Impian Masahiko

“Aku pingin sekolah S2 mas kayak Kiriena. Sekarang dia sukses jadi wanita karir. Bisa bantu suaminya, bisa membahagiakan anak-anaknya dengan menyekolahkan mereka di sekolah internasional. ” Bujuk Masahiko pada suami yang dinikahinya hampir 10 tahun ini. Entah berapa kali rayuan itu terlahir di mulut ibu tiga anak ini. Dan suaminya, Anoda, sudah bosan mendengarnya. Anoda hanya diam membisu dan mematung, menutup rapat-rapat mulut dan telinganya.

Masahiko akhirnya menerima lamaran Anoda karena ia satu-satunya laki-laki yang menyetujui keinginan Masahiko menyekolahkannya hingga S2 setelah menikah. Sebuah cita-citanya sejak awal yang mendarah daging sejak ayahnya berpesan terakhir kalinya sebelum meninggal dunia. Impian itu ia pegang dengan erat dan ia bertekad akan mengabulkan permintaan ayahnya.

Tak semudah yang ia pikirkan, sampai sekarang Anoda masih menggantung cita-cita Masahiko itu. Tinggi di tangga langit paling atas. Anoda mengobral janjinya sebelum menikah dan hingga kini Anoda belum juga mengabulkan permintaan Masahiko. Masahiko awalnya menuruti suaminya, tapi mata hatinya mulai terbuka. Selama ini Anoda cuma membohonginya. Mengumbar janjinya sendiri dan membiarkan terbang tak tentu arah.

“Mas, pokoknya aku pingin sekolah lagi! Bulan depan ada pendaftaran S2. Jadi aku akan mendaftarkan diri. Mas harus kasih ijin dan mendukung.” Paksa Masahiko dengan sedikit emosi. Tapi lagi-lagi Anoda membisu tanpa ekspresi apapun.

“Mas, bilang dong. Katakan sesuatu, jangan diam saja!” Masahiko semakin geram dengan ulah Anoda. Masahiko mengaca sambil membetulkan poni rambut yang menghalangi matanya.

“Dulu sebelum menikah bukankah kamu sudah berjanji akan menyekolahkanku sampai S2. Tapi sampai sekarang, aku belum juga duduk dan belajar disana. Mas bohongi aku ya? Sudah cukup waktu yang kunanti dan aku akan terus menagih janjimu meski rambutku sudah memutih sekalipun dan sampai akhir hayatku itu janjiku pada ayah.“ mulut Masahiko terus nyerocos. Tak ada balasan apapun, Masahiko menggeser tempat duduknya kemudian mengarahkan wajahnya pas di depan wajah Anoda. Masahiko menatap dalam-dalam mata sipit suaminya dan mencoba menurunkan kadar emosinya.

“Sayang…ada apa, kenapa kamu diam aja? Apa ada yang membuatmu membisu?” Masahiko mencoba mencari perhatiannya.

“Maafkan aku, Iko… Aku banyak fikiran akhir-akhir ini. Aku bingung bagaimana mencari solusinya.” Anoda akhirnya membuka pembicaraannya.

“Maksud mas?”

“Aku sudah dipecat, Ko. Ada yang memfitnah aku dan aku sudah tidak bekerja lagi seminggu yang lalu.”

“Apa? Kenapa baru bilang sekarang? Terus kalau sudah begini, kita harus bagaimana? Mas cari kerja gantinya dong. Jangan diam aja.”

“Aku terus mencari kerjaan Ko. Dan sampai sekarang aku belum juga mendapatkannya.”

“Pokoknya kamu harus cari penggantinya. Kalau tidak, bagaimana kita bisa hidup?”

“Paling tidak tabungan kita bisa untuk menutup kebutuhan kita selama sebulan dua bulan.”

“Huh…cuma sebulan gimana? Anak-anak belum bayar sekolah, belum cicilan rumah kita, belum yang lainnya. Mas gimana sih?”

“Kamu kan bisa menghemat belanja. Sudah, kita mengalah untuk anak-anak dulu saja.”

“Coba aku sudah lulus S2. Aku pasti sudah gampang mencari kerjaan untuk bantu mas. Tak perlu minta bantuan pada orang lain. Tak perlu susah seperti ini.”

Masahiko masih geram dengan solusi yang diberikan suaminya itu. Dilubuk hatinya yang paling dalam ia masih menyimpan impiannya itu. Aku harus bisa sekolah lagi. Itu pesan ayah yang terakhir. Aku harus mengabulkan permintaannya.

Sebulan sudah berlalu tapi Anoda masih belum juga mendapatkan pekerjaan. Tabungan mereka pun mulai menipis. Mereka semakin stress dengan keadaan tersebut. Mereka tak mungkin untuk meminta bantuan orang tua karena orang tua sudah melihat keluarga mereka sudah mampu, sejahtera, dan sukses. Masahiko mencari ide bagaimana ia bisa mendapatkan uang untuk kebutuhan sehari-harinya dan terutama untuk biaya pendaftaran S2 nya yang tinggal menghitung hari. Masahiko ingin mencari beasiswa, itu ide yang paling tepat. Dicarilah beasiswa kemana-mana tanpa diketahui suaminya.

Ketika masa-masa pencariannya berakhir dan tanpa hasil sedikitpun, seorang rentenir menawarkan sejumlah uang kepada Masahiko dengan syarat yang sangat mudah. Masahiko tanpa pikir panjang, ia pun lantas menerima tawaran itu. Pikirnya ia bisa mengembalikannya nanti setelah suaminya mendapatkan pekerjaan dan beasiswa yang akan di dapatkannya kemudian.

Dengan uang itu, ia bisa mendaftarkan diri sebagai mahasiswa S2 di salah satu universitas swasta di tempat tinggalnya. Dan bisa memenuhi kebutuhan sehari-harinya bersama anak-anak dan suaminya.

“Uang dari mana, kita bisa makan enak seperti ini?”

“Ah…sudahlah mas. Mas tidak usah mikir lagi. Ini biar urusan Iko.” Masahiko seraya bangga dengan apa yang sudah ia lakukan tanpa memikirkan dampaknya nanti. Ia terus berusaha mencari beasiswa agar bisa menutup hutang itu. Ia juga mencoba mencari pekerjaan sambilan. Hingga jatuh tempo pembayaran, Masahiko tak mendapatkan uang itu. Tak satupun pekerjaan yang kecantol, begitu juga dengan beasiswanya. Masahiko mulai kebingungan bagaimana ia bisa mencicil hutangnya. Tak mungkin ia membebani suaminya dengan ulahnya karena ia tahu bahwa suaminya juga sedang berusaha mencari uang untuk mereka.

Ditemuilah laki-laki yang telah meminjamkannya uang itu. Laki-laki yang dikenal suka menghitung-hitung laba yang didapat tapi sulit untuk mengeluarkan pinjaman kepada orang yang membutuhkan bantuannya.

“Saya mohon untuk memberikan waktu kepada saya sampai minggu depan.” Rayu Masahiko pada rentenir itu.

“Ok. Kalau aku bukan orang baik, tentu bodyguardku sudah menghabisi nyawa suamimu. Saya kasih kamu waktu seminggu lagi, tapi jika sampai minggu depan kamu belum melunasi cicilan itu, bunga yang kamu bayar akan lebih besar. Dan sebagai jaminan adalah nyawa suamimu. Ingat itu!” laki-laki itu melirik anak buahnya dengan senyum sinis dan matanya yang jelalatan siap memakan mangsa cantiknya.

Masahiko berusaha sekuat tenaga mencari penghasilan hingga anak-anak sebagai korbannya. Ia menitipkan anak-anak pada tetangganya yang masih saudaranya. Teman-temannya sudah dihubungi semuanya, iklan koran, iklan beasiswa di internet, dsb telah dicobanya. Kepala jadi kaki dan kaki menjadi kepala, ia lalui semua dengan bayaran keringat. Hasilnya tetap nol hingga tujuh hari terlewat begitu saja.

Ia terpaksa harus menanggung beban itu sendiri, karena ini telah menjadi pilihan yang harus ia pertanggungjawabkan sendiri. Sebulan berlalu dan hutang itu kini telah mencekik dompetnya.

Ia temui lagi rentenir itu, memohon dan bersimpuh meminta keringanan kembali. Tapi laki-laki berbadan kekar dan berkumis tebal itu menolak mentah-mentah keinginan Masahiko. Ia marah besar saat mengetahui Masahiko yang ingkar janji. Diberikanlah pilihan, suaminya mengetahui hutang itu dan minta dia bertanggungjawab atau masahiko harus bekerja di club malam miliknya hingga hutang itu terbayar lunas.

Pilihan pertama tentu tak ia pilih karena sudah menjadi resikonya. Masahiko tak mau membebani suaminya kembali. Alternatif kedua akan menjadi pilihan yang sangat memaksanya untuk dipilih. Ia bisa bekerja sembari suami dan anak-anaknya sedang terlelap dengan tidur malamnya, itu pikirnya.

Malam menyapa Masahiko. Dipastikanlah semua dalam keadaan tidak terjaga. Anak-anak Masahiko telah terlelap di pukul 8 lewat sedikit di kamar tidur masing-masing. Anoda pun demikian. Masahiko memastikan ia telah tertidur dengan pulas dari suara ngoroknya. Ya, kini saatnya masahiko segera bergegas meski keinginannya menyusul mereka untuk istirahat menggelayuti dan rasa kantuk luar biasa harus ia tepis dalam-dalam. Wajah laki-laki rentenir itu menghantui di setiap benaknya.

Sebuah dunia baru yang takpernah ia sentuh seumur hidupnya, kini ada di depan matanya. Laki-laki hidung belang yang meneteskan air liurnya dan matanya yang berlarian kian kemari menandakan mereka yang ada di sana sedang haus dengan layanan istimewa wanita-wanita penghibur. Beberapa wanita mencoba merayu laki-laki berduit itu kemudian mengajaknya melakukan adegan seolah mereka adalah sepasang kekasih yang memadu kasih. Tak lama kemudian wanita itu menggiringnya ke sebuah ruangan-ruangan dalam keadaan sempoyongan. Masahiko terhenyak dengan dunia barunya itu. Ah… tidak… Dunia apa ini? Aku tak ingin seperti mereka. Aku harus keluar dari tempat kotor ini. Jika tidak…Belum berhasil Masahiko melangkahkan kakinya ke pintu keluar, tiba-tiba laki-laki itu datang dan menagih janjinya.

“Mau kemana kau Iko cantik? Apa kau lupa dengan hutangmu? Cepat bawa dia keruanganku!” nada sinis dan kejamnya muncul. Memaksakan Masahiko untuk tidak berkutik sedikitpun. Kedua lengannya kini sudah pada genggaman kedua bodyguard rentenir itu. Sekuat apapun Masahiko untuk berusaha keluar, semakin kencang pula genggaman mereka. Lemas dan pasrah Masahiko dibuatnya.

“Ini sudah menjadi pilihanmu bukan? Atau aku ingin memberitahukan suamimu saja bahwa sekarang kau ada di sini?”

“Jangan! Saya mohon jangan katakan apapun padanya. Iya, saya akan mengikuti perintahmu.”

“Hahaha…Ya sudah sana layani semua tamu-tamu terbaikku. Kamu akan dapatkan uang banyak dari situ.”

Langkah gontai Masahiko menuju keramaian para tamu membuat banyak laki-laki melirik wanita berdarah Jepang ini. Bayangan Anoda, suami yang dicintainya selama ini dan anak-anak yang lucu dan lugu hasil cinta mereka selalu menggantung dikelopak matanya. Kemanapun Masahiko pergi, bayangan mereka tak akan pernah lepas dari mata sipitnya. Begitu menyesakkan di dadanya, pekerjaan yang tidak terhormat itu terpaksa ia lakukan demi kebahagiaan mereka. Maafkan Iko suamiku….Maafkan mama sayang…

“Pagi mama…” ocehan anak-anak terdengar di telinga Masahiko. Masahiko terbangun dan tersenyum sedih pada mereka.

“Pagi sayang…” balasnya dengan lirikan di samping ranjang tempat Anoda bernaung. Masahiko bergegas bangun karena tak didapati suaminya. Dan dilihatnya jam weaker bertengger di meja mundar samping ranjang menunjukkan pukul 07.10.

“Mama kenapa tidak membangunkan Kia, Ina dan Joe, Ma? Mama ngantuk berat ya semalam?” tanya Joe, anak bungsunya yang paling menggemaskan.

“Maafkan mama sayang, iya mama kecapean semalam. Kalian siapa yang membangunkan hayo? Sudah bisa bangun sendiri ya? Wah hebat anak mama.”

Mereka membalas gelengan kepala bersamaan.

“Lalu siapa? Papa?” dan mereka membalas dengan anggukan.

“Sekarang papa mana?” Masahiko beranjak dari tempat tidurnya dan mencoba mencari suaminya.

“Papa sudah berangkat, cari kerja selepas bangunin Kia.”

Sebuah short message service diterima Masahiko. Maaf sayang, aku tidak membangunkanmu. Kulihat kau begitu menikmati tidur malammu. Anak-anak sudah membanngunkanmu bukan? Aku harus pergi pagi-pagi untuk bertemu dengan kawan lama. Ia menjanjikan aku sebuah pekerjaan. Doakan aku….

Sebulir embun mengumpul di kedua pelupuk matanya. Ia tahan embun itu agar taktumpah menghujani pipinya. Masahiko merasa bersalah dengan apa yang telah ia lakukan semalam. Ia ingat, ia baru kembali ke rumah pukul empat pagi tadi. Ia lantas pulas dengan mimpinya.

Sehari dua hari hingga hampir seminggu, Masahiko bisa berhasil menutupi ulahnya di depan suaminya dan anak-anak. Tapi hari itu, Anoda menaruh curiga yang cukup dalam. Malam itu, Anoda berpura-pura telah tidur dengan pulasnya. Beberapa menit kemudian Masahiko terbangun dan segera bersiap-siap untuk pergi ke tempat club malam itu. Selepas Masahiko meninggalkan rumah, Anoda segera membututinya di belakangnya. Hati Anoda terasa teriris-iris melihat ulah istri yang selama ini ia percayai sedang melayani laki-laki hidung belang. Ia melihat semuanya seolah-olah tak ada beban sedikitpun terhadap suami dan anak-anak yang Masahiko tinggalkan di rumah. Ia pun segera kembali pulang membawa sejuta peluru munusuk-nusuk sekujur tubuhnya.

“Iko darimana kamu?” Anoda memergoki Masahiko pulang pukul 04.00.

“Kamu sudah bangun sayang?”

“Kenapa kamu tega mengkhianati aku selama ini? Mau kamu apa hingga kamu rela menjual diri kamu di depan laki-laki itu? Jawab!”

Masahiko mematung, dan menunduk dalam-dalam. Ia tak berani sedikitpun untuk menatap suaminya. Kedua matanya kini telah diderai hujan. Tak dapat ia menahan sedikitpun. “Aku terpaksa melakukan ini semua. Maafkan aku…”

Anoda belum meneruskan amarahnya, ia menunggu Masahiko bercerita semuanya. Dan sedikit demi sedikit cerita itu dilahirkan seutuhnya oleh Masahiko. Anoda semakin memanas, otaknya telah terpenuhi api yang menyala-nyala. Keputusan terakhir diambil Anoda, memulangkan Masahiko pada orang tuanya tanpa ditemani anak-anaknya.

Masahiko terguncang dengan keputusan suaminya dan Masahiko harus menerima resiko yang sebelumnya tak pernah ia pikirkan ini. Luka hati Masahiko semakin besar dan menganga. Bak sudah jatuh tertimpa tangga pula.

Dua minggu tinggal bersama orang tuanya membuat dirinya hampa. Apalagi sejak munculnya surat perceraian yang sudah diputuskan oleh pihak pengadilan agama dan menyatakan hak asuh anak-anak ada di tangan Anoda. Jiwanya semakin hancur berkeping-keping menerima kejadian ini. Anak-anak menjadi belahan jiwanya kini sudah takbersamanya. Canda tawa mereka, keluh kesah mereka, masa-masa kebersamaan bersama mereka, kini hilang sudah.

Masahiko kini berubah. Ia semakin tertutup dan senang mengunci diri di kamarnya. Ibu satu-satunya orang tua Masahiko sudah sangat berupaya merubah Masahiko kembali ceria dan semangat. Tapi itu semua hanya impiannya yang kelabu. Ibu hanya bisa berdoa agar tidak terjadi sesuatu dengan anak perempuannya satu-satunya. Dan berharap mukjizat datang pada Anoda agar mau kembali ke Masahiko dan memaafkannya. Merajut jalinan cinta mereka dengan ikatan suci pernikahan bersama anak-anak yang dia sayangi.

“Keluarkan aku dari sini! Keluarkan! Aku tidak gila. Aku masih waras. Mas…aku ingin bebas. Aku ingin sekolah S2 lagi.” Teriak Iko, ibu muda yang divonis menderita depresi berat oleh dokter. Jeruji besi berwarna putih yang menutupi pintu serta jendela kamar mungil di sebuah rumah sakit jiwa, kini menjadi teman setianya.

Anoda mendapatkan pekerjaan selepas menceraikan Masahiko dengan kedudukan yang cukup membanggakan. Anak-anak terurus dengan baik di tangan Anoda karena ada seorang wanita yang membantunya mendidik dengan tulus ikhlas seperti anaknya sendiri. Bulan depan Anoda ingin mempersunting wanita berdarah kelahiran Jawa itu.

***

7 Responses

  1. Cerpen “menggemaskan”, bagaimana tidak? jika sudah membaca satu paragraph saja ingin terus dan terus sampai akhir cerita. Saya yakin it’s one step for millions steps you will… Iya kan mbak?? Sebentar lagi buku “Imma Ar-Rusydi”🙂 akan benar2 kita nikmati.. Boleh kritik dikit ya mbak.?? Dalam cerita ini sepertinya kurang ada kejadian-kejadian yang bikin “kejut” – seperti Kreshna yang ternyata ia adalah Sekar Pambayun di buku Afifah Afra “De Winst” -, seandainya ada hal2 demikian, cerpen imbak Imma ini bukan hanya “meggemaskan” tapi sekaligus “menggetarkan”…… Afwan. Kami tunggu karya berikutnya…

  2. membaca cerita ini saya jadi merasa tersindir mbk🙂, jujur ya mbk saya mirip2 Masahiko, orangnya tipe2 pengejar impian…..saya pengen sekolah lagi, pengen ngajar di skolah internasional, pengen jadi penulis, n tanpa nelantarin kluarga n anak (haduh muluk banget ya), tp bukankah segala sesuatu berasal dari mimpi???

    yah tp sy tahu sih tugas utama wanita apa?? walau kadang masih dilema, tp saya brusaha tuk mengerti dan mengkaji, Insya Allah smua kan tepat pada waktunya

    dan cerita ini membuat saya berkaca diri mbak

    kerennnnnnnn

    • Komunikasikan dengan suami apa yang menjadi impian d’Miyo. Bermusyawarahlah, berundinglah dengan terbuka bagaimana jalan tengah yang bisa di realisasikan. Tetap ingatlah posisi kita sebagai istri. Bisa jadi impian di dunia hanyalah semu dan sementara. Dengan menjadi IRT akan mempersiapkan jundi2 yang kelak menjadi penerus kita. Mereka seperti apa ke depannya juga tergantung tangan2 kita mendidiknya. Ya kan? Tapi jika selagi kewajiban kita bisa terpenuhi, tidak ada masalah meraih impian itu. Selamat Berjuang!!!!

  3. bener sekali mbak, setuju, good advise, thnk sist😀

    btw, gak ada bosen2nya mbaca crita ini mbak….critanya keren banget, mungkin karena Masahikonya mirip2 sama sy, tp smoga sy gak ikut gila he2…….

  4. mbaca lagi mbak sebelum tidur ehm…..tetep aja kerennn

    Masahiko si pengejar impian akhirnya tidak mendapatkan apa2 karena terlalu berambisi ya mbk, wah menakutkan…….

    usul: critanya dipanjangin mbk……

    • Hehehe…itu kan cuma cerita khayalan toh dek. Mosok ikut2an gila…
      Itu tugas dari mentor FLP Depok waktu aku masih jadi anggota Batre 7. Dah lupa itu materi yang mana ya…
      Ehm…dipanjangin ceritanya? Permintaan yang bagus. Boleh2…ntr dijadikan novel sekalian apa? Eh dek, gmn kl kita join bikin novel? Tapi bikin novel apa bisa bareng2 ya???

  5. mau banget mbak, ntar kan panjenengan datang kan tgl 13? bisa sharing2

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: