Lelaki Pilihan Nina

akhwat 14Laki-laki itu membuyarkan konsentrasi pekerjaannya. Dihampirinya meja kerja Nina berbentuk persegi, menggeser vas bunga dan tumpukan file-file penting di meja Nina lalu duduk persis di sudut meja. Nina mengetahui polah atasannya langsung menggeser kursi putarnya, mundur sedikit.

“Kamu jangan beranggapan bahwa kamu berhutang budi pada saya karena kamu sudah saya beri pekerjaan ini. Saya ikhlas melakukan ini semua. Nin, saya tak memaksamu untuk menerima saya. Tapi biarkan saya mencintaimu apa adanya. Jangan kamu larang saya melakukannya.”

“Maaf pak, tapi bapak perlu tahu saya sudah mempunyai calon suami. Dan Insya Alloh dalam waktu dekat ini kami akan menikah.” Nina membela diri.

“Ok, jika memang kamu akan menikah. Kasih tahu saya kapan kamu akan menikah. Kapan Nin?”

Nina membisu seribu bahasa. Ia sadar bahwa ia tak bisa menjawab pertanyaan itu. Tunangannya sampai sekarang masih menggantung Nina dengan hubungan yang belum jelas kapan berakhir di pelaminan. Hati Nina teriris setiap pertanyaan itu diungkapkan oleh atasannya.

“Kamu tidak bisa menjawabnya bukan?”

“Pak Budi, kenapa bapak masih terus saja mengejar saya? Saya siapa? Masih banyak wanita yang lebih cantik dari saya. Bukankah saya juga terlalu muda buat Bapak?” Nina menutup diri.

That’s right. Kamu benar Nin. Tapi entahlah…sesuatu muncul secara tiba-tiba dan belum pernah saya rasakan seperti ini selepas istri saya meninggal dunia. Anak-anak sudah saya tanya pendapatnya tentang kamu dan mereka setuju. Lalu kenapa harus saya cegah perasaan ini pada saya. Kamu itu…smart, sweet, hatimu lembut, ibadahmu juga bagus. Satu hal lagi kamu ga materialistis seperti wanita-wanita yang saya kenal, kamu sederhana itu yang paling penting. Banyak alasan kenapa pilihan saya jatuh padamu. ”

Semua karyawan tahu siapa nama Pak Budi. Duda beranak 2 itu memang disegani seluruh isi perusahaan mulai dari direktur sampai anak-anak buahnya di bagian produksi. Pemikiran dan idenya yang smart yang membuat perusahaan itu jadi ternama dikota Surabaya. Posisi di perusahaan sudah sangat tinggi, harta sangat gampang ia cari. Usianya masih cukup muda dengan angka 40 yang baru saja diinjakknya 2 bulan yang lalu. Siapa yang tidak mau dengan duda ini? Semua wanita pasti terpesona dengannya.

Tapi bukan itu pertimbangannya kenapa Nina berat untuk menerimanya. Nina masih muda, baru 23 tahun. Idealismenya ingin mendapatkan seorang jejaka yang tidak terlalu jauh usianya dengan nya. Apa kata orang tuanya jika ia harus menikah dengan seorang duda yang sudah mempunyai anak. Tidak! Nina tidak bisa menerimanya. Nina tetap akan menunggu tunangannya nan jauh di sana untuk menikahinya.

“Sekali lagi maaf pak, saya tidak bisa.” Tolakny dengan halus.

“Ok, selama kamu belum memberikan saya jawaban kapan kabar bahagia itu akan berlangsung, saya akan terus mencari perhatian kamu. Saya tidak akan berhenti untuk mencintaimu. Ya sudah lanjutkan pekerjaan mu.” lanjutnya.

Kini Nina semakin bingung dengan posisinya seperti itu. Ia harus menghubungi Mas Hary untuk menceritakan semuanya. Tapi…tiga minggu ini tunangan Nina itu tidak menghubunginya. Setiap kali dihubungi Mas Hary selalu menghindar dan menjawabnya dengan jawaban yang singkat. Nina memutar otaknya, ia bingung bagaimana agar ia bisa menghindar dari Pak Budi. Sedangkan Mas Hary sudah tidak jelas kemana batang hidungnya. Ia sudah kerja di luar Jawa dan sejak itu pulalah Nina sudah jarang berkomunikasi. Nina akhirnya cuma melihat gagang telephon di atas mejanya, ia ragu untuk menghubungi Mas Hary.

***

Selepas Nina tiba di kos-kosannya, ia akhirnya beranikan diri untuk mengirim sebuah Short Message Service: “Mas, calling me now. Please….Urgent!

Lima menit, sepuluh menit, tiga puluh menit penantian Nina tak membuahkan hasil. Nina mencoba Missed Called. Dan tidak ada jawaban. Nina capek…ia tak sadar sudah tertidur pulas di bantal favoritnya.

Pas di menit 48 handphone berkamera itu berdering. Nina tercengang dan tersentak. Dilihatnya di layar handphone, nama Masku Sayang. Langsung tanpa ragu, ia angkat dengan sigap.

“Maaf ya dek, mas tadi masih sibuk. Ada lembur di kantor. Ada apa?”

Bla…bla…bla… Nina ceritakan semuanya panjang lebar. “Lalu kapan mas menikahi aku? Ok, jika mas masih butuh waktu untuk mempersiapkannya. Tapi tolong…paling tidak kasih Nina jawaban kapan deadline terakhir mas menikahi aku? Tahun depan, bulan apa?”

Huh…Mas Hary tidak begitu memperdulikan gertakan Nina, ia dengan mudahnya menjawab “Nina sabar ya…Mas akan pikirkan lagi dengan keluarga. Insya Alloh minggu depan mas kasih jawabannya.”

Alhamdulillah…Nina sekarang agak sedikit lega tapi juga mengharap-harap cemas apa keputusan Mas Hary minggu depan. Ia berharap ia segera menikah dalam waktu dekat ini.

Hari berganti hari hingga seminggu lewat tiga hari Nina menunggu dalam kecemasannya. Sms maupun telephone tak ia dapatkan dari Mas Harynya. Ia berusaha untuk tetap tenang dan mencoba terus berdoa agar diberikan jodoh yang terbaik. Disela-sela penantian itu, ia menerima sebuah email yang tak asing namanya, Hary Cakra Wicaksono dengan title “Maaf”. Segeralah ia buka email yang membuatnya sedikit ringkih dengan judul itu. Dibacanya email itu pelan-pelan kemudian mata Nina mengembun yang siap menjatuhkan airnya dipipi merah meronanya. Air itu serasa deras layaknya air bah yang menerjang tubuhnya. Sebuah goncangan hati yang cukup membuat Nina tak percaya. Mas Hary telah memutuskan hubungan mereka yang sudah terjalin hampir dua tahun secara sepihak. Ia mempunyai alasan yang sebenarnya tak masuk akal. Diusianya yang ke 27, pekerjaan yang sudah mapan, Mas Hary belum siap menikah? Banyak impiannya yang belum tersampaikan katanya. Belum punya rumah sendiri, belum punya mobil, belum dan belum sebagainya.  Huh! Apa benar yang ia katakan? Lalu ia berani mengorbankan hubungannya dengan Nina begitu saja? Lalu kemana janji manisnya yang sudah ia katakan pada orang tua Nina untuk menikahi Nina segera setelah mendapatkan pekerjaan tetap itu? Mas Hary malah justru bilang, “Menikahlah dengannya jika kamu memang sudah ingin menikah.” Hah…segampang itu ia mengatakannya? Bagi Nina kini Mas Hary hanyalah seorang munafik kelas gajah bukan lagi kelas kakap, ga punya nyali sebesar badannya. Hancurlah semua impian Nina. Padahal Nina sangat mengagumi laki-laki itu, tipe suami yang ia cari selama ini, humoris dan romantis.

Tak tanggung-tanggung lagi, ia langsung memencet nomor Masku Sayang di Handphonenya. Ia tak sabar ingin mencari kebenaran isi email itu. Ia tak peduli jika ia sibuk bekerja.  Tut…tut…tut…, “Iya Hallo Nina, apakabar?.” Ia membuka pembicaraan itu.

“Mas benar kirim email itu?”

“Oh email itu. Iya Nin, mas yang kirim tadi malam. Setelah mas pikir-pikir sebaiknya seperti itu. Saya tidak akan menggantung hubungan kita yang ga jelas ini seperti yang kamu bilang. Saya masih ingin senang-senang dan belum mau menikah. “

“Berarti mas ga serius sama Nina selama ini dong.”

“Ga Nin, mas serius dengan hubungan kita selama ini. Tapi maafkan mas, Nin. Mas sekarang tidak sebaik yang Nina pikir.”

“Maksud mas? Mas tolong jawab dengan jujur, mas sudah punya pacar lagi disana, mas selingkuh?” Nina sudah tak sabar.

“Maafkan mas, Nin…”

“Jawab mas, apa yang telah kamu lakukan disana?”

“Mas…mas sudah…mas sudah pernah Making Love dengan wanita yang mas beli dengan sejumlah uang.” Jujurnya.

Klik…tut tut tut! Telphone itu Nina putus. “Hallo…hallo…Nina maafkan mas. Karena mas cinta  kamu, sebaiknya kamu mencari orang yang lebih baik dariku. Aku sayang kamu Nina…” Ia terus berucap meski ia tahu suara Nina sudah tak ada ditelinganya.

Perih hati Nina mendengarnya. Ia tak menduga, sebuah prinsip telah dipegang erat-erat oleh tunangannya. Tapi kini ia hancurkan sendiri semuanya. Ia semakin ragu, laki-laki yang dianggapnya sholeh selama ini ternyata bisa melakukannya. Bagaimana dengan laki-laki yang tak sholeh? Cukup sudah hubungan itu. Itu memang keputusan yang paling tepat dibuatnya. Kini Nina akan menghapus semua kenangan indahnya bersama laki-laki tak suci itu. Disimpan dan dikunci gembok di sudut hatinya nama Mas Hary.

“Nin, laporan PT. Sancaka kemarin sudah selesai kamu audit?” suara Pak Budi membikin salah tingkah Nina. Ia segera menghapus air mata yang masih tersisa dipipinya.

“Kamu menangis Nin? Ada apa?” Pak Budi mencoba perhatian.

“Ah nggak ko pak. Tadi mata saya kena pena ini waktu main-main.” Nina menutupi semuanya dengan kebohongannya.

“Ya sudah nanti kalau laporan itu sudah selesai segera taruh di atas meja saya ya.” Pak Budi tak banyak tanya biar Nina bisa tenang. Ia tahu Nina telah membohonginya.

Esoknya setiap kali Nina sampai di tempat kerjanya, Nina mendapati sekuntum bunga mawar atau sebatang coklat atau sebuah buku bacaan tentang cinta secara berurutan selama seminggu. Nina penasaran dengan orang yang mengirim semuanya. Dan anehnya Nina sudah mencoba berangkat pagi-pagi kekantor dan barang itu sudah ada disana tanpa nama pengirim dan semuanya bertuliskan “Jangan bersedih lagi ya Nin”. Akhirnya Nina pasrah. Ia tak peduli dengan itu semua. Ia masih bersyukur ada orang yang masih perhatian seperti itu.

Hari itu Nina lembur. Ia terpaksa melakukannya karena banyak laporan keuangan yang belum terselesaikan padahal deadline tinggal dua hari lagi. Nina sibuk hingga lupa makan malam. Dilirik jam tangan Albanya, jarum jam menunjukkan 20.18.

“Belum selesai Nin?” Pak Budi menegurnya.

“Eh iya pak,belum. Masih kurang sedikit, tanggung.” Jawab Nina tanpa melihat wajah laki-laki berjanggut tebal itu. Nina masih asyik dengan laptopnya.

“Kalau sudah selesai segera ke ruangan saya ya!” suruhnya

“Baik pak.”

Lima belas menit kemudian Nina melangkahkan kakinya ke ruang Pak Budi. Saat masuk, ia temui rekan sekantornya Breny, Cisil, dan Lydia sedang asyik makan malam bersama. Di atas mejanya ada berbagai makanan khas Jawa Timur yang disiapkan untuk temen-temen yang lembur kerja.

“Langsung aja Nin. Kita ditraktir sama pak Budi nih.” Sapa Lydia teman baik Nina di kantor.

“Wah…asyik nih. Jadi ga perlu keluar uang buat beli makan. Lho, pak Budi ga makan sekalian?” Nina menyapa bos nya.

“Ye…masak kamu ga tahu sih Nina sayang… Pak Budi kan nugguin kamu.” Ejek Breny. Pipi Nina langsung memerah.

“Ya sudah…mari pak. Saya sudah lapar ini.” Ajaknya.

Baru mulai Nina melahap makanan itu, teman-temannya sudah selesai makan dan mau segera kembali ke meja masing-masing. Nina tahu, ia langsung buru-buru melahap makanan itu agar tak sendirian makan hanya bersama bos itu.

“Kami duluan ya Pak, Nin. Pekerjaan kami mau kami lanjutkan dulu. Terima kasih ya pak makan malamnya. Sering-sering aja seperti ini Pak. Kami jadi betah meski harus lembur. Hehe…” Rayu Breny.

“Eit tunggu dong  friends. Aku dah mau selesai juga ko.Huk…huk…” Nina kesedak karena mencoba menghentikan langkah mereka Padahal ia masih asyik mengunyah makanannya. Tapi mereka tak peduli, mereka langsung kembali ke meja mereka.

“Kamu sudah dapat kiriman saya kan Nin? Gimana menurut kamu?”

“Kiriman apa Pak?” Nina kebingungan. Pak Budi tidak menjawab pertanyaan Nina.

Nina pun menerka-nerka, “Jangan-jangan Bapak yang mengirim bunga, coklat, dan buku kepada saya setiap pagi itu? Bener Pak?”

“Yup! Semua benar. Kamu pasti penasaran siapa pengirimnya bukan? Karena saya tidak mencantumkan nama pengirimnya dan saya selalu menaruhnya  di mejamu tidak pagi-pagi. Tapi malam selepas kamu pulang.”

“Oh pantas saja…Saya sudah berangkat pagi tapi tetap saja keduluan.”

“Bagaimana menurutmu Nin?”

“Terima kasih banyak Pak. Tapi itu semua tidak perlu bapak lakukan hanya karena ingin mengambil hati saya.” Nina tetap bersih keras tidak mau membuka hati untuknya.

“Sudah dapat jawaban dari calonmu, kapan kalian akan menikah? Saya sudah siapkan tiket PP Surabaya-Medan agar saya bisa menghadiri pernikahan kalian. Kado special juga sudah saya siapkan.”

“Sekali lagi bapak tidak perlu melakukan itu semua ke saya. Tolong…bapak lebih baik mencari wanita lain. Jangan saya!” emosi Nina memuncak setinggi Gunung Semeru.

“Saya ikhlas kamu bahagia dengan orang lain. Saya juga tidak memaksa kamu untuk menerima cinta tulus saya. Tapi biarkan saya menunjukkan sayang ini kepadamu. Kamu tidak menolak dengan apa yang aku lakukan, itu saja sudah membuatku senang. Ok, gimana kamu mau kan?”

Nina tak dapat menjawabnya. Ia mengunci rapat-rapat mulutnya. Ia takut akan menyayat-nyayat hati bosnya itu lebih dalam lagi. “Ah…terserahlah. Yang penting aku sudah menolaknya” batinnya dalam hati.

“Sudah malam. Sebaiknya kamu segera pulang. Maksud hati ingin mengantarmu sampai rumah. Tapi saya yakin kamu pasti menolaknya. Ya sudah sampai ketemu esok.” Kata pak Budi. Nina tanpa ragu segera berlalu dan menghilang dari ruangan bersuhu 19 derajat celcius itu.

***

Nina agak sedikit senang hari ini. Pasalnya Nina sekarang sudah jarang bertemu dan diganggu bosnya itu. Pak Budi sering keluar kota dan sangat sibuk. Tapi…Nina merasakan ada yang hilang saat laki-laki tinggi itu tak menampakkan senyum manisnya di depan Nina. Canda tawa bersama rekan-rekan kerja Nina. Semangat-semangat yang biasa ia lontarkan ke bawahannya terutama Nina. Semua terasa sepi di mata gadis berkaca mata minus dua ini. Ada atau pun tidak, Nina harus tetap semangat seperti Pak Budi.

“Nina, kamu wanita. Kamu harus punya cita-cita tinggi juga seperti laki-laki. Kamu harus bisa membahagiakan orang tua. Mereka sangat berjasa dalam hidupmu. Jadi, sisihkan penghasilanmu tiap bulan untuk mereka meski sedikit. Berbuat baiklah ke semua orang yang kamu temui, kamu akan merasakan kebahagian dari situ. Bersabarlah dalam segala masalah, semua itu pasti ada hikmahnya.” Bla…bla…bla…Nina teringat akan saran-saran Pak Budi.

Laki-laki yang menduda hampir lima tahun itu sangat bijaksana dalam menghadapi segala masalah di kantor. Baik dan perhatian ke semua kolega dan anak-anak buahnya. Sebenarnya Nina belum menemukan kekurangannya, tak ada cela sedikit pun di mata Nina.

Ah…Nina ternyata sangat merasakan kehilangan sosok yang berhati mulia itu. Nina tak menyadari hampir separoh hatinya kini terisi olehnya, buku catatan Nina hampir seluruhnya bercerita tentangnya. Sama seperti dulu dialaminya saat mengenal Mas Hary nya. Ah…apakah Nina mulai terpesona dengannya? Apakah Nina mulai menjatuhkan pilihannya padanya? Nina jatuh cinta dengannya?

Ya. Perasaan Nina tak salah lagi. Ia kini telah terperangah oleh sosok laki-laki berkulit sawo matang itu. Nina bahkan telah berani mengatakan, “Saya terima cinta Bapak. Kapan Bapak menikahi saya?” Wuih…wuih…Nina, idealisme mu yang dulu kamu pegang mana? Mendamba seorang jejaka yang sholeh. Siapkah kamu menghadapi masalah besar jika kamu menerimanya?

Benar, semua tak semulus yang dia pikirkan. Pernikahan megah bak seorang putri raja dan pangeran yang mereka siapkan berdua terhalang orang tua Nina.

“Pokoknya tidak! Lebih baik kamu keluar kerja dari perusahaan itu lalu teruskan belajarmu sampai S2.” Hentak Ayah Nina. Keputusan Ayahnya layaknya sebuah undang-undang Negara yang tidak bisa diubah begitu saja.

“Yah…Nina siap dengan resiko apapun. Nina sudah pikirkan semuanya. Nina mohon untuk memberikan restu Ayah dan Ibu.”

“Kamu pikir gampang menikah itu? Apalagi dia duda dan beranak dua. Apa kata orang nanti? Sudah, batalkan saja rencana kalian itu!”

“Yah…Coba dengarkan kata anakmu itu. Ia sudah siap menikah dengannya. Usia Nina juga harus dipertimbangkan. Siapa yang mau menjadi suami perawan tua nantinya.” Ibu Nina mencoba menengahi tapi tidak membela Nina.

“Siapa bilang anakku jadi perawan tua. Sudah, pokoknya keputusan ayah TIDAK! Kalau kamu tetap nekat, terserah!”

“Nina tidak akan menikah jika tanpa restu Ayah dan Ibu.”

“Ya sudah…batalkan rencana kalian itu. Selesai kan?”

Begitu kerasnya hati ayah Nina. Nina mengalah saat itu. Ia akan mencobanya lain waktu, saat semua sudah siap dengan calon suami Nina. Nina terus berdoa dan memohon diberikan yang terbaik, diberikan jalan yang mudah untuk menggenapkan agamanya.

***

Acara perhelatan akbar di kota Surabaya itu akhirnya terlaksana, 1 Januari 2005. Undangan dari kalangan menengah ke atas, para bos-bos berjas dan berdasi, hingga tetangga Nina yang tak begitu ia kenal diundang untuk menyorakkan pernikahan mereka. Gubernur Jawa Timur pun ikut serta memeriahkan perhelatan itu. Gedung termegah se-Jatim disewa oleh tim EO wedding mereka. Bunga segar menghiasi semua sudut ruangan. Singgasana pengantin berkayu jati yang dikelilingi bunga segar berada di salah satu sisi gedung, disanalah mereka duduk berdampingan. Undangan dimanjakan dengan makanan ala Indonesia hingga luar negeri, enak dan nikmat. Sebuah band penyanyi menemani acara itu hingga selesai. Sungguh spektakuler layaknya sebuah konser akbar di gelar di tengah kota Surabaya. Para penggemarnya siap merogoh kocek lebih dalam untuk sebuah konser akbar itu.

Nina begitu cantik seperti bidadari bergaun putih bersih, ia di make over oleh perias senior di Surabaya. Nampak senyum bahagia mengalir di setiap undangan yang menjabat tangan halusnya. Tapi..di sudut kecil hati Nina ada kekhawatiran tersimpan. Ia memikirkan bagaimana kehidupannya kelak setelah perhelatan itu selesai. Benarkah ia bisa melalui kehidupannya ke depan seperti yang diyakinkan pada ke dua orang tua Nina sebelum akhirnya mereka merestui? Disimpannya erat-erat kekhawatiran itu meski keyakinannya mulai memudar.

***

Sinar matahari mulai berpendar dan menembus jendela kamar Nina. Sinar kehangatan itu menyilaukan mata Nina. Dirabanya bantal disamping kanan Nina. Ah…sosok itu sudah hampir sebulan ini tidak menemani tidur malamnya. Dilihatnya jarum jam dinding yang terpatri di atas jendela menunjukkan angka 07.15. Nina langsung bangun dan mandi. Pagi ini ia harus bergegas ke pengadilan untuk menghadiri sidang kedua perceraian Nina dan suaminya itu. Satu tahun lebih laki-laki itu tak menafkahi Nina. Dan dua bulan yang lalu suaminya kepergok Nina sedang jalan berdua dengan seorang wanita cantik dan sangat muda. Tak ada alasan lagi untuk mempertahankan pernikahan mereka.

Dok…dok…dok…suara seorang hakim memukul palu, keputusan pengadilan telah disyahkan. Nina resmi bercerai dari suaminya. Semua keluarga menyambut Nina dengan bahagia. Mereka telah mendukung keputusan terbaik Nina itu. Nina bahagia dengan keputusan pengadilan itu.

***

Depok, 26 Desember 2008

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: