Tetangga…Oh tetangga…

ikhwan 11Hadis riwayat Abu Syuraikh Al-Khuza’i ra., ia berkata: Nabi saw. bersabda: Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia berbuat baik kepada tetangganya. Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia memuliakan tamunya. Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia berkata yang baik atau diam. (Shahih Muslim No.69)

Hadis di atas mengisyaratkan bahwa kita hendaklah berbuat baik kepada tetangganya. Lingkungan di mana kita tinggal tidak mungkin lepas bersosialisasi dengan tetangga terdekat rumah kita. Terutama kanan kiri depan dan belakang rumah kita, paling  tidak tetangga yang bisa melihat rumah kita dari depan. Karena tetangga adalah saudara kita yang paling dekat. Saat kitamendapat bahaya, mereka akan melindungi kita. Saat kita sakit, merekalah yang akan pertama kali menjenguk kita. Jika kita meninggal, merekalah yang akan menguburkan kita.

Teman-teman, saat ini kami tinggal di lingkungan yang cukup padat. Meskipun tanah-tanah kosong masih sering kami jumpai di daerah kami sekarang. Tidak semua daerah tempat tinggal kita selalu nyaman, aman, dan menentramkan. Namanya juga tetangga, kadang baik juga kadang bikin saya geregetan. Tapi itulah tetangga kita, saudara kita juga.

Tetangga yang pas bersebelahan dengan rumah saya, MasyaAllah…luar biasa. Telinga saya merasa geli, mata saya merasa iba, hati saya merasa menangis saat mendengar dan melihat bagaimana ia mendidik anaknya dalam kesehariannya.  Suara-suara keras, marah, dan kejengkelan pada putranya yang baru berumur empat tahun melakukan sedikit saja kesalahan. Sikap yang tidak wajar seperti menjewer telinganya, memukul dan mencubit bagian tubuhnya dengan cukup keras (menurut saya). Membiarkan anaknya menangis meraung-raung tanpa ada usaha untuk kembali menenangkannya. Kata-kata seperti : “Bego! Bodoh! Blo’on! Rasain loe!” dsb saya dengar dengan jelas,saya pun cuma bisa mengurutkan dada. Hampir tiap hari saya mendengar dan melihat pemandangan itu. Karena posisi rumah saya bersebelahan tembok dengannya. Jadi suara-suara seperti itu sangat wajar saya dengar.

Usaha apa yang sudah saya lakukan? Saya sudah berupaya untuk menasehati agar jangan mengerasi anak ketika melakukan kesalahan. Tapi apa jawabnya?

“Ga bisa bun. Nanti jadi kebiasaan kalau dihalusin. ” Saya pun tersenyum.

“Saya pernah dapat ilmu, anak kecil itu jangan dikerasin dengan ancaman-ancaman. Karena ternyata berakibat buruk dalam psikisnya di masa akan datang. Harus banyak pengertian dari ibunya dan memberikan nasehat yang baik terhadap anak. Beri punishment (hukuman) jika kita sudah menasehati selama 3X dan anak tidak berubah. Beri nasehat baik buruk jika kita melakukan ini itu. Dan jangan lupa beri reward buat anak yang mau menuruti kata kita. Reward tidak harus berupa hadiah. Tapi dengan kita mencium dan memeluknya, itupun sudah cukup.”

Belum selesai saya berkata, ia pun langsung membalas “Bunda masih bisa sabar, saya sudah ga bisa.” mulut saya pun tiba-tiba terkunci. Pikir saya saat itu, oh mungkin tidak sependapat dengan gambaran saya tadi dan mungkin tidak biasa melakukan yang saya sarankan. Ya sudah saya pun takmencoba berkata apa-apa lagi. Dan ternyata memang benar, ia masih saja melakukan hal yang  sama kepada anaknya.

Lagi-lagi saya kecewa, hampir semua tetangga saya menerapkan pola pendidikan anak seperti itu. Mau tidak mau saya pun berpikir bahwa lingkungan sosial seperti ini bukanlah lingkungan yang sehat dan baik buat pertumbuhan Azhar buah hati kami. Jelas itu! Karena Azhar juga bersosialisasi dengan anak-anak mereka. Azhar pun tak elak mendengar kata-kata kasar dari ibu temannya sendiri, melihat temannya dijewer, dipukul, dicubit ibunya sendiri. Saya yakin itu akan berpengaruh pada psikis Azhar ke depannya.

Bertolak belakang dengan  yang  saya coba terapkan pada Azhar dari ilmu yang sudah saya dapatkan. Sekesal-kesalnya, semarah-marahnya saya, saya berusaha untuk tidak memukul, mencubit, apalagi menjewernya. Ketika dia melakukan kesalahan yang memang masih bisa ditolerir karena kecerobohan anak kecil lugu yang tidak tahu apa-apa, saya pun memaafkan Azhar. Memberikan pengertian mengapa tidak boleh dilakukan dan sebaiknya bagaimana. Ya kadang kecerobohan Azhar malah bikin saya tertawa sendiri, semakin bersyukur bahwa Azhar kini semakin besar, sudah bisa ini itu. Misalkan Azhar yang ikut nimbrung saya yang sedang memasak. Potongan-potongan sayur yang mau dimasak diberantakan dari wadahnya. Saya sikapi dengan  mengajaknya mengembalikan pada wadahnya sendiri. Begitu juga dengan mainannya yang dikeluarkan dari box mainannya satu per satu hingga ruang tamu penuh berisi mainannya, sangat berantakan. Saya pun cuma membiarkan Azhar asyik bermain dulu, baru setelah ia mulai bosan saya ajak Azhar membereskan mainannya dengan memasukkan kembali ke boxnya bersama saya. Pernah saya benar-benar dibuat marah oleh Azhar, yaitu makanan yang sudah saya siapkan untuknya tiba-tiba ditumpahkan semuanya di lantai disaat saya tinggal sebentar ke belakang. Saya hanya menegurnya dan kemudian diam dan membersihkannya tanpa banyak bicara. Saya menyadari bahwa memang itu keteledoran saya dalam mengawasinya. Azhar tidak bersalah karena ia memang belum mengerti. Barulah ketika saya sudah mereda emosi saya, saya ajak bicara baik-baik kemudian kembali bercanda dengannya.

Salah jika kita beranggapan bahwa balita atau anak kecil jika kita beri pengertian (ngomong baik-baik) akan sia-sia saja. Justru merekalah lahan kita yang paling cepat untuk dinasehati&menerima nasehat kita. Apalagi nanti ketika ia semakin besar dan mengerti, ia akan terbiasa dengan cara-cara seperti itu. Rasa percaya diri dan kedewasaan akan terbina dengan baik. Karena adanya sikap demokratis orang tua pada anaknya.

Beda dengan anak kecil yang terbiasa dengan ancaman-ancaman. Orangtua melarang ini itu, jika melakukannya maka akan diancam ini itu. Bagaimana menurut teman-teman? Ya, bisa dipastikan nanti kelak jika ia semakin dewasa akan terbiasa seperti ini. Jika tidak ada ancaman, maka ia boleh melakukannya. Begitu juga dengan si anak, kelak jika semakin sering mendapat ancaman, makin lama ia akan makin kebal dengan ancaman yang biasa orang tua berikan padanya. Contohnya: jika sering dipukul, ia akan terbiasa dipukul dan bisa jadi hukuman itu akan menjadi biasa (tidak ngefek) dan akhirnya menuntut orangtua menghukumnya lebih dari sekedar memukul. MasyaAllah…semoga kita tidak termasuk orangtua yang memperlakukan anak kita sendiri seperti itu.

Tentang hal ini, saya selalu mendiskusikannya dengan suami. Bagaimana cara kita mendidik Azhar dengan baik dan juga berupaya melakukan yang terbaik buat buah hati kami. Ini tentu saja perlu didiskusikan karena jika kedua orang tua beda menerapkan pendidikan kepada anak akan berakibat rancu. Misalnya ketika ayah melakukan hukuman pada anak, ibunya membela. Tentu ini tidak baik juga dalam perkembangan si anak. Jika melakukan salah, ibu membela dan sebaliknya. Itulah sebabnya perlu ada diskusi dan komitmen yang sama pada kedua orang tua si anak.

Kembali lagi dengan masalah tetangga, itu salah satu penyebab bahwa saya kemudian berfikir bahwa lingkungan tempat tinggal saya sudah tidak sehat lagi. Belum masalah yang lainnya. Ketika saya harus berkumpul dengan para ibu-ibu tetangga, wah…kadang juga membuat telinga saya risih. Mereka membicarakan hal-hal yang tidak seharusnya mereka katakan pada orang lain, kadang juga mereka membicarakan suami-suami mereka yang juga saya pikir takperlu untuk disebarluaskan. Jika saya berusaha menasehati mereka, mungkin saya menjadi musuh mereka. Karena semuanya melakukan hal itu sedangkan kekuatan saya cuma satu. Yang saya lakukan cuma bisa mendengar keluh kesah mereka tanpa harus ikut campur mengomentari. Atau jika percakapan mereka sudah semakin berbahaya, saya langsung berlalu dari mereka dengan alasan Azhar ingin pulang atau minta minum susu. Jika mereka membutuhkan saran saya, baru saya berikan saran-saran yang menurut saya benar dalam ilmu Islam. Ya, akhirnya saya memutuskan untuk tidak terlalu membaur dengan mereka. Bukan karena saya membenci mereka, tetapi karena saya harus membatasi diri saya agar saya yang “satu” ini tidak ikut terwarnai oleh mereka. Saya berupaya memberikan yang terbaik untuk tetangga saya dan juga membatasi sosialisasi saya dengan mereka. Dan Alhamdulillah banyak sekali yang bisa saya lakukan tanpa harus menjerumuskan saya dengan komunitas mereka. Seperti saat ada rizki, saya berupaya memberikan rizki itu dalam bentuk makanan. Dan saya lebih memprioritaskan tetangga yang setembok dengan rumah saya. Memberikan bantuan lainnya pun, sebisa mungkin saya berikan pada mereka. Satu kuncinya, jangan membenci orangnya tapi bencilah sifatnya. Sehingga dengan begitu kita InsyaAllah akan terhindar dengan penyakit hati dengan tetangga kita.

Maka dari itu, jika memilih tempat tinggal baru hendaklah kita selalu memperhatikan lingkungan tempat tinggal juga setelah kita memilih rumah yang nyaman . Bagaimana tetangganya dan keramaiannya, dsb. Tergantung bagaimana kita memandang lingkungan yang baik seperti apa.  Karena lingkungan yang sehat akan berpengaruh juga pada Baiti Jannati yang kita idam-idamkan. Jangan lupa satu hal lagi yang paling penting, rumah tempat tinggal kita tidak jauh dari tempat ibadah. Ok, itu sedikit curhatan dari bunda Azhar. Semoga teman-teman bisa mengambil pelajaran dari cerita saya di atas. Selamat bertetangga…

2 Responses

  1. hmmm….macam2 cerita mendidik anak. intinya sabar ya bun..

  2. wah…..saya malah nggak punya tetangga mbk, di sini sepiiiiiiiiiiiiiiiiii banget…..

    sosialisasi saya hanya saat ngajar aja, selebihnya saya di dalam rumah disibukkan dengan menulis, tak ada ngobrol dengan tetangga ato apa karena mereka smua memang cuek is the best

    kadang saya merindukan suasana keakraban seperti di Malang, bahkan sampek stress…tp stlh di pikir2 yah mungkin ini proses, smoga sy bisa terinspirasi dlm menulis😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: