Pelajaran Berhikmah di Ahad Pagi

ikhwan 12

Ahad pagi saya sudah bergegas menyelesaikan tugas saya sebagai ibu rumah tangga. Karena jarum jam pendek tepat menunjukkan pukul 08.00 saya mengikuti halaqah rutin. Alhamdulillah aktifitas-aktifitas itu saya mulai dari pukul 5 meski saya mulai membuka mata dari pukul 4 lewat sedikit. Membangunkan suami dan anak kemudian kami jalan-jalan naik sepeda yang baru kami beli kemarin. Alhamdulillah rasanya asyik sekali bisa jalan-jalan pakai sepeda mini kemudian mampir ke tukang sayur. Sepulang dari sana saya langsung memasak. Menunya sih tidak terlalu istimewa, paling tidak cukup untuk sarapan pagi ini aja buat Azhar, suami dan saya. Perkara nanti siang, saya bisa memasak lagi sepulang halaqah. Pas selesai memasak, saya melirik jam dinding yang terpatri di ruang kamar. Wow, sudah pukul 07.03…lantas saya segera bersiap-siap untuk bertolak ke rumah teman halaqah. Alhamdulillah suami orangnya pengertian banget. Tahu saya mau halaqah, tanggung jawab Azhar ada ditangannya. Alhamdulillah ini juga bukan kali pertama saya meninggalkan mereka. Tak hanya halaqah, tapi juga saat saya mengikuti pelatihan FLP, ngisi halaqah anak-anak SMP, dan masih banyak lagi kejadian-kejadian serupa yang membuat saya harus meninggalkan Azhar untuk sementara di tangan ayahnya. Alhamdulillah…saya bersyukur punya suami yang pengertian sepertinya.

Bismillah…saya pun berangkat dengan semangat&berharap saya mendapatkan banyak pelajaran dari sana. Kebetulan giliran saya menjadi moderator, jadi saya mendapat tanggung jawab untuk memegang dan mengendalikan halaqah hingga selesai. Saat tiba giliran teman saya membawakan kultumnya. Kultum yang memang benar-benar bermanfaat bagi teman-teman terutama saya sebagai ibu rumah tangga.

Teman saya menceritakan tentang sebuah cerita yang ada di buku Serial Cinta pengarang Pak Anis Matta. Cerita itu mengisahkan tentang suami istri yang dipertemukan dengan perbedaan yang sangat bertolak belakang. Suami yang tampan, putih, kaya, dan sempurna. Tapi sebaliknya, istri yang buruk rupa, hitam dan miskin. Saat mereka dipertemukan pertama kalinya setelah menikah, sang suami merasa ia tidak kuat dengan takdir yang Allah berikan. Banyak orang merasa iba dengan keadaan suaminya, “Kasihan suaminya, ganteng tapi mendapatkan istri yang jelek. Mereka pasti tak bahagia.”. Tapi ia telah mengambil keputusan itu, dan ia tak mau mengecewakan banyak orang jika harus berhenti sampai disitu. Ia bertekad untuk bisa mencintai istrinya apa adanya. Dan akhirnya barulah ia menyadari bahwa ia adalah suami yang paling beruntung mendapatkan istri sepertinya. Istri yang sangat sholehah, selalu memberikan yang terbaik buat suaminya, tak pernah mencela, tak pernah berharap sesuatu pada suaminya, dan masih banyak lagi kebaikan-kebaikan yang dimiliki sang istri. Bagi istrinya ia berprinsip bahwa memberi, memberi dan terus memberi adalah utama daripada memberi kemudian berharap menerima sesuatu dari suaminya. Hingga akhirnya mereka dikaruniai anak 7 yang tampan-tampan, cantik-cantik, sholeh dan sholehah. Mereka hidup bahagia.

Dari kisah diatas, kita bisa menyimpulkan bahwa dalam kehidupan rumah tangga kita harus memberikan yang terbaik untuk pasangan kita. Memberi adalah awal yang harus kita lakukan. Beri pasangan kita dengan apa yang ia mau, layani pasangan kita dengan yang terbaik yang bisa kita lakukan. Mulailah dari hal yang paling kecil. Misalnya, saat suami pulang menyiapkan segelas air putih dan senyuman yang paling indah yang kita miliki. (Alhamdulillah sampai sekarang saya belum pernah absent menyiapkan segelas air untuk suami saat pulang kerja. Hehehe…). Harus ikhlas tanpa harus mengharapkan apa-apa. Itulah yang namanya CINTA untuk suami-istri. Lakukan terus dan terus. Dengan berjalannya waktu, pasangan kita dengan sendirinya akan memberikan timbal balik itu. Entah wujudnya seperti apa, kita bisa merasakannya sendiri. Misalkan, pasangan kita makin sayang sama kita dengan mengungkapkan rasa cintanya kepada kita, bisa juga tiba-tiba kita mendapat surprise dari pasangan kita, banyak sekali contoh-contoh yang lain. Yang sudah menikah, insyaAllah sudah tahu sendiri deh.. GIVE and TAKE adalah kuncinya. Bukan sebaliknya, yang juga biasa kita dengar TAKE and GIVE. Kita berharap dulu apa yang bisa ia lakukan untukku ya, apa yang bisa ia berikan untukku ya, dst. Kemudian baru kita mau membalasnya dengan memberikan sesuatu padanya. Wah…ternyata TAKE and GIVE ini tidak akan berhasil jika dipraktekkan dalam rumah tangga. Coba bayangkan jika suami dan istrinya berharap dan berprinsip sama yaitu TAKE dahulu kemudian baru GIVE, bukan GIVE terlebih dahulu baru TAKE? Sama-sama menunggu dilayani / menerima sesuatu dari pasangan baru memberikan sesuatu ke pasangan. Waduh…ini namanya rumah tangga tidak sehat, rumah tangga kering, rumah tangga yang bukan lagi Baeti Jannatii. Masya Allah…

Jika memang salah satu berprinsip TAKE and GIVE, ya kita yang sudah tahu jangan berprinsip sama. Berubahlah! Terutama kita sebagai istri, harus memilih GIVE and TAKE. Memberikan dan melayani suami dengan baik tanpa harus berharap apa-apa. Benar begitu para suami-suami?

Nah paling bagus adalah suami-istri berprinsip sama yaitu sama-sama memberikan yang terbaik buat pasangan kita, GIVE and TAKE. Subhanallah…bisa dirasakan, atmosfer rumah seperti aroma yang menyejukkan, menentramkan dan meluruhkan hati setiap pasangan. Pandangan matanya membuat berdebar jantung. Rasa cinta selalu menyelimuti setiap pasangan. Baru berpisah sebentar seakan setahun tak jumpa. Sangat dirindukan keberadaannya. Sangat dinanti pertemuannya. Subhanallah…itulah cinta. Cinta pada pasangan kita. (Ingat, pasangan yang telah menikah. Bukan pasangan yang belum menikah lho.)

Hikmah lain pada Halaqah ahad itu ada seorang teman bercerita bahwa ia sangat bersyukur mendapatkan suami yang mau turun membantunya mengerjakan pekerjaan rumah tangga seperti menyapu, mengepel, cuci piring, cuci baju bahkan tak enggan untuk membantu memasak. Apalagi saat ia capek atau sedang sakit, suaminyalah yang hampir semua pekerjaan rumah tangga dikerjakannya. Ia bersyukur mendapat suami sepertinya padahal ayahnya sangat bertolak belakang. Hingga teman saya dewasa dan sudah menikah, tak pernah ayahnya membantu ibunya dalam pekerjaan rumah meskipun ibunya sedang sakit.

Nah teman saya yang lain yang merasa tersindir pun demikian tak mau kalah. Suaminya hampir sama dengan ayahnya, yang enggan membantunya mengerjakan urusan rumah tangga, sangat keras dan tegas kepada anak-anaknya. Semua yang mengetahui mungkin akan berfikir bahwa tak mau mendapat suami sepertinya. Tapi dengan bangga, teman saya sangat bersyukur dengan pilihan Allah padanya. Subhanallah…dibalik keras&tegas sifatnya dan enggan membantu istrinya, ternyata ia juga mempunyai banyak kelebihan. Suaminya penuh perhatian kepada setiap anggota keluarga. Dakwahnya juga bagus terhadap keluarga dan masyarakat. Ya itulah beberapa contoh cerita dari teman-teman saya. Karakter suami memang berbeda-beda.

Satu hikmah lagi yang bisa kita ambil, kita harus bersyukur dengan apa yang Allah berikan pada kita. Seperti apapun pasangan kita, baik buruk, tampan/cantik, kaya miskin, dst, harus disyukuri. Seperti pada QS. Ibrahim : 7

Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.”

Subhanallah…sungguh cantik puisi Allah di atas yang diberikan kepada kita. Sungguh luar biasa, membuka mata hati kita untuk terus mensyukuri nikmat Allah yang telah diberikan kepada kita. Dengan kita bersyukur, Allah telah berjanji akan menambah nikmat itu. Jadi mengapa kita ragu? Ayo berikan yang terbaik untuk kebahagian pasangan kita demi keridhoan Allah swt!!!

Kesimpulan : Dua hikmah yang saya dapatkan pada Ahad itu adalah : Berprinsip GIVE and TAKE pada pasangan kita dan menSYUKURi apa yang telah Allah berikan pada kita.

Catatan        : Sebenarnya kalimat-kalimat saya mulai dari atas hingga bawah, tidak hanya berlaku pada pasangan suami istri saja. Buat yang belum menikah, jangan berkecil hati karena sudah membacanya. Ini bisa dijadikan ilmu kelak setelah menikah atau bisa juga dipraktekkan dalam keseharian kita dengan sahabat-sahabat atau teman-teman kita.

4 Responses

  1. Alhamdulliiah….. ternyata daku g salah milik dikau wahai adindaku…..😀

    Semoga selalu di berikan keberkahan dan naungan-Nya dalam keluarga kita.. Amin

    Salam,
    masmu

    • Amin….Terima kasih suamiku…
      Yuk kita sama2 memberikan yang terbaik buat pasangan kita… Karena disitulah letak keberkahan dan samara dari sebuah pernikahan.
      I love U coz Allah

  2. He… Semangat menggapai Cinta-Nya. Allah lebih Tahu hal yang terindah u/ hmbanya. Everyday is be happy, fun, n enjoy with ISLAM. Menulis Go!!!

  3. terimkasih-terimakasih….
    Salam buat FLP Pleburan Semarang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: