Mohon Doa untuk Kesehatan Ibu

0980

Jum’at selepas mengantarkan kepergian suami ke kantor, tiba-tiba handphone jadul saya berdering. Panggilan dari Bapak di Jombang. Pikir saya, tumben kenapa yang telphon  Bapak, bukan memakai HP ibu yang sama-sama simpati dengan saya? Kemudian langsung saya angkat. Sebuah berita yang membuat saya jadi “down”. Bapak mengabarkan Ibu masuk rumah sakit karena gula darahnya mencapai angka 600. Innalillahi…padahal gula darah normal berkisar 150. Saya pun langsung resah dan gelisah. I can’t do nothing right now! I’m here, Depok. Segera kupanjatkan doa untuknya. Tiba-tiba sebulir embun menggantung di kelopak mata saya. Mengenang masa-masa bersama Ibu. Sungguh, berita ini telah membuat saya sangat khawatir dengan apa yang akan terjadi kelak. Apakah saya akan ditinggalkannya dalam waktu dekat ini? Allah…Rabbi…Jangan! Saya masih ingin bersamanya. Saya masih membutuhkannya. Astagfirullah…jika saya berpikir demikian, saya salah. Allah lebih tahu mana yang terbaik buat hambaNya.

Mengingat kembali begitu banyak jasa-jasanya terutama pada saya sebagai anak pertamanya. Saat saya sakit, ibu dengan sabarnya merawat saya, mengompres, menyuapi, memijit yang sakit, dll. MasyaAllah…ibu lakukan semuanya dengan telaten dan sabar. Saat saya kuliah, Ibu juga memberikan yang terbaik buat saya. Apa yang saya butuhkan, diberikannya. Saya ingat waktu itu, baju saya yang itu-itu saja yang saya kenakan. Tiba-tiba ibu mengajak saya jalan-jalan untuk membelikan baju baru. Uang saku saat kuliah juga tak pernah habis karena selalu diisi sama ibu. Hingga akhirnya saya bisa lulus kuliah.

Kemudian saya pun menikah. Saya juga masih ingat bagaimana ibu juga berusaha memberikan yang terbaik untuk anaknya saat menikahkannya. Persiapan pernikahan, saya dan ibu yang paling ribet menyiapkannya. Dan saat pernikahan itu, saya bersujud dipangkuannya memohon restunya. Ibu menitikkan air matanya, ibu menangis saat itu. Ya Allah…semoga saya bisa terus berbakti padanya meski saya sudah menikah, doa saya saat itu. Tak berakhir sampai disitu, saat saya mengandung anak pertama hingga saya melahirkan, Ibu juga telah berjasa banyak pada saya. Dan semua tidak dapat saya hitung satu persatu. Saya juga takkan mampu menandingi kasih sayangnya. Saat saya membutuhkan curahan hati, Ibu ada. Dan kini saya bisa merasakan bagaimana menjadi Ibu. Ya, kini saya merasakan menjadi ibu dari Azhar. Bagaimana mengandung, melahirkan, dan mendidiknya hingga dewasa. Bagaimana perasaan seorang Ibu dikala anaknya sedang sakit, bagaimana perasaan seorang ibu jika anaknya bandel tidak mau menurut. Dan bagaimana merasakan kasih sayang seorang ibu tanpa batas apapun, melindungi, merawat, mendidiknya dan melakukan yang terbaik yang bisa ia lakukan untuk buah hatinya. Subhanallah…Itulah IBU, orang yang telah melahirkan kita dengan nyawa sebagai taruhannya.

Hari demi hari sejak Ibu masuk Rumah Sakit, saya terus berkomunikasi dengan adik-adik saya yang masih sempat menemani Ibu disana. Suhu badan Ibu tinggi hingga 39ْ C, badannya menggigil, nafasnya sesak, mual-mual dan terus saja suntikan insulin diberikan. Meski sudah berulang kali untuk berpuasa tapi gula darahnya naik turun dan belum stabil. Hingga saat ini (Kamis, 4 Mei 2009) saya masih mendapatkan berita tentang kesehatan ibu yang Alhamdulillah mulai berangsur membaik. Namun gula darah Ibu saat ini masih 350, masih jauh di atas normal. Dan sejak kemarin, adik saya yang paling kecil harus kembali ke Jember untuk meneruskan kuliahnya. Adik saya yang kedua juga telah kembali ke Surabaya sejak Senin pagi untuk bekerja. Saya bisa merasakan bagaimana jauh dengan anak-anaknya jika pada kondisi seperti itu. Tapi Ibu sangat pengertian, ia sangat mengerti dengan keadaan anak-anaknya karena Ibu juga tidak ingin mengorbankan masa depan anaknya karena harus menunggu Ibu di Rumah Sakit.

Saya memohon buat teman-teman yang membaca artikel ini, sekiranya mau mendoakan kesehatan beliau. Mungkin hingga detik ini juga saya hanya bisa mendoakan beliau. Hanya itu yang bisa saya lakukan berhubung jarak kami yang cukup jauh. InsyaAllah begitu juga dengan Ibu, memaklumi kondisi saya yang belum bisa menjenguk langsung keadaan Ibu. Saya sudah menikah dan saya kini menjadi tanggungjawab suami. Saya sebagai istri juga harus patuh dengan suami. Tapi setelah menikah bukan berarti saya dan suami tidak mau berbakti pada orang tua. Itu hanya karena jarak yang jauh sehingga banyak pertimbangan jika kami harus pulang. Maafkan saya Ibu…Saya yakin Ibu pun juga akan melakukan hal yang sama jika berada di posisi saya. Sekali lagi saya mohon maaf Ibu…Doa tulus kami untuk kesehatan ibu senantiasa kami panjatkan padaNya. Ibu yang sabar ya. Kami yakin Ibu bisa sembuh dan bisa beraktifitas lagi…

We Always Love You, Mom…

One Response

  1. “kata yang paling manis di bibir umat manusia adalah kata “Ibu”…kata yang lembut dan penuh pengertian…
    Dan kata yang slalu dirindukan tiap insan adalah kata “Ibuku”.
    smoga kita termsuk k dalam golongan anak2 yg tak pernah lmengeluh dan tulus berbakti kepada Ibu…juga Ayah…
    (smoga Ibu mbak cepat sembuh…amien)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: