baik-baik saja InsyaAlloh…nanti jika sampai sore masih panas bawa ke rumah sakit agar diperiksa darahnya.” suami menyuruhku seraya menutup kebenaran bahwa ia sebenarnya membutuhkanku. Tapi ia lebih mementingkan keadaan Azhar. Azhar masih kecil, dia lebih membutuhkan bundanya apalagi saat sakit seperti ini.

“Bener mas akan baik-baik saja? Ya sudah….ade pulang ya. Tapi ingat jika nanti mas membutuhan ade lagi atau terjadi sesuatu, segera hubungi ade ya…!Ade akan balik lagi nanti sore jika Azhar masih panas.” Jawabku.

Aku pun kembali lagi pulang kerumah melihat keadaan Azhar. Hingga sore hari keadaan Azhar belum membaik juga dan akhirnya aku putuskan untuk membawa ke rumah sakit dimana suami dirawat untuk dicek lebih intensive agar tidak terlambat.

Doa dan harapan takhenti-hentinya aku panjatkan pada Nya. Azhar…Ayah….Jangan menyerah! Kalian pasti sembuh dan bunda pasti bisa melampaui ujian ini dengan baik. Aku mengharapkan keajaiban dari Alloh segera datang. Paling tidak ada berita bagus dari dokter tentang hasil tes darah Azhar. “Alloh…” mataku berkaca-kaca.

Syukur Alhamdulillah aku langsung mendaratkan bibirku ke pipi mungil Azhar ketika dokter menyatakan Azhar bukan sakit DBD seperti ayahnya. Ibu pun ikut tersenyum puas dengan hasil itu. Aku langsung mengabarkan pada suami tentang hasil lab itu. Dan hari itu kami bisa sedikit tenang. Terimaksih ya Alloh…aku harap ini adalah dimulainya keajaiban dari-Mu. Malam itu aku terpaksa meninggalkan suamiku sendiri tanpa ada yang menemani, baru malam itu ia sendiri. Aku bangunkan suami di sepertiga malam lewat sms.

“Ayah…kita sholat lail yuk ayah. Kita berdoa sama-sama agar Alloh menolong kita. Semoga Alloh mendengar jeritan hati kita dan mengabulkannya. Ayah sholat disana, bunda sholat disini ya…”. Aku dan suami mencoba untuk bersujud pada Nya. Kami berdoa, bertasbih, dan memohon pada Nya agar diberikan yang terbaik.

***

Pagi yang cerah, bau embun yang masih khas tercium hidungku, segar. Aku semakin semangat dari hari sebelumnya seperti ada kekuatan baru yang masuk dalam tubuhku. Tak ragu lagi akupun langsung memanasi motor kesayangan suami dan langsung cabut dari rumah setelah berpamitan ibu. “Assalamu’alaikum….” Ku awali menyapa suami yang sedang membaca Qur’an dengan berbaring di tempat tidurnya.

“Wa’alaikumsalam Wr. Wb. Azhar gimana?” Jawabnya dengan kekhawatirn Azhar.

“Alhamdulillah Azhar semakin membaik dari hari sebelumnya. Masih panas, tapi tidak seperti kemarin-kemarin. Mas jangan khawatir ya…!” aku coba menenangkannya.

“Ya sudah sekarang ade coba tanyakan berapa trombosit mas hari ini di ruang perawat ya!” pintanya.

“Bismillahirrohmanirrohim…hari ke-7 suami dirawat di rumah sakit. Apakah trombositnya masih turun lagi? Ya Alloh…Semoga tangan Mu mengubah segalanya.” batinku. Segera aku keluar kamar kelas II itu dan kulangkahkan kakiku ke ruang perawat.

Beberapa menit kemudian aku langsung kembali ke kamar suami sambil menahan senyuman setelah seorang perawat menunjukkan hasil lab padaku. Aku terdiam sejenak melihat suamiku. “Dek, gimana hasilnya?” Tanya suamiku penasaran.

“Mas…yang sabar ya tinggal di rumah sakit.” Jawabku dengan memasang wajah sedihku sambil kupegang jemari tangannya..

“Pasti turun lagi.” Duganya dengan sedih.

“Kira-kira trombosit mas masih turun atau sudah naik?” aku coba memberikan pertanyaan.

“Turun jadi berapa?” tanyanya semakin penasaran.

Dengan senyuman terindahku aku berikan lalu kujawab, “Alhamdulillah…sudah naik sayang. Alhamdulillah hari ini jadi 86.000.”

Suamiku langsung membalas dengan tangannya mengusap-usap kepalaku lalu memencet hidungku. “Huhh…uh…kamu pinter juga ya…” Kami saling memandang dan tersenyum tersipu malu. Kami sama-sama tenggelam dalam ketenangan sembari bersyukur atas nikmat yang Alloh berikan. Begitu juga bintik-bintik merah yang ada di tubuh Azhar yang disinyalir Azhar terkena campak, berangsur-angsur surut menghilang.

***

“Dek…siapin baju dan celana mas! Mas mau berangkat pagi-pagi hari ini.” Pintanya setelah melihat jarum jam menunjukkan pukul 6 lewat 5 menit. Bekal makan siang yang biasanya untuk suami juga telah kusiapkan. Rutinitas di pagi hari kini mulai kembali setelah hampir 2 minggu tak kami jumpai di rumah. Tepat pukul 06.30 motor suamiku bergemuruh kemudian berlalu dariku. Lamunanku mengingatkanku kembali akan ujian itu datang dan kini telah kami lalui. Sebuah nikmat yang luar biasanya, terimakasih ya Alloh…

***

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: