Sinar Di Mata Mbah

Usianya sudah senja, lebih dari delapan puluh tahun. Saya mengenalnya tak kurang dari tiga tahun sepadan dengan usia pernikahan saya dengan suami tercinta. Jadi belum pantas jika saya menyatakan “aku telah mengenalnya lama”. Tapi…pancaran sinar dari aura yang ia berikan pada saya, membuat hati saya semakin hidup.
Ia masih kuat dari segi fisik dibandingkan dengan nenek-nenek seusianya. Meski kadang penyakit menuanya menghampirinya. Yang membuat saya membuka mata hati saya adalah fisiknya yang masih bugar saat sepertiga malam terakhir ia bangun kemudian mengambil air wudhu untuk menunaikan sholat Lail kemudian diteruskan dengan membaca Al Qur’an hingga azan subuh berkumandang. Subhanallah…tak malukah kita padanya? Kita yang masih muda, segar bugar, sehat dan jauh dari penyakit tua saja untuk melaksanakan sholat subuh tepat waktu saja susah dan rasa malas menjadi pemenangnya. Bagaimana dengan bangun malam dan tilawah Qur’an. Masya Allah…saya pun mengurut dada, bisa jadi saya juga termasuk diantaranya.
Kita masih muda, masih jauh perjalanan hidup kita. Mendekatkan diri pada Allah nanti saja saat kita sudah lemah, sudah tua. Mungkin banyak yang menjawab demikian. Tapi apakah jawaban itu sudah benar? Yakinkah usia kita lebih dari usianya atau paling tidak sama hingga akhirnya Allah memanggil kita? Bagaimana jika ternyata usia kita tinggal hitungan detik, menit, jam, hari, dst? Kapan kita bisa mendekatkan diri sama Yang Menggenggam Hidup kita jika tidak mulai dari sekarang?
Hari ini saya banyak belajar dari beliau. Kekuatan yang ia pancarkan kepada semua orang membuat saya iri padanya. Mungkinkah saya sekuat beliau lima puluh tahun kemudian? Ia tinggal sendirian di rumahnya yang cukup besar dan telah termakan usia tanpa ada orang yang menemani. Rumah yang hampir sama dengan usianya, menjadi rumah yang paling ia idam-idamkan. Rumah yang jauh dari kemewahan dan fasilitas lengkap. Ya, semuanya takperlu asal ia masih bisa tidur dengan nyenyaknya. Suami yang beliau cintai telah lama tiada, anak-anaknya telah tumbuh dewasa dan menikah semua. Mereka taktinggal  serumah dengannya.
Pagi sekitar pukul 05.30 beliau datang kerumah kami, rumah yang bersebelahan dengan rumahnya. Ia datang dengan membawa sekarung harapan untuk dibagi-bagikan kepada kami. Tongkat kayu yang mulai usang masih menjadi teman setianya saat ia datang ke rumah kami. Hanya tujuan rumah kamilah yang paling jauh ia tempuh karena akhir-akhir ini kaki beliau cedera. Secangkir susu yang telah disiapkan bapak menjadi minuman awal beliau. Rasa syukur tak pernah absent saat berjumpa kami di pagi hari. “Alhamdulillah…Allah masih memberikan usia mbah hingga hari ini.” Bercerita kesana-kemari dan nasehat-nasehatnya menjadi santapan pagi bagi kami semua sembari menghabiskan secangkir susunya. Ide cerita dan banyaknya nasehatmu seperti engkau menyimpan banyak kamus di benakmu. Selepas semua mulai beraktifitas untuk mencari nafkah, ia pun menyudahi semua cerita-ceritanya. Ia kembali ke rumah “keprabon”nya sekedar menghela nafas sejenak di ruang tidurnya.
Sekitar pukul 08.00 ia kembali ke rumah kami lengkap dengan tongkat yang menemaninya. Ia gunakan waktu itu untuk memotong-motong sayuran atau mengupas-ngupas bawang merah bawang putih atau membuat baju yang ia pakai dengan jahitan tangannya sendiri. Ia baru menyentuh sarapan paginya sekitar pukul 10.00. Pernah saya tanya mengapa pukul 10.00 baru sarapan, ia menjawab jika terlalu pagi perutnya bisa sakit. Ya jika dihitung ternyata ia hanya makan dua kali dalam sehari. Selepas itu serasa belum punya rasa lelah, ia sentuh sapu lidi kemudian membersihkan halaman rumahnya yang telah penuh dengan daun-daun kering. Tak elak ia pun menyiapkan sebuah kursi kecil untuknya menghela nafas sejenak, kemudian memulai lagi dengan menyibukkan diri dengan sapu lidi itu. Saya pun pernah bertanya mengapa tidak menyuruh orang lain untuk membersihkan halamannya, kemudian ia  pun menjawab untuk olah raga, biar sehat kata beliau.
Sholat dhuhur ia kembali masuk ke rumahnya kemudian istirahat hingga sekitar pukul 14.30. Saya yang masih sibuk dengan putra kecil saya yang ingin main di halaman rumahnya sudah mendapati beliau sedang duduk-duduk di teras rumahnya. Disana saya lagi-lagi mendapat banyak nasehat dari beliau yang luar biasa. Suasana kesejukan menerpa wajah kami seakan-akan mereka pun ikut mendengar nasehat beliau. Hingga sinar matahari sore hampir menghilang, saya segera bergegas pulang untuk membersihkan diri.
Perjumpaan saya dengan nya dimulai lagi saat menjelang sholat magrib. Beliau paling semangat saat azan magrib telah berkumandang, memberikan peringatan kepada bapak sebagai imamnya untuk segera mendirikan sholat. Kami sholat berjamaah dengannya. Dengan tubuh yang masih sempurna, dengan gerakan sholat yang masih sempurna pula yang dimilikinya. Sungguh luar biasa. Usai sholat, kami makan bersama di sebuah meja kecil di rumah kami. Meski menu yang dihidangkan enak-enak, ia tetap setia dengan menu sederhananya. Ia menjaga makanan yang rasanya membuat panas lidah dan sayuran yang selalu menjadi menu andalannya. Tak banyak permintaan ini itu, seperti apapun menu itu, enak maupun tidak, ia tetap menyantapnya dengan semangat. Ketika saya memperhatikan, hampir tak lepas menggunakan tangannya saat makan, bukan sendok ataupun garpu sebagai pelengkapnya. Sambil menunggu azan isya’, kami bercerita kembali dengannya, tertawa bersamanya.
Malam ini, malam yang insyaAllah bukan terakhir saya berjumpa dengannya. Tapi esok saya dan putra saya akan bertolak ke orang tua saya di Jombang. Selepas dari sana saya langsung pulang ke Depok, tempat tinggal kami bersama suami tercinta. Jadi malam ini adalah malam kami terakhir bersamanya. Saya tiba-tiba tergerak untuk mengantarkannya pulang ke rumahnya. Waktu baru menunjukkan pukul 19.35, tapi ia sudah meminta untuk diantar pulang. Dan saya pun ikut mengantarnya. Tangan kanannya memegang tongkat untuk membantunya berjalan dan tangan kirinya menopang pada tangan saya. Perjalanan yang tak jauh, hanya sekitar 10-15 meter dari rumah kami. Saya antar hingga pintu samping rumahnya. Tiba-tiba, hati saya trenyuh, mata saya mengembun seketika, ingin rasanya menangis. Pegangan tangannya semakin menguat pada tangan saya.
“Besok malam, kamu sudah ga disini lagi,nduk.”
“Inggih mbah…”
“Wes, doakan mbah selalu sehat yo dan bisa ketemu lagi.”
“Amin….Mbah hati-hati nggih…” kucium punggung tangannya. Tangannya gemetar. Saya peluk dan mencium pipi kanan dan kirinya. Saya langsung bertolak, takut air mata saya menetes di depannya. Hingga saya sampai di pintu rumah kami, bayangan tubuhnya masih ada dipintu itu, ia menatap saya dengan nanar. Saya membalas tatapannya dari jauh, kemudian ia menutup pintu samping rumahnya. Ya Allah lindungi ia…Ia tinggal dirumah sebesar itu sendiri, tak seorangpun menemaninya.
Mbah…saya sebagai cucu barumu yang hampir tiga tahun ini mau mengatakan sesuatu padamu. Saya menyayangimu setulus hati saya…Terimakasih atas cahaya yang telah kau salurkan pada saya hingga saya bisa menyinari diri ini. Semoga sinar yang telah kau berikan bisa menyinari orang lain juga dari jalan kegelapan. Amin…

5 Responses

  1. Terima kasih Allah atas tulisan ini, Terima kasih mbak Imm.. cinta yang begitu berkialau dari mbah namun serasa terkubur dalam oleh kilauan hiasan cinta semu bangkit kembali… Bangkit kembali. Dan tak akan terkubur lagi.
    Ummi Sittatun, nama indah, seindah kilau wajah nya..

    Rabb….
    Karuniai kebahagian di sisa harinya
    Bukakan pintuMu diakhir masanya..
    Amiien…

    (saya tak sanggup berkata2 lagi Mbak Imma, malu dikampus nangis… Ya Allah, pahamkan aku tentang cinta… )

    • Cinta tulus bukan muncul karena nafsu
      Cinta yang muncul karena kita ikhlas menyayanginya apa adanya
      Cinta yang kita rela melakukakan apapun untuknya
      Dan cinta yang paling menguntungkan adalah cinta karena-Nya

      Selagi kita masih bisa berjumpa dengan orang yang kita cintai,
      Marilah kita persembahkan yang terbaik untuknya.

      Terimakasih saya telah menjadi bagian dari keluarga kalian…

  2. Lah… ini kapan posting nya… bukannya dulu pulang g bawa modem 3g nya.
    Jika ke warnet ko g bilang2 hayooo…

    Iya dia lah mbah kita.. yang sampe detik ini masih sehat wal afiat padahal sudah bgitu lanjut usia nya… subhanalloh pokoknya..
    Semoga kita masih bisa bersua kembali.. bhkan bisa menyaksikan anak cucu kita juga nanti.. Amin.

    • Nulisnya memang waktu di Ponorogo, tapi updatenya pas di warnet Jombang. Ya…rahasia dong sayang…masak diomongin,kan ga surprise…
      Harapannya meski tak ada 3G, semoga saya tetap diberikan kesempatan untuk menulis dan berkarya.
      Dan semua atas dukungan penuh dari suami tercinta….Makasih ya cinta…

  3. hiks..hiks…hiks….tiba2 air mata ini tumpah tak tertahankan…sambil berangan2 kapankah saya bisa berjumpa lg dengan mbah utieeeeeeeeeeee….mdh2n Allah menjadikan hidup beliau uswatun hasanah. Amiiiiiiin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: