Kaya Mendadak ala FLP

Ahad, 4 Januari 2009 adalah hari yang membuat FLP (Forum Lingkar Perampok) menjalankan aksinya yang pertama kali. Tuntutan sebuah pelatihan yang mengharuskan mereka melakukan itu semua. Rencana kali ini adalah perampokan sebuah Cabang Bank BNI yang terletak di Kampus UI Depok. FLP beranggotakan 5 orang. Kepala perampok (gembong perampok) bernama Ronald, Wakil perampok bernama Herna, empat lainnya adalah anggota bernama Ayu, Iin, dan Imma.

FLP mengatur strategi untuk menjalankan aksinya itu agar berhasil dan tidak diketahui aksinya oleh pihak berwajib. Berbagai ide muncul di setiap kepala para personil FLP.

“Bagaimana teman-teman. Ada yang punya ide jitu melumpuhkan Bank itu?” Tanya kepala perampok pada anggotanya. Keadaan hening sejenak, semua menguras otak mungkin saja mereka menemukan ide cemerlang.

“Ehm…bagaimana jika kita bom saja bank itu?” saran Ayu.

“Gimana caranya kita ambil uangnya Yu? Gedung itu pasti sudah hancur semua.” balas Imma dengan geleng-geleng kepala.

“Iya ya…”

“Saya punya ide. Kita lakukan di tengah malam saja. Kan enak tidak ada orang. Kita bisa leluasa mangambil uangnya dan tanpa di ketahui siapapun. Gimana, mudah kan?”Saran Iin.

“Tidak bisa! Kita lakukan di sore hari saat Bank akan tutup saja. Kalau malam hari terlalu mudah. Nanti cepat selesai ceritanya. Kan tidak asyik jika begitu-begitu saja, ga seru. Jadi kita susun rencananya di sore hari sekitar pukul tiga.” Ronald angkat bicara.

“Jangan pukul tiga sore, kapten. Kalau saya mati nanti, belum sholat Asyar dulu dong.” Imma membantah perintah.

“Dasar sok alim, masih aja mikirin sholat sebelum mati.” Ejek Herna.

“Eh kan bisa berdoa dulu sama Alloh semoga rencana kita berhasil dan kita tidak mati karena ditembak polisi. Benar kan,kapten?” Imma tak mau kalah.

“Sudah-sudah! Pokoknya saya sebagai kepala perampok memutuskan, kita lakukan pukul tiga tepat. Mau sholat dulu atau tidak itu urusan kalian. Kalian ini tidak bisa diandalkan. Sekarang gimana saran dari mbak wakil perampok?”

Herna hanya nyengir saja karena ia benar-benar blank tak ada ide sedikitpun. Herna tugasnya hanya mengekor saja dengan apa kata kepala perampok. “Saya bagian menembak dan membunuh saja. Hehehe…”

“Itu bukan ide namanya…” Ayu mengejek. Kemudian suasana kembali hening. Mereka saling beradu mata kemudian mengangkat ke dua bahunya seraya tak ada lagi ide yang muncul di benak mereka.

“Ok, setelah saya pikir-pikir begini saja aksi kita. Kemari, semuanya mendekat. Ssst…sst…” Kepala perampok kemudian membisikkan idenya sambil jari telunjuknya menunjuk-nunjuk ke wakil, dan ke tiga anggota perampok yang lainnya. Mereka membalas dengan saling mengadu mata, membelalak, menggelengkan kepala. Keringat dingin mulai meleleh di dahi dan hampir sekujur wajah cantik-cantik mereka. Bedak dan gincu yang mereka pakai mulai leleh juga mengikuti aliran keringat dingin mereka. Gerakan kaki yang hampir berirama sama-sama. Mulut komat-kamit kepala perampok menjadi pusat perhatian mereka. Catatan di benak mereka penuh dengan kata demi kata laki-laki berpostur tubuh kecil, hitam, dan pendek itu. Detik demi detik hingga menit makan menit membuat detak jantung mereka semakin berlarian.

“Siap kalian dengan aksi besar ini?” gertak kepala perampok dengan suara lantangnya.

“Siap!!!” balas semua anggota perampok dengan semangatnya meski sebenarnya ada yang ragu melakukan rencana besar itu.

*

Ayu masuk ke dalam Bank yang lima belas menit lagi akan segera di tutup. Ia akan menemui kapala bank untuk menanyakan simpan pinjam yang akan di ambilnya.

“Tolong saya pak, saya benar-benar membutuhkan uang ini untuk biaya kuliah saya. Sudah dua semester saya tidak membayarnya lantaran orang tua saya sudah meninggal. Sedangkan minggu depan saya harus sidang skripsi dan syaratnya saya harus lunasi biaya itu.”

Jemari tangan kanan laki-laki itu menari di atas meja hingga menimbulkan nada yang enak didengar. Matanya mengamati Ayu dari ujung jilbabnya hingga sepatu warna pink yang dikenakannya, serasi dengan gaun putih bunga-bunga pink yang digunakannya. Wajahnya putih bersih berkaca mata minus dengan tahi lalat di bawah mata kirinya. Cantik juga pikirnya. Ayu memasang senyum terindahnya dan menyiapkan rayuan maut berikutnya.

“Saya mohon pak…” Ayu mulai memegang jemari laki-laki itu yang tadi menari-nari kemudian terhenti.

“Tiga juta rupiah tidak sedikit. Apa jaminannya?”

“Saya mengajar di kursusan bahasa Inggris. Tiap bulan saya akan sisihkan seratus ribu buat bapak.”

“Itu tidak cukup! Tiap bulan lima ratus ribu. Kamu sanggup?”

“Mana mungkin segitu pak. Saya cuma dikasih empat ratus ribu oleh mereka. Belum untuk biaya hidup saya, kos-kosan saya, makan, minum, buku, ….”belum selesai meneruskan kata-katanya, laki-laki itu kemudian berdiri.

“Kamu cantik, kamu bisa mendapatkan itu semua asalkan….” Laki-laki itu menuntun Ayu ke sofa di samping kanan meja kerjanya.

Pelan-pelan ia buka tas jinjingnya yang berwarna merah kemudian ia ambil sapu tangan yang menyelinap diantara buku-buku karya Koko Nata. Hap…dengan berbagai cara akhirnya Ayu mampu melumpuhkan laki-laki mata keranjang itu dengan sapu tangan yang sudah dikasih obat bius itu. Dengan sigap laksana seorang prajurit, ia juga mampu melumpuhkan keamanan seluruh gedung Bank dengan membunuh alarm pusat.

“Planning A sudah selesai Kapten!”

Di tempat parkir di dalam bis, “Ok! It’s time a Planning B!”

Imma masuk ke dalam gedung dengan tas biru yang ditentengnya. Peluh di dahinya menyeruak keluar seolah ia telah berlarian mengelilingi lapangan berkali-kali mengejar waktu. Sampai di depan pintu masuk peluh itu semakin deras dan hatinya berdebar-debar. Batinnya ia tak sanggup melakukan semua ini.

“Maaf ibu, Bank nya mau tutup. Ibu silahkan datang lagi besok pagi.” Laki-laki kekar berkumis tebal berbaju putih bercelana biru itu telah menahannya.

“Pak, saya jauh-jauh dari Depok Timur mau mengambil uang ko dilarang. Saya butuh segera untuk biaya kelahiran saya ini. Lihat nih, bapak tidak lihat perut saya buncit ini?“

“Iya Bu, saya tahu. Ibu kan bisa ambil lewat ATM. ATM ada dibilik kiri, mari saya antar.”

“Saya ambilnya tidak sedikit. Makanya saya harus ambil di dalam. Minggir, Bapak mau tanggung jawab kalau saya melahirkan disini?” sekuat tenaga ia dorong tubuh besar dan tinggi itu.

“Maaf bu. Ibu tidak bisa!” laki-laki itu langsung menarik pergelangan tangannya.

Imma menguras otaknya, ternyata ide nya belum mempan mengelabui laki-laki itu. “Aduh…Tolong saya pak. Perut saya kontraksi. Sakit sekali ini.”Imma beralih pegangan tangan laki-laki penjaga pintu Bank itu. Laki-laki itu akhirnya panik dan berusaha membantu Imma.

“Apa yang bisa saya bantu Bu? Saya belum pernah menolong orang melahirkan.” Jawab laki-laki itu semakin paniknya.

“Saya minta tolong diantar ke mobil. Aduh…Cepat pak, saya sudah tidak kuat lagi.” Pegangan Imma semakin kuat dan tak mungkin terlepas sambil terus menarik nafas panjang. Laki-laki itu terpaksa mengantarnya ke mobil yang tak jauh dari Bank. Didalam mobil kapten telah siap siaga melumpuhkan laki-laki itu

“Ok, kini saatnya kita beraksi. Siap teman-teman?” Seru kapten

“Siap!” jawab serentak dengan menggabungkan tangan kanan mereka secara bersama-sama dengan membentuk lingkaran kecil kemudian mengayunkannya ke atas.

Ronald, Herna, dan Iin masuk ke Bank melalui pintu masuk dengan senjata laras panjang yang sudah disiapkannya. Keamanan sudah ada ditangan mereka tinggal bagaimana mengambil brangkas uang dengan mulus adalah jalan mereka terakhir.

“Baiklah semua tangan di angkat ke atas kepala! Kami harap tak ada yang melawan. Siapa yang melawan, akan merasakan seperti ini. Door!!!” seru Ronald sambil menodongkan senjatanya ke atas kemudian meluncurkan satu pelurunya ke atas kepalanya.

“Buka brangkasnya dan masukkan semua uang ke dalam tas ini” Iin mulai beraksi ke salah satu teller dengan menyerahkan tas ransel miliknya.

Herna yang melihat bertumpuk-tumpuk uang jutaan rupiah itu matanya langsung membelalak dan tak kedip sama sekali. “Heh mbak cantik, bagi dong uangnya. Hutang saya pada rentenir banyak banget nih..”

“Hush! Ini ga bercanda, kita lagi kerja. Dasar, mata duitan!” Kilah Iin.

“Waktu kita tinggal dua menit. Cepat!” Suara kapten Ronald berkumandang nyaring.

“Semua sudah selesai bos!” seru Iin.

Anggota FLP dengan cepat meninggalkan ruangan ber AC itu. Dilihatnya semua pegawai Bank yang tadinya panik tiba-tiba merasa puas, tak ada korban yang jatuh.

Bus kuning yang dikendarai Imma segera tancap gas setelah semua anggota masuk ke dalamnya. Hanya beberapa detik tiba-tiba bus kuning mereka menghilang ditelan bumi. Di dalam bus, mereka bersorak sorai. Aksi mereka telah berhasil.

*

“Maaf mbak, uang yang mbak bayar ke saya adalah uang palsu.” Seru seorang kasir tempat perbelanjaan ternama di Depok kepada Ayu yang sudah berbelanja sejumlah Rp 700.000,-.

“Saya tidak mau menerima uang kamu. Uang kamu palsu!” Seru seorang rentenir kepada Herna yang mempunyai hutang lebih dari tiga juta.

“Anda kami tangkap karena diduga memalsukan uang.” Seru Pak Polisi yang menemui Ronald di rumahnya.

*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: