Hallofrans

Riuh suara anak-anak belasan tahun bercampur suara musik disco di sebuah rumah mewah membuat penglihatan Frans beralih. Kini langkah Frans lebih tertarik dengan suara itu daripada tujuan akhirnya di rumah. Ia intip rumah itu melalui sela-sela jeruji besi yang hampir mengelilingi rumah mewah itu. Penglihatannya tak begitu jelas karena malam telah larut dan lampu-lampu di stel redup agar suasana semakin romantis di dalam rumah itu. Tampak di depan pagar yang dijaga satpam berhenti mobil-mobil kelas atas lalu turunlah seorang dua orang yang berpakaian aneh-aneh hampir mirip pemuda-pemuda yang ada di dalamnya. Rasa penasaran Frans semakin meletup-letup. Ia mencari ide bagaimana agar ia bisa bergabung bersama mereka.

Disobeknya sekuat tenaga jeans favoritnya sejak SMA di bagian paha kanan dan kiri ditambah juga bagian kedua lututnya. Dirapikan rambut kucelnya dengan sedikit balutan air liurnya, bagian tengah atas ia berdirikan agar mempunyai kesan nge”Pank”. Ia ambil kertas di tas ranselnya, digunting dan dilubangi bagian matanya. Ia kenakan kertas itu untuk menutupi matanya. Kini ia yakin ia bisa lolos dari perhatian satpam yang selalu mengecek setiap orang yang masuk.

Frans terlena dengan alunan musik yang dijajakan. Frans tergiur dengan minuman yang memabukkan. Frans tergoda dengan gadis-gadis yang mempesonanya. Dan gadis-gadis yang lugu dan bodoh itu jatuh dipangkuannya.

“Hai cantik, you’re so beautiful. Mau berdansa dengan ku?” Frans berhasil membujuk salah satu diantaranya, Angel. Mereka menikmati alunan musik slow, lampu redup semakin menambah suasana menjadi romantis. Sedikit demi sedikit Frans berhasil mengajaknya ke suatu ruangan. Frans menggiringnya ke salah satu kamar pemilik gawe acara pesta itu. Di kamar ukuran 5×5 meter dengan fasilitas lux, tempat tidur bertirai, springbed empuk kelas tinggi, sprei dan coverbed yang cantik berwarna putih variasi silver. Ia luncurkan rayuan mautnya, mencumbunya, dan dengan mudahnya menodai Angel. Usai menodainya ia lanjutkan dengan tugas selanjutnya. Frans mengambil sebuah kapak mengayuhkannya tepat dileher Angel saat gadis itu terlentang di tempat tidur. Darah mengucur deras menghiasi sprei warna putih silver. Angel yang hina itu sudah tak berdaya. Mati mengenaskan dengan sorot mata tajam yang masih membelalak ke arah Frans.

Frans berhasil menghilangkan semua bukti kejadian itu dengan rapi. Frans pasang wajah tak berdosanya kembali ke kerumunan pesta topeng itu. Kembali ia menggoda gadis yang dirasa bodoh dan lugu. Kali ini giliran Maya, siswa SMA kelas 3 yang bulan depan akan mengikuti Ujian Akir Nasional. Mulanya Maya tak gampang di kelabui dan dirayu. Tapi Frans jauh lebih pintar dan gesit dalam hal rayu-merayu gadis. Ia berhasil menggiring gadis itu ke tepi kolam renang dan tak ada seorangpun yang mengetahui keberadaan mereka. Hanya sinar rembulan dan suara gemericik air kolam renang yang menemani mereka. Frans berhasil merayu, mencumbunya, kemudian menodainya tanpa ada perlawanan sama sekali. Karena Maya cantik, ada keinginan Frans untuk membiarkan dia tetap hidup dan dijadikannya kekasih pujaan hatinya. Tapi…ia langsung tersadar bahwa misinya belum selesai. Secantik apapun dia, dia akan tetap menghabisinya. Diambilnya kapak bekas leher Angel, kemudian diayunkan ke punggung Maya. Maya tersadar dan melihat ulah Frans langsung melakukan perlawanan meski punggungnya telah terluka. Frans sudah berpengalaman, meski mendapatkan perlawanan Frans tetap menjadi pemenangnya. Maya akhirnya berakhir setelah lehernya terpotong oleh kapak Frans. Frans tertawa terbahak-bahak, ia bangga bisa berhasil melakukannya.

“Keluar dari semak-semak itu cepat! Aku tahu kamu ada disana melihat semuanya. Aku hitung sampai tiga, kalau tidak kamu akan berakhir sama kayak gadis bodoh ini.” tertawanya terhenti karena menyadari ada seseorang yang menguntit dan mengetahui pembunuhan itu.

“Satu…dua…tiga…” Frans memulai hitungannya dan didapati seorang laki-laki lari terbirit-birit dari semak-semak rerumputan di taman tepi kolam renang. Frans lantas mengejarnya kemudian melempar kapaknya yang jatuh tepat di punggung laki-laki tak dikenalnya itu. Luka punggung laki-laki itu menganga dan terlihat bagian dalam dagingnnya karena begitu kerasnya lemparan kapak yang ia gunakan. Frans mengibas-ngibaskan tangannya ke jeans biru dongker yang dipakainya tanda tugasnya telah usai.

Frans kembali ke dalam ruang utama dimana pesta itu masih berlangsung. Diamatinya, semua masih aman-aman saja dan tak ada yang menyadari bahwa dua gadis plus satu orang laki-laki tak dikenalnya telah tewas di tangan Frans. Kini Frans mencari ide agar bisa menggaet lagi gadis bodoh dan lugu yang akan menjadi korban berikutnya. Lima menit sepuluh menit lima belas menit, Frans kelimpungan karena belum mendapatkan gadis yang diinginkannya. Waktu tinggal tiga puluh menit lagi menjelang pukul dua belas tepat. Saat jarum detik menit dan jam tiba di angka 12 tepat, tugasnya akan usai. Jika ia tak segera pergi dari tempat itu, semua kelakuan Frans akan diketahui semua orang padahal ia harus mendapatkan satu lagi korbannya.

Frans hampir putus asa. Akhirnya ia putuskan untuk mendekati seorang gadis yang tak begitu cantik, berkacamata tebal sedang melamun sendirian duduk di tangga depan pintu utama. “Ko merenung disini sendirian. Ga ikut gabung di dalam?” Frans mengawali pembicaraan dan membuat gadis itu terhenyak kemudian.

“Ah…disini lebih menyenangkan bisa melihat bintang dan bulan di langit. Melihatnya membuat hatiku teduh.“ Pandangannya mengarah ke langit dengan mata berkaca-kaca di balik kacamatanya yang tebal. Ada raut wajah sedih yang disimpannya dalam-dalam.

“Kamu sedih?” Frans mencairkan suasana.

“Ini sudah menjadi bagian dari hidupku. Kamu tak perlu tahu dan ikut campur.” Balasnya dengan setitik embun menetes dari matanya yang sipit.

“Kenalkan namaku Frans. Kau?” Frans mengulurkan tangan kanannya ke gadis itu.

“Panggil saja aku Sofi.” Sofi membalas uluran tangan Frans.

Dilihatnya jam tangan Frans merk Alba, sepuluh menit lagi. “Aku tahu tempat yang lebih indah dari tempat ini agar hatimu akan semakin tenang.” Ajaknya.

“Dimana? Aku ingin tempat yang takppernah aku lihat sebelumnya.”

“Ya, aku yakin kamu belum pernah melihat sebelumnya. Ayo ikutlah denganku.”

“Tapi…bagaimana dengan teman-temanku disana? Mereka masih merayakan pesta yang kubuat.”

“Sudahlah ini lebih penting karena sebentar lagi matahari akan menyapa kita. Jika itu terjadi tempat itu takkan indah lagi.” Frans membujuknya kembali.

Sofi ragu, tapi akhirnya ia pun menuruti ajakan Frans. Tak lama kemudian mereka menghilang dari pandangan. Frans mengajaknya menelusuri jalanan, gang-gang sempit, pekarangan kosong, hingga perjalanan itu berakhir di tepi sungai. Frans mengajaknya bercumbu dan akhirnya menodai gadis itu. Tugas terakhir ia ambil senjata unggulannya, kapak berdarah. Ia langsung ayunkan mata kapak itu tepat dileher Sofi. Sofi tak berdaya, kemudian Frans menjatuhkannya ke dalam sungai beserta kapak berdarahnya. Frans tersenyum nyengir. Kini ia telah berhasil melaksanakan semua tugasnya. Frans kembali ke tempat istirahatnya dan mengakhiri harinya dengan tidur pulas.

***

“Agh…..!!!” suara keras menggegerkan seisi rumah itu berada di lantai dua di kamar Sofi. Semua orang menuju suara itu berasal. Ane teman Sofi pingsan di depan pintu kamar Sofi. Semua pandangan tertuju pada seorang gadis yang berlumuran darah tepat di atas tempat tidur Sofi.

“Agh….!!! Tolong!” suara keras muncul lagi, kali ini di lantai bawah belakang rumah dekat dengan kolam renang. Inah pembantu rumah itu menemukan dua orang laki-laki dan perempuan tewas mengenaskan diantara semak-semak rerumputan.

“Sofi mana? Sofi mana?” Tanya mama Sofi seorang wanita karir yang berhasil menjadi manager sebuah perusahaan bertahun-tahun kepada semua teman-temannya dan tak seorangpun mengetahui keberadaannya.

“Saya tadi lihat non Sofi keluar rumah sendirian pukul 12 tepat, Nyonya. Saya tanya mau kemana, dia bilang ke suatu tempat yang indah dan saya disuruh diam saja.” Seorang satpam penjaga menjelaskan.

Saat itu juga rumah itu sudah dikelilingi police line warna kuning, polisi berduyun-duyun mengamankan tempat itu dan semua yang berada di TKP di interview satu per satu. Headline surat kabar harian di kota itu menuliskan beritanya dengan judul Rumah Misteri. Pembunuhan tiga orang secara bersamaan dan sampai sekarang belum diketahui pembunuhnya. Sofi, anak pemilik rumah menghilang hampir seminggu.

Tepat di hari ke-5 ditemukan mayat perempuan tersangkut di antara sampah-sampah sungai yang menggenang. Mayat yang hampir terpotong lehernya itu disinyalir bernama Sofi.

***

Sepuluh tahun yang lalu seorang laki-laki berusia dua puluh lima tahun melamar bekerja di sebuah perusahaan ternama di kota itu. Setelah perusahaan yang kesekian dia mencoba melamar dan selalu di tolak barulah perusahaan itulah yang mau menerimanya.

“Nama saya Fransisco Renald, panggil saja Frans.” Ia menjawab pertanyaan seorang wanita cantik paruh baya di depannya dengan santun.

“Single?” tanyanya sambil membuka-buka beberapa berkas milik Frans. Frans hanya menjawab dengan anggukan.

“Sudah pernah bekerja sebelumnya?”

“Belum.” Frans mencoba memandang wajah wanita itu. Begitu cantik dan mempesona. Tubuhnya yang seksi dan menggoda membuatnya enggan mengedipkan matanya. Tapi akhirnya Frans tersadar saat wanita itu membalas pandangannya. Beberapa saat mereka beradu mata dan kemudian Frans mengalihkan pandangannya kembali ke sebuah kalender yang sedang berdiri angkuh di atas meja.

“Baiklah, Anda bisa langsung bergabung dengan kami mulai besok.” Setelah beberapa menit hening, kata-kata itu muncul dari bibir merah manager cantik itu.

“Oya, besok Anda juga harus lembur karena produksi kami saat ini sedang tinggi, permintaan customer menuntut banyak.”

“Baik bu, saya siap.”

Esoknya ia dengan semangat kerja berupaya memberikan yang terbaik untuk perusahaan itu. Tapi ada yang membuatnya bertanya-tanya, mengapa teman-temannya tak ada yang lembur sama seperti dia. Frans pegawai baru, tak mungkin ia menolak perintah managernya.

Malam beranjak larut, pegawai mulai meninggalkan perusahaan satu per satu. Frans bertanya-tanya apa lagi tugas yang akan diberikan sehingga ia belum boleh pulang oleh manager cantik itu.

“Frans, ke ruangan saya sekarang ya!” ajaknya.

“Silahkan duduk. Maaf jika saya melarang anda pulang dulu karena saya masih membutuhkan anda.”

Tak disangka manager cantik itu mencurahkan semua isi hatinya kepada orang yang baru dia kenal bernama Frans. Suasana semakin mendukung karena tak ada orang lain lagi berada di kantor itu. Mereka berdua terbawa suasana hingga akhirnya Frans tergoda dengan rayuan wanita cantik itu. Frans yang lugu itu akhirnya melepaskan masa jejakanya dengan managernya. Hal yang tidak ia duga-duga sebelumnya. Manager cantik itu menyadari kesalahan yang telah ia perbuat. Ia telah mengkhianati suaminya dan anaknya perempuan yang baru berusia tujuh tahun. Manager itu mencari ide bagaimana ia bisa menghindari masalah yang akan dihadapinya nanti. Ia keluar dan mencari sesuatu di gudang kantor dan di sudut kiri gudang itu bertengger sebuah kapak. Spontan ia ambil kapak itu karena hanya senjata itu yang bisa membuat Frans habis ditangannya. Manager cantik itu berhasil mencabik-cabik tubuh Frans dengan kapaknya. Lukanya dimana-mana hingga tak mungkin lagi Frans bisa selamat.

“Dasar laki-laki bodoh! Kenapa kamu mau sama aku yang sudah bersuami dan punya anak. Rasakan ini.” ia terus mencabik-cabiknya meski nyawa Frans sudah terpisah dari jasadnya. Wanita itu melenyapkan jasad Frans dengan membuangnya di sungai.

Semua habis perkara. Wanita beranak satu itu telah berhasil menghilangkan jejak Frans beserta semua dokumen yang berhubungan dengan Frans. Setelah kejadian itu rumah tangganya semakin harmonis, anaknya yang kini beranjak remaja tumbuh dengan sempurna dan membanggakan.

***

By :

Imma Rahmawati Ulfa

4 Responses

  1. Sore itu saya dkejutkan dengan sms dr d’anas.
    He said : “HalloFrans” mak nyus tenan…
    Alhmdlh…Jazakalloh tuk adekku yg satu ini yang msh mluangkn waktunya membaca cerpen2 mbak dsela-sela kesibukan pemilwa. Trs kasih smngt mbk ya dek…!
    Dan…Good Luck dg Pemilwa nya!

  2. Mas Koko Nata (penulis buku yang juga mentor saya di Batre VII FLP Depok) menyatakan bahwa cerpen ini tidak ada unsur sebab akibatnya, ga nyambung antara cerita awal dengan cerita akhirnya.
    Hehehe…makasih ya mas Koko atas saran kritikannya.
    Semoga saya bisa memperbaikinya ke depan. Amin…

  3. Ya.. Subhanalloh banget ternyata dede bisa menulis….
    Kayaknya bakat terpendam neh…:)

    Semoga bisa menjadi penulis sejati, bisa bikin buku seperti Asma Nadia..Amin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: