Bahagia di Hari Raya Idul Adha

Takbir mengalun riuh rendah. Mushala, Masjid, jalan raya dan hampir seluruh rumah mengumandangkan kebesaran Yang Mahakuasa. Esok, hari raya Idul Adha. Umat Islam berlomba-lomba melaksanakan kurban untuk mendapatkan ridha Illahi. Takbir malam itu terasa begitu istimewa, karena 24 jam lagi aku akan menjadi seorang istri. Padahal dua pekan lalu tak terbersit sedikitpun pernikahanku akan diselenggarakan secepat ini. Aku mengambil cuti dari pekerjaanku sebagai pengajar sebuah SDIT di Depok, pulang ke kampung halamanku di Jombang, Jawa Timur hanya untuk mengabarkan seorang laki-laki berniat melamarku, ia dan keluarganya akan segera datang, dugaanku hanya untuk berkenalan.

Beberapa hari setelah aku tiba di kampung, Calon suami dan orangtuanya yang menjadi pengajar di Ponpes Gontor datang. Kerluada besarku dari pihak ayah dan ibu berkumpul untuk menyambut meraka. Dan kedatangan calon suami dan calon mertua ternyata bukan sekedar silaturahim. Mereka langsung melamar dan menanyakan tanggal akad pernikahan. Keluarga besarku terkejut, tidak menyangka proses menuju pernikahan sudah sejauh itu. Keluarga besarku minta waktu, masuk ke ruang tengah untuk bermusyawarah. Aku diposisikan bagai seorang terdakwa

“Kamu sudah hamil, ya?”

“Apa yang telah kalian lakukan?”

“Kamu masih 23 tahun, belum terlalu tua jika ingin masih melajang!”

“Baru aja kerja, sudah pingin nikah. Kapan kamu ngabekti marang wong tuo?”

“Nikah itu nggak gampang. Butuh duit buat pestanya dan persiapan ini-itu. Mampu bapakmu mempersiapkan semua dalam waktu dua minggu? Kamu itu anak pertama, jangan buat kecewa bapakmu!”

Itulah komentar beberapa kerabat. Aku hanya terdiam, pasrah dengan tudingan yang menusuk hati tersebut. Kupandangi raut wajah ibu yang duduk paling pojok berdampingan dengan bapak. Mereka diam, pandangan menerawang, entah apa yang tengah mereka pikirkan. Kucoba menjelaskan alasan kenapa calon mertuaku ingin segera pernikahan dilaksanakan. Aku memang menginginkan pernikahan bisa dipercepat supaya tidak repot bolak-balik Depok-Jombang. Begitu juga dengan suami yang bekerja di Jakarta sedangkan orangtuanya di Ponorogo. Prenikahan yang dilangsungkan sesegera mungkin juga membuat kami lebih bisa menjaga hati, meminimalkan isteraksi pranikah.

Keluarga besarku menolak mentah-mentah alasanku. Dalam sejarah keluarga bapak, proses untuk menikah membutuhkan waktu yang cukup lama. Bukan hanya sebulan dua bulan, terkadang sampai berbukan-bulan. Masih ada keluarga yang mempertimbangkan penanggalan Jawa untuk menikah, sesuatu yang sangat kuhindari sejak awal.

Meskipun tidak disetujui keluarga besar, bapak dan ibuku membenarkan alasan yang kusampaikan. Hanya sajai keduanya agak terpengaruh dengan masalah tanggal. Musyawarah internal itu berjalan alot, sedangkan di ruang tamu keluarga pihak calon suami menunggu. Bapak dan ibu tidak mengatakan apa keputusannya. Dalam diam, keduanya kembali ke ruang tamu. Dalam hati aku tak putus berdoa, Ya Allah… mudahkanlah perkaraku ini. Bukakanlah pintu hati orangtuaku dan berikanlah keputusan terbaik dari-Mu lewat mulut mereka.

Bapak dan ibu mengungkapkan, paling tidak butuh 3 bulan untuk persiapan ini itu. Orangtuaku juga menyinggung masalah penanggalan Jawa. Calon mertuaku menganggapi dengan bijak. Mereka juga menjelaskan persoalan tanggal menurut sudut pandang Islam. Aku bersyukur, calon mertuaku bisa menerangkan dengan fasih semuanya sehingga keluarlah keputusan akhir dari mulut bapak. Bapak menyetujui pernikahanku dilaksanakan sebelum aku kembali ke Depok lagi. Anggota keluarga besarku yang kurang setuju tidak berhak ikut campur apalagi melarang pernikahanku karena urusan nikahku adalah gawe bapak. Tanggung jawab menikahkan putrinya ada padanya. Wajah ibu juga terlihat mendengar keputusan bapak tersebut. Aku tersenyum bahagia. Rasa syukur tak terkira kuhaturkan pada-Nya. Pandanganku mengabur,  air mata menggantung  di kedua mataku. Kukedip-kedipkan kelompak mata agar air bening itu tidak membasahi pipiku yang merah merona.

Esoklah saat bahagia itu. Orangtua dan calon mertua meutuskan akan nikah akan diadakan pada 31 Desember 2006 atau yang bertepatan dengan 10 Dzulhijjah, hari raya Idul Adha, setelah shalat Isya. Sedakan pesta pernikahan akan diselenggarakan pada 1 Januari 2007, pukul 10.00 sampai pukul 13.00. Tanggal-tanggal tersebut juga merupakan hari-hari terakhir masa cutiku. Setelah menikah, aku harus segera kembali ke Depok lagi.

Saat takbir menyambut Idul Adha bersahutan, aku mengantar  ibu ke toko kue. Pesanan kue yang telah dipesan ibu tadi pagi dirasa kurang. Kubonceng ibu menyusuri jalan menggunakan sepeda motor. Kami berpapasan dengan orang-orang yang berduyun-duyun menuju masjid agung di alun-alun kota untuk bertakbir bersama-sama. Hatiku terasa sejuk dan tentram mendengar takbir yang bersahutan. Keramaian malam menjelang Idul Adha seperti ikut gembira menyambut hari pernikahanku.

Aku banyak bersyukur pada Allah karena semua persiapan nikah berjalan lancar. Seminggu yang lalu undangan berwarna hijau nan cantik bertuliskan namaku dan laki-laki itu sudah jadi dan telah tersebar di kalangan teman-teman bapak dan tetangga-tetangga dekat rumah kami. Administrasi KUA dari kota Ponorogo dan Jombang sudah lengkap. Sewa semua perlengkapan pernikahan juga sudah siap. Catering yang sengaja kami pesan untuk mempermudah acara pesta juga sudah beres. Allah Maha Pemurah, bapak dan ibu mendapat pinjaman uang dengan mudah dari saudara-saudaranya untuk melengkapi keuangan bapak yang masih kurang untuk pernikahanku. Alhamdulillah…semua dimudahkan-Nya…

Keluarga besar, mulai dari bude dan pakde, tante dan om, sepupu dan kemenakan sudah hampir datang ke rumah orangtuaku sore tadi. Rumah begitu ramai. Riuh suara anak-anak berlarian ke sana kemari. Suasana rumah layaknya hari raya Idul Fitri! Sudah menjadi tradisi keluarga besarku setahun sekali, kami berkumpul di rumah karena nenek, satu-satunya orangtua ayah yang masih ada, tinggal bersama di rumah bapak-ibuku.

Kesibukanku baru berakhir pada 22.00 setelah merapikan buah tangan bersama para sepupu. Buah tangan itu akan diberikan kepada para tamu saat pesta pernikahan. Di malam terakhirku sebagai lajang, aku berbaring berlima dengan dua adiku kandungku dan dua sepupu.  Meskipun tersedia 5 kamar di rumah orangtuaku, akibat banyaknya keluarga besar yang datang, aku harus mengalah seranjang tidur berlima. Sebelum memejamkan mata, aku termenung sesaat. Besok malam bukan lagi adik dan sepupu yang akan berada di ranjang ini. Seorang laki-laki asing yang telah menjadi suamiku akan berbaring di sisiku. Subhanallah, membayangkan hal itu, aku tersenyum malu. Kubaca doa sebelum memejamkan mata. Terimakasih atas segala kemudahan-Mu, ya Rab..

***

Kubuka mata dan kusongsong hidup hari ini agar lebih baik dari hari sebelumnya. Bismillaahirrohmaanirrohiim… Sebelum adzan subuh berkumandang aku sudah meninggalkan tempat tidur. Dinginnya udara pagi masih terasa menusuk tulang, tetapi hal itu tidak  mencegahku untuk mengambil air wudhu, kemudian shalat beberapa rekaat. Suara takbir masih bertalu-talu di balik rumahku. Aku bersujud di hadapan-Nya, memohon doa agar acara pernikahanku berjalan lancar hingga usai. Semoga Allah memberikan yang terbaik aku  dan calon suami; kelak menjadi keluarga samara dan barokah.

Pagi hari saat mentari pagi mulai menyeruak dan menyapa, aku dan keluargaku bergegas menuju alun-alun untuk shalat Ied berjamaah. Sepupu dan keponakan yang masih kecil-kecil ikut mengiringi. Bahagia dan ada rasa aneh menyelip di hatiku. Pikiranku bukan lagi tertuju pada hari raya Idul Adha, tapi apa yang akan terjadi nanti malam? Rasanya belum percaya, nanti malam aku akan menyandang status baru, menjadi seorang istri.

Beberapa saudara  menggodaku, “Yakin lelaki itu jodohmu?” Aku tersenyum, pertanyaan-pertanyaan khawatir sempat bergentayang;. Benarkah ia jodoh terbaik pilihan Allah?  Bisakah aku menjadi istri yang shalihah dambaan suami? Mampukah aku mempertanggungjawabkan peranku sebagai istri  kepada Allah? Masih banyak pertanyaan-pertanyaan yang menghantuiku. Kutepis semua pertanyaan khawatir itu. Cukuplah Allah sebagai pegangan hidupku kelak.

Usai shalat Ied, kamar tidurku disulap menjadi kamar pengantin. Suasananya bagai bak kamar tidur permaisuri. Rangkaian bunga di atas tempat tidur yang dilapisi sprei dan bed cover dengan warna. Tirai jendela dihiasi bunga-bunga plastik mungil dan cantik. Cermin dan meja rias dibubuhi rangkaian bunga di atasnya. Bau khas bunga melati dan sedap malam bercampur menyebar ke seluruh ruang kamar itu. Tentram dan nyaman suasananya.

Sebuah sms kuterima di telepon genggam. Calon suami mengabarkan akan tiba di kota kelahiranku beberapa menit lagi. Aku senang sekaligus panik. Rumahku masih berantakan! Lima belas menit kemudian tepat pukul 12.20 calon suami datang. Untunglah mereka langsung menuju ke penginapan yang telah kami siapkan bersama salah satu kerabatku. Ada juga keluarga suami yang diantar ke penginapan di kota. Saat calon suami datang aku tidak menyadarinya, sibuk, melihat-lihat ibu-ibu tetangga dan keluarga yang sedang memersiapkan makanan selepas akad nikah nanti malam.

Sore hari, selepas sholat Asar, aku dikejutkan dengan kedatangan dua orang laki-laki. Aku hanya bisa bersembunyi di balik gorden kamar, mengintip mereka. Yang manakah laki-laki yang mempersuntingku nanti malam? Dia yang tinggi manis dan berjanggut tebal? Atau satunya, laki-laki yang agak pendek dan juga berjanggut tebal? Kok bisa lupa? Mereka mirip, sih! Pipiku tiba-tiba memerah. Aku tidak berani keluar. Ibuku yang menemui mereka dan meminta salah satu dari mereka pergi ke rumah perias untuk mencoba pakaian resepsi nikah esok hari.

Pukul 17.00 ibu perias datang ke rumahku. Ia memoles wajahku, mendandaniku. Jilbab warna krem berhiaskan manik-manik dibalut dengan selendang putih yang menjulur panjang hingga kaki. Kebaya putih sepanjang lutut dengan brokat krem, plus rok batik panjang menutupi kaki. Kaos kaki krem menyempurnakan penampilanku. Aku sibuk memerhatikan detil pakaianku sehingga tidak menyadari bahwa wajah cantik di cermin rias kamar adalah aku. Begitu melihat penampilanku di cermin, aku kagum sendiri. Semua keluargaku pun terkesima, benarkah itu Imma yang mereka kenal? Waktu terus merambat maju. Detik-detik akad nikah  segera tiba.

Di kamar pengantin aku menanti ditemani beberapa teman akhwat. Di luar sana, orang-orang mulai ramai mempersiapkan acara akad nikah. Alat pengeras suara diujicoba. Bunyi riuh kursi karena ditata sedemikan rupa. Bapak-bapak pemandu acara dan mas-mas yang mengurus  dokumentasi sibuk berdiskusi. Apakah calon suamiku sudah berangkat dari penginapannya?

Jam di telepon genggamku sudah menunjukkan pukul 19.15. Jantungku berdegup kencang., calon suami dan keluarganya belum datang!. Acara akad nikah akan dimulai lima belas menit lagi. Kucoba menghubungi calon mertua. Beliau mengatakan sudah akan meluncur ke rumahku. Pukul 19.30 keluarga calon suami belum juga hadir. Aku mulai panik lagi karena petugas dari KUA sudah tiba. Kutelepon lagi keluarga calon suami. Panggilanku tidak diangkat.

Penantian yang membuatku was-was berkahir ketika calon suami muncul pada pukul 19.40. Aku tenang. Acara akad nikah dimulai. Aku tetap tidak mengetahui bagaimana keadaan di luar, karena posisiku masih di dalam kamar pengantin dan tak seorang pun lagi yang menemaniku. Karena tak bisa melihat, kugunakan pendengaran semaksimal mungkin untuk mengikuti acara akad nikah.

Acara demi acara, berjalan lancar. Alunan ayat suci Al-Qur’an membuat bulu kudukku berdiri. Jantungku semakin berdebar. Keringat dingin mirip biji jangung menggantung di kening dan di atas bibir. Kuseka keringat dengan tissue wangi pelan-pelan mengikuti arah jarum jam berputar, takut riasan wajahku mengabur karenanya. Khutbah nikah oleh guru agama semasa SMAku dulu, yang juga teman akrab bapak berkumandang. Alhamdulillah, khutbah nikah itu berhasil mencairkan suasana. Nasehat pernikahnnya yang menggugah dibungkus dengan sedikit lelucon. Aku tidak begitu tegang lagi setelah mendengarnya..

Saat yang dinanti banyak orang pun tiba. Aku bisa membayangkan suasan akad tersebut: calon suamiku berhadapan dengan bapak. Di samping kanan-kiri bapak pastilah  pegawai dari KUA. Dua saksi dari pihak pengantin pria dan perempuan berada di sampingnya lagi. Calon mertuaku pasti mengapit calon suam. Keluarga besarku dan calon suami, serta  tamu undangan duduk di belakang pengantin pria. Sebelum membacakan akad nikah, pengantin pria, wali, dan saksi, tentu menandatangani berkas berita acara lebih dulu. Bapak sendiri yang menjadi wali nikahku. Suasana semakin hening. Terdengar suara bapak membacakan perjanjian besar itu. Perhatian semua orang pasti tertuju padanya dan para malaikat pun entah di mana ikut menyaksikannya.

“Saya terima nikahnya Imma Rahmawati Ulfa binti Taufiqurrohman dengan mahar uang senilai lima ratus ribu rupiah dan kalung emas seberat 5,5 gram,” Ucap calon suamiku lancar.

Semua mengucap hamdallah, begitu juga dengan aku di dalam kamar. Meskipun aku tidak bisa melihat suasana di luar, air mata bahagia berlinang di pelupuk mataku. Kuhapus segera keharuan itu. Bude menjemputku. Aku keluar dari kamar pengantin, duduk di sisi suamiku. Ya, laki-laki itu bukan calon suami lagi, dia suamiku!. Dan sejak itu statusku sudah berubah menjadi istri. Haru biru mewarnai suasana hatiku. Kuberanikan menatap mata bening laki-laki berjas dan berdasi hitam lengkap dengan peci hitamnya. Ia tersenyum. Kesejukan menyelubungi dadaku. Itulah senyum terindah dari seorang laki-laki yang pernah kulihat seumurku. Kuterima mahar darinya, lalu kucium punggung tangannya. Terasa halus, lembut, juga dingin seperti es! Mungkin ia terlalu grogi. Aku telah resmi menjadi istrimu, suamiku. Alhamdulillah…Terimakasih ya Allah… Engkau kini telah memberikan seorang imam bagiku, imam yang akan mengajakku menuju surga-Mu..

Walimatul’ursy atau resepsi pernikahan berjalan lancar di Gedung Pertemuan Departemen Agama Jombang keesokan harinya, tepat di tahun baru masehi, 2007. Sejak itu hingga kini aku dan suami tidak akan pernah lupa dengan hari bersejarah tersebut. Yang kami ingat bukan tahun baru Masehinya, tetapi  hari raya kurbannya. Ketika takbir menyambut Idul Adha bergema, kami selalu ingat, dalam gema takbir itulah kami mengikrarkan cinta suci dihadapan-Nya dan di hadapan beratus-ratus pasang mata yang menghadirinya. Dua tahun setelah akad nikah tersebut, berdua kami resapi takbir dalam limpahan cinta. Di tahun ketiga kami nikmati takbir cinta tersebut bersama putra kecil kami yang sudah berumur 1 tahun lebih. Alhamdulillah…Terima kasih atas segala nikmat cinta-Mu.

***

One Response

  1. Assalamu alaykum Warahmatullahi Wabarakatuh.

    Wahai Saudaraku di seluruh penjuru dunia maya,

    Akhirnya tahun baru telah tiba…
    Tahun penentuan, apakah kita akan tetap jatuh terpuruk semakin jauh ke dalam kubangan kehinaan,
    Ataukah kita akan bangkit berhijrah menuju ke arah datangnya cahaya kemenangan di depan.

    Baca selengkapnya di

    http://dir88gun0w.blogspot.com/2009/12/happy-new-year.html

    —————————————————–
    INDONESIA GO KHILAFAH 2010
    “Begin the Revolution with Basmallah”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: