Pentingnya Teman Bermain Bagi Anak-Anak

Dalam banyak hal, perkembangan jiwa anak itu prosesnya sama seperti batang pohon. Agar batang pohon dapat tumbuh-kuat, tidak perlu dilindungi dari terpaan angin atau sinar matahari. Karena justru angin dan sinar itulah yang membuat batang dapat tumbuh-kuat.

Jiwa anak kita pun seperti itu. Agar kekuatannya bertambah dalam menghadapi kenyataan hidup, karena apabila kita hindarkan, mungkin malah akan melemahkannya. Itulah mengapa Alfred Adler, psikolog terkenal,  mengatakan bahwa model mendidik anak yang sangat berpotensi membahayakan adalah terlalu melindungi atau terlalu masa bodoh.

Sebagai orangtua, kita disarankan agar tidak terjebak pada kedua pola mendidik itu. Salah satunya adalah melalui kebutuhan anak terhadap teman main. Begitu anak kita sudah mulai bisa jalan dan berbicara, dia butuh teman main dan tidak mau bermain dengan orang dewasa terus.

Meski bagi kebanyakan orangtua bermain itu dianggap kegiatan yang biasa atau malah dianggap kegiatan yang tidak produktif, tapi bagi anak-anak, bermain adalah sekolah. Hampir seluruh ide pendidikan modern untuk orang dewasa itu sudah dijalankan anak-anak melalui bermain. Ini bisa kita buktikan antara lain:

  1. Bermain membuat anak belajar mengetahui sesuatu (learning to know), misalnya bahasa, kiasan hidup, atau nama-nama objek
  2. Bermain membuat anak belajar mengelola dirinya (learning to be), misalnya harus bersiasat dalam mengekspresikan / mengelola emosi, berimajinasi, bersikap, dan seterusnya
  3. Bermain membuat anak belajar melakukan sesuatu (learning to do), misalnya menguasai gerakan tertentu, mengoperasikan alat tertentu, menguasai teknik tertentu, dan seterusnya
  4. Bermain membuat anak belajar hidup bersama (learning to live together), misalnya harus berbagi, berinteraksi, berkomunikasi, mengetahui sifat yang buruk dan yang baik,  dan seterusnya

Jika anak bermain dengan orang dewasa terus, misalnya susternya, tante, atau pamannya, mungkin kualitas bermainnya kurang optimal. Orang dewasa cenderung malas bergerak, ingin mengalah atau selalu ingin menang.

Memang, ketika dia bermain dengan teman sebayanya, tak berarti suasana akan aman dan terkendali. Ada perbedaan pendapat, pertengkaran, konflik, dan tangisan. Sejauh itu belum ada tindakan yang membahayakan, misalnya menindas (bullying), pemerasan, dan lain-lain, ini perlu kita pahami sebagai proses.

Tapi bila sudah ada bukti-bukti dari tindakan yang membahayakan itu, jangan sampai kita mengabaikan, lebih-lebih menyalahkan anak yang telah menjadi korban teman mainnya. Semoga bermanfaat.

from : sahabat nestle

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: