Saat Cinta Ibu Berbisik

Sebuah pesan singkat menghampiri telepon genggamku. “Mbak Ma, doain ibu ya. Ibu sekarang di ICU.”

Glek…kupaksa mengulum biji kedondong yang menyiksa kerongkonganku. Serasa kabar yang baru saya dapatkan menghantam pikiranku. Kekhawatiran, kegelisahan, dan kepanikanku melonjak secara cepat berada di titik kulminasi. Bayangan senyum ibu menggantung di kelopak mataku. Pikiranku berjalan tak tentu arah. Ibu yang dua hari lalu baru saja menjengukku dan cucu satu-satunya di Jakarta. Tapi kini sudah berada di ruang yang serba steril. Takada keluarga yang bisa menemaninya. Mengapa ibu bisa sedrastis itu?

Segera kuangkat gagang telepon dan memencet nomor handphone adikku.

“Ibu kenapa?”

“Ibu tiba-tiba badannya sakit semua, ga bisa digerakkan. Terus kita bawa ke rumah sakit ke UGD. Kata dokter harus masuk ICU karena gula darahnya mencapai 600 lebih.” Cerita adik bungsuku. Bersyukur ibu masih bisa bertahan dengan kondisi itu. Karena aku ingat ada ayah dari seorang teman lamaku yang mempunyai gula darah seperti itu tapi akhirnya meninggal.

“Terus sekarang gimana keadaan ibu?”

“Kita belum dapat kabar dari dokter. Ibu masih terus dalam pantauan. Makanya doain ibu ya mbak Ma.” Sesenggukan tangisnya terdengar jelas di telingaku.

Tanpa kau suruhpun aku akan spontan mendoakan ibu.

Sebelum menikah, aku begitu dekat dengan ibu. Ibu seperti belahan jiwaku, separuh nafasku, semangatku, sahabatku dalam suka dan duka. Perhatiannya dan kasih sayangnya makin menggebu ketika anak-anaknya jatuh sakit. Ibu rela terjaga di tidur malamnya dan merawat anak-anaknya hingga sembuh. Membeli baju jika takpilihan ibu, aku juga takjadi membelinya. Pengorbanannya dalam mencari nafkah membantu Bapak, telah mengantarkanku hingga aku dan adikku pertama bergelar sarjana, sedangkan adik bungsuku sekarang sedang di bangku kuliah semester tiga. Sebelum adzan subuh berkumandang ibu sudah memulai aktifitasnya sebagai seorang ibu rumah tangga sedangkan anak-anaknya masih mendengkur pulas di kamarnya. Usai menyelesaikan kebutuhan keluarga, ibu harus ke pasar untuk membeli sayuran dan bahan lainnya untuk dimasaknya kemudian menjualnya hingga sore hari. Semua atas kerja keras ibu.

Namun sejak menikah dan aku pun diajak merantau ke ibukota oleh suamiku, aku taksedekat yang dulu lagi. Mengantar ibu ke pasar dan membawakan barang belanjaannya sudah bukan tugasku lagi. Share masalah wanita, sahabat, dan masa depan juga tak pernah kulakukan lagi bersama ibu. Bahkan tidur bersama adik-adikku di kasur yang sama sudah menjadi moment langka. Namun aliran darah kasih sayangnya masih terus kurasakan mengalir deras di tubuhku. Doa-doa ibu senantiasa menyertai keluarga baruku. Perhatiannya sekadarnya juga masih ia lakukan.

Aku masih ingat betul bagaimana ibu masih saja memperhatikanku saat aku dinyatakan hamil pertama kalinya. Banyak sekali pesan-pesan yang ibu sampaikan hingga aku melahirkan. Dan moment itulah yang menjadi puncak begitu tulusnya perhatian ibu padaku. Mengantarkanku ke rumah sakit dan menemaniku di setiap detiknya hingga aku pulang dari rumah sakit. Membantuku merawat sikecil saat aku masih belum pulih dari sakitku. Bahkan rela terbangun karena tangisan si kecil dan menemaniku menyusuinya di tengah malam. Dan masih banyak lagi moment-moment lainnya yang takbisa diceritakan lagi. Ibu begitu peduli dengan anaknya yang kini sudah menjadi milik orang lain. Ibu yang masih terus mengalirkan darah kasih sayangnya, meski setelah itu anaknya akan pergi kembali diambil orang. Subhanallah….Ibu….

Kukabarkan berita ini ke suami. Suami ikut kaget mendengarnya lantaran ini kali ke dua ibu masuk rumah sakit dan baru dua hari yang lalu menjenguk kami di Jakarta bersama Bapak dengan keadaan yang masih cukup segar. Harapan mendapatkan ijin dari suami untuk segera pulang ke Jawa melihat keadaan ibu ternyata takmembuahkan hasil yang bagus.

“Kita lihat dulu saja perkembangan kesehatan ibu dari sini. Takperlu langsung pulang karena keadaan keuangan kita juga takbegitu bagus. Kita doakan saja dari jauh.. ”

Suami memang tidak salah. Karena saat ibu masuk rumah sakit pertama kalinya, kami pun langsung pulang meski kami harus merogoh kocek lebih dalam hingga tabungan kami juga ikut terkuras.

Detik demi detik senantiasa dengan penuh penantian dan kekhawatiran. Berharap ada kabar membahagiakan dari adik bungsuku tentang ibu. Aku jadi kurang konsen dalam melakukan pekerjaan rumah tangga. Kubiarkan sayuran yang sejak tadi pagi kubeli dari tukang sayur dan takkumasak. Takkusentuh pakaian kotor yang sudah menumpuk untuk meminta haknya dibersihkan. Azhar, buah hati kami juga kubiarkan bermain sendiri meski tetap dalam pengawasanku. Aku juga jadi sedikit emosi ketika ia membuat berantakan rumah. Kenangan-kenangan bersama ibu dahulu kala tiba-tiba muncul di awang-awangku. Dua hari yang lalu ia masih tersenyum, bermain bersama buah hati kami, dan pertemuan kami terakhir di sebuah stasiun mengantar Bapak dan Ibu pulang ke Jawa. Ya Allah…akankah itu pertemuan terakhir kami? Masya Allah… keadaan ibu kali ini benar-benar membuat saya khawatir.

“Mbak Ma, ibu…ibu…” telepon berikutnya setelah dua jam kemudian.

“Kenapa dengan ibu?” hatiku makin berkecamuk.

“Doain ibu. Ibu kritis. Ibu sudah pake alat bantu pernafasan. Nafasnya sudah sangat berat, sesak. Aku ga kuat melihatnya. Kasihan ibu…” dibalik telepon itu adikku menangis.

“Allah…Allah…Tenang ya nduk…sabar…Ibu pasti kuat, ibu akan sembuh, aku yakin itu.” Meski sebenarnya aku lemas mendengar kabar terakhir ini. Otot-ototku rasanya takberfungsi. Jiwa kosong dan melayang. Tapi kucoba kuat untuk memberi semangat adik-adikku dan orang-orang yang sekarang berada di dekat ibu.

“Mbak Ma ga pulang tah?” pertanyaan adikku yang semakin menyesakkan dadaku. Engkau pasti tahu dek, begitu inginnya aku segera pulang dan melihat keadaan ibu yang sekarang dalam keadaan seperti itu. Ibu yang melahirkan aku, merawat dan mendidikku hingga dewasa seperti ini. Aku ingin sekali menghabiskan waktu bersama untuk merawatnya, yang mungkin taklama lagi dan mungkin yang terakhir kalinya. Namun…aku sudah menikah. Aku sudah ada yang berwenang. Aku menjadi hak suamiku. Hanya seijinnyalah aku bisa pulang dan melihat ibu.

“Belum bisa dek untuk sekarang. Tapi nanti coba aku diskusikan lagi dengan mas. Kamu yang sabar ya. Aku tetap mendoakan ibu dari jauh. Pasti itu. Jangan lupa selalu kasih kabar perkembangan ibu.” Pesanku singkat.

Adik-adikku masih belum bisa menerima keadaanku. Mereka sangat berharap aku bisa pulang untuk melihat keadaan ibu yang seperti itu. Mereka takut jika Allah memang berkehendak lain, aku sebagai anak pertama berada di samping ibu untuk terakhir kalinya. Mereka juga berharap kedatangan kami dan cucu satu-satunya akan membuatnya semangat hidup dan bertahan.

Namun…setelah beberapa kali meminta suami agar memberikan ijinnya, tetap saja tidak membuahkan hasil. Suami tetap berharap agar aku bertahan untuk tidak tergesa-gesa. Aku sempat bimbang akan hal ini. Ibu, orang yang melahirkanku sedang membutuhkanku. Sedangkan suamiku, orang yang kuhormati dan menjadi pemimpinku dalam berumah tangga yang juga harus aku patuhi perintahnya. Aku cuma bisa menangis dan menangis. Akhirnya kekalutanku, aku serahkan sama Allah. Aku memohon sama Allah agar aku tetap tenang dan agar Allah memberikan keajaiban kepada Ibu. Terus dan terus aku berdoa memohon dengan kesungguhan hati.

Taklama kemudian Allah benar-benar mengirim seorang teman lamaku yang memberikan nasehat kepadaku. Dan nasehat itu telah mengingatkanku kembali, juga bagaimana seharusnya aku harus berbuat.

“Bunda ingat tidak dengan kisah seorang sahabat Nabi yang ditinggal suaminya berjihad kemudian dia mendapat kabar bahwa ibunya sedang sakit keras. Keluarganya meminta agar segera menjenguk ibunya. Namun ia taklakukan karena mendapat amanah dari suaminya agar tidak meninggalkan rumah hingga suaminya pulang. Hingga akhirnya ibunya meninggal dunia dan dijamin masuk syurga karena mempunyai anak yang patuh terhadap suaminya. Semoga kisah ini menjadi masukan buat bunda dan ibu bunda segera sembuh dan sehat kembali. Amin..”

Ugh…lega rasanya. Aku langsung merasa tenang dan yakin. Aku tidak akan meminta suami (merengek) agar aku bisa pulang. Biarlah suami sendiri yang memang mengijinkanku dengan ikhlas tanpa paksaanku. Aku akan mendoakan ibu dari jauh. Aku yakin apapun yang akan terjadi pada ibu, insyaAllah akan menjadi jalan yang terbaik untuknya.

Hingga malam mulai menyapa, kabar yang sama selalu kami dapatkan. Ibu masih sama, belum ada perkembangan yang berarti. Beberapa pesan singkat dari telepon genggamku mengatakan agar aku harus terus mendoakan ibu. Setiap sujud sholatku, setiap detik anganku, kuselalu mendoakan ibu. Alhamdulillah meski suami takmengijinkan aku pulang, tapi suami mengajakku untuk sholat berjamaah, mendoakan ibu bersama, dan membacakan surat Al-Mulk, surat Yasin, dan surat Ar-Rahman bersama-sama hingga larut malam.

Dalam malam yang tak seorangpun yang terjaga, kucoba menutup mata dan memaksanya agar beristirahat. Namun tetap takbisa. Bayangan ibu terus saja menari-nari di pelupuk mataku. Ibu…aku mencintaimu, aku menyayangimu…Ibu harus bertahan untuk kami semua. Kami masih butuh kasih sayangmu, kami masih butuh belaianmu. Aku ingin engkau melihat anak-anakmu menikah semua dan engkau bisa melihat keberhasilanmu dalam mendidik mereka hingga sukses. Ibu…bertahanlah…

Penantian kabar ibu benar-benar menguras pikiranku. Hampir tiap jam aku terbangun dan kutengok telepon genggamku. Berharap bukan berita buruk yang aku dapatkan, tapi sebaliknya. Tapi takada kabar apapun hingga di sepertiga malam terakhir, ku ambil air wudhu dan mendirikan beberapa rakaat. Aku bersujud dan bersimpuh pada Allah. Tangisan air mataku mungkin takkan cukup untuk sebuah permohonan yang begitu besar bagiku. Tapi aku yakin, Engkau pasti mendengar hambaMu yang berserah diri ini. Aku pasrahkan semua padaMu. Engkau Maha Berkehendak. Apa yang telah Engkau takdirkan bagi kami, adalah terbaik buat kami semua. Tabahkan kami dan beri kami kesabaran.

Selepas adzan subuh  berkumandang dan usai mendirikan kewajiban, aku langsung menelepon adikku. Adikku banyak bercerita kejadian tadi malam saat ibu diperbolehkan didekati.

“Ibu minta maaf ke semua orang atas kesalahan-kesalahannya selama ini.”

“Ko ibu bisa bilang begitu?”

“Aku ga tahu mbak. Aku takut ini menjadi tanda…”

“Ssssttt….Kamu ga boleh bilang begitu. Kamu harus kasih semangat ke ibu. Ibu pasti sembuh dan sehat seperti sedia kala. Keyakinan ibu untuk sembuh akan membantu kesembuhannya.”

Terdengar suara sesenggukan di balik suara adikku.

“Mbak Ma…tidak bisakah kamu pulang untuk melihat ibu? Aku sudah ga kuat melihat ibu. Aku kasihan sama ibu. Nafasnya sesak, kata-katanya sudah takjelas, suhu tubuhnya panas, dan tensi darahnya tadi malam tinggi sekali. Ibu hanya bisa bilang Allah…Allah…Allah… Kami hanya bisa membacakan ibu surat Yasin ditelinganya.”

Aku terpaku, membisu, dan takbisa mengatakan apa-apa. Terus saja aku memberikan semangat untuk orang-orang disekitar ibu agar tetap sabar dan tabah. Aku tahu, mungkin jika aku berada di samping kalian aku juga akan merasakan hal yang sama.

“Ku harap kamu tahu posisiku. Aku sudah menikah. Semua atas ijin suamiku. Kamu membaca sms ku tadi malam kan?” sebuah pesan dari teman lamaku yang memberikan solusi buatku juga aku forward ke adikku agar ia tahu bagaimana kondisiku. Syukur adikku sangat memahami aku.

“Terimakasih atas pengertianmu. Aku mohon jelaskan juga pada orang-orang yang ada disana, bapak, adik, mbah uti, juga pakde dan bude. Aku tidak pulang bukan berarti aku mau durhaka sama ibu. Tidak sama sekali. Satu hal yang harus kamu ketahui, aku sangat mencintai ibu sama seperti aku mencintai diriku sendiri. Aku akan selalu mendoakan ibu dari jauh, begitu juga mas disini.”

Alhamdulillah…ibu sudah bisa berbicara dengan orang-orang yang berada di dekatnya meski sebenarnya gula darahnya masih belum stabil, suhu badannya masih naik turun dan masih dengan bantuan alat pernafasan. Paling tidak sudah ada awal yang bagus dari keadaan yang sebelumnya. Terimakasih ya Allah…ini menjadi pertanda yang bagus dariMu.

“Nduk, ibu minta maaf atas semua salah ibu ya…” ibu mencoba berbicara denganku lewat telepon dengan suara terbata-bata.

“Ibu…seharusnya Imma yang minta maaf pada ibu. Imma sudah banyak merepotkan ibu, membuat susah ibu, membuat ibu sedih. Ibu harus sembuh ya. Ibu harus kuat. Ibu harus yakin itu! Jika ibu yakin ibu bisa sembuh, InsyaAllah ibu akan sembuh.” Dibalik itu mataku mulai basah. Ingin rasanya memeluk ibu, menciumnya, dan mengatakan bahwa aku sangat menyayangimu.

“Iya nduk…doakan ibu terus ya.”

“Pasti bu, kami semua disini selalu mendoakan ibu. Maafkan Imma, belum bisa pulang untuk saat ini ya. InsyaAllah kalau ibu sudah sembuh, kami akan pulang. Jadi ibu harus ada semangat sembuh biar kami bisa pulang dan ibu bisa bermain dengan Azhar (putra kami,cucu ibu) lagi.”

“Iya…”

Entah semangat darimana yang telah memberikan ibu kekuatan dan keyakinan, keadaan ibu makin lama makin membaik setelah hampir seminggu berada di ICU. Alhamdulillah…Keajaiban dari Allah datang kepada ibu kami, ibu yang dengan susah payahnya berjuang melawan maut, mungkin juga karena seorang ibu yang harus bertahan untuk kebahagian anak-anaknya.

Dua minggu kemudian ibu diijinkan pulang. Namun ibu harus tiap minggu kontrol terus ke dokter hingga gula darahnya stabil. Setiap hari ibu harus rela tubuhnya disuntik insulin hingga 3 kali sebelum makan. Obat-obatan yang juga cukup banyak harus ia minum dan tidak boleh sampai terlewatkan. Tentu saja, makanan dan minuman serta pikiran harus selalu dalam kontrol yang diijinkan dokter. Ibu selalu membedakan makanannya sendiri dengan makanan yang lain.

Ya Allah…beri ibuku kesabaran dan ketabahan. Semua ia lakukan untuk semangat yang akan ia berikan pada anak-anaknya. Ya, di lubuk hatinya yang paling dalam, ibu masih memikirkan kami anak-anaknya. Dua anak perempuannya masih belum menikah dan masih kuliah. Mungkin baginya, tugasnya belum selesai. Ia harus tetap bertahan agar ia bisa menuntaskan tugasnya sebagai seorang ibu, melihat anak-anaknya sukses dan bahagia.

Suatu hari, suami mengijinkanku untuk pulang ke rumah ibu. Dengan segala semangat ’45, aku manfaatkan sebaik-baiknya. Aku berjanji akan menebus kekuranganku yang telah membiarkan ibu saat sakit tanpa anak pertamanya. Aku akan merawat ibu, itu janjiku.

Sebuah pelukan dan ciuman yang takpernah kulakukan sebelumnya, aku berikan untuk ibu saat kami akhirnya dipertemukan oleh Allah. Saya merasakan dahsyatnya seorang kasih sayang ibu tanpa kenal pamrih kepada seorang anaknya. Ya Allah… aku merasa sangat bersalah. Mengapa saat ibu membutuhkanku, aku tidak berada disisinya. Tapi…saat aku membutuhkannya, ia dengan tulus menemaniku kala susah dan senang. Maafkan anakmu, ibu…Maafkan aku…Engkau harus tahu, bahwa cintaku takkan sirna, takkan padam untukmu seorang. Meski aku jauh dan baktiku takbisa kutunjukkan, namun doaku selalu untuk ibu.

Terimakasih ibu… Ibu telah membuatku menjadi wanita, istri dan bunda yang sholehah sampai sekarang ini. Semua karena jasamu dalam mendidikku dan mencetakku. Aku akan berikan ilmumu pada anakku kelak. Mengabdikan seluruh kekuatan yang engkau punya untuk anak-anakmu agar mereka menjadi anak yang bermanfaat dunia akhirat. Ibu…engkau menjadi panutanku. Dengan darah dan keringat kau perjuangkan kami. Dengan hati putihmu kau rawat kami dengan tulus ikhlas. Dengan tangisan dan setiap sujudmu kau selalu mendoakan kami siang malam. Siapakah orang yang bisa mencintai kami melebihi cintanya ibu pada anak-anaknya? Hanya ibu…ibu…dan ibu…

Allah…Rabb…Kami sebagai anak takkan mampu untuk membalas semua jasa-jasanya. Kami tahu, kami takkan bisa menandingi semua yang telah ibu berikan pada kami. Tapi…kami takkan lupa, kami mempunyai tugas yang sangat besar untuk membahagiakan ibu, sebagai rasa terimakasih atas jasa-jasanya. Membahagiakannya dengan jalan senantiasa patuh akan perintahnya dan menjaga hatinya agar tetap tenang. Tidak membuatnya merasa khawatir, marah, sedih, dan menangis. Itulah secuil yang bisa kita berikan pada ibu yang tentu takkan bisa membalas semua darah dan keringatnya. Lalu bagaimana mungkin, kita bisa melukainya dengan apa yang telah ia berikan pada kita selama ini?

Rabb…Ampunilah dosanya. Sayangilah ia seperti ia menyayangiku sejak kecil. Lindungi ia, Rahmatilah ia. Berikanlah ia kesehatan dan magfirohMu. Amiin…Ya Robbal’alamiin…Cepat sembuh ya bu, doa kami selalu menyertaimu…

Sebuah lantunan lagu yang kupersembahkan untuk ibu (sambil mendengarkannya saat menulis tulisan ini).

Satu Rindu

By : Opick Feat Amanda
Hujan teringatkan aku
Tentang satu rindu
Dimasa yang lalu
Saat mimpi masih indah bersamamu
Terbayang satu wajah
Penuh cinta penuh kasih
Terbayang satu wajah
Penuh dengan kehangatan
Kau ibu Oh ibu
Alloh izinkanlah aku
Bahagiakan dia
Meski dia telah jauh
Biarkanlah aku
Berarti untuk dirinya
oh ibu oh ibu kau ibu
Terbayang satu wajah
Penuh cinta penuh kasih
Terbayang satu wajah
Penuh dengan kehangatan
Kau ibu
Terbayang satu wajah
Penuh cinta penuh kasih
Terbayang satu wajah
Penuh dengan kehangatan
Kau ibu oh ibu kau ibu
oh ibu oh ibu
Hujan teringatkan aku
Tentang satu rindu
Dimasa yang lalu
Saat mimpi masih indah bersamamu
Kau ibu kau ibu kau ibu

***

Bekasi, 22 Desember 2009

Special for my mom,

HAPPY MOTHER’S  DAY

One Response

  1. Memoar ini kuperuntukkan untuk ibu dan adik-adikku. Mungkin takkan bisa menggantikan rasa yang pernah ku alami dan menebus kesalahan yang pernah kuperbuat. Namun kuberusaha untuk selalu memberikan yang terbaik untuk ibu dan semuanya. Aku akan tetap menyayangi ibu sampai mata tertutup akhir hayatku.
    I love U

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: