Cinta Pertamaku untuk yang lain

Tulisan ini diikutkan pada 8 Minggu Ngeblog bersama Anging Mammiri, minggu kelima dengan tema “Cinta Pertama”.

Love_001Getaran cinta itu berawal saat saya usai ujian Tugas Akhir di Politeknik Negeri Malang. Beberapa teman telah mendapatkan tambatan hatinya. Namun saya dan beberapa teman yang lain masih “single” kala itu. Saya mulai cemas, selepas wisuda itu akankah saya juga mendapatkan tambatan hati saya. Tambatan hati yang benar-benar saya mencintainya. Saya benar-benar kebingungan saat itu. Saya sudah berupaya melamar ke beberapa tambatan hati. Mencari info kemana-mana, tapi belum juga “kecantol”.

“Hah, seorang perempuan mencoba melamar tambatan hati? Apa tidak terbalik, biasanya seorang laki-laki yang datang untuk melamar seorang gadis”.

“ Eit jangan salah ya…jangan berpikir negative dulu. Tambatan hati disini maksudnya adalah pekerjaan. Bukan seorang laki-laki. Qiqiqi… “ ^_^

Wisuda berlalu… dan saya masih belum mendapatkan tambatan hati itu. Akhirnya saya bertekad bulat untuk hijrah ke Jakarta, merantau ke ibukota. Kebetulan di Jakarta ada Pakde dan Bude yang bisa menampung saya selama saya mencari tambatan hati itu.

Koran mingguan yang selalu berisi lowongan pekerjaan selalu menjadi incaran saya. Setelah membeli dan membacanya, bersiap-siap untuk melamar. Lamaran itu ada yang saya kirim via pos, ada juga yang langsung saya datangi. Ketika saya harus datang langsung melamar, sungguh saat itu saya belajar dan memaksakan untuk berani jalan sendiri di tengah-tengah ibukota. Pakde dan Bude hanya memberikan rute yang harus saya jalani. Naik turun kopaja, bis kota, bus trans Jakarta, Tanya sana sini semua saya jalani sendiri. Meski kadang saya agak takut dengan liarnya Jakarta. Apalagi sering saya berangkat pagi dan sampai rumah sudah isyak karena terhalang kemacetan. Seorang gadis berjalan sendiri diselimuti berbagai kejahatan yang siap menerkam kapan saja. Alhamdulillah Allah masih melindungi saya.

Belum lagi suka duka saat saya mendapatkan respon yang bagus dari pihak yang dilamar (perusahaan). Ada yang menjanjikan ini itu, bisa diterima asal melepaskan hijab, ada juga yang harus bekerja shift takkenal waktu pagi ataupun malam. Semua saya tolak, saya urungkan menerima pekerjaan itu karena saya merasa tidak nyaman dengan kondisi seperti itu. Saya membayangkan, ketika nanti akhirnya saya harus menikah kemudian punya anak, apakah saya harus meninggalkan keluarga dari pagi hingga malam? Lalu dimana tanggungjawab saya sebagai istri dan ibu yang baik bagi keluarga? Duh…semua saya pikirkan hingga saya selalu minta petunjuk dari Allah agar selalu diberikan tambatan hati yang terbaik untuk masa depan saya.

Hingga suatu hari, saya terhubung oleh teman lama, kebetulan kakak kelas di Polinema. Mengabarkan bahwa ada lowongan menjadi guru di SDIT daerah Depok. Tanpa pikir panjang saya pun mencoba melamar kesana. Selang beberapa hari saya mendapatkan undangan untuk mengikuti serangkaian tes sebelum diterima. Alhamdulillah tes psikologi tersebut sudah sering saya kerjakan sebelum-sebelumnya.

Namun ada yang aneh dan belum pernah saya lakukan sebelumnya, yaitu tes Mikroteaching. Duh…tes itu serasa saya berada di tengah-tengah konser besar di alon-alon kemudian semua hening mendengarkan kata-kata saya. Saya harus praktek mengajar di depan anak-anak dan beberapa guru saat itu juga. Tanpa ada persiapan apapun juga, latihan saja tidak. Waduh…bingung bukan kepalang. Apa yang harus saya lakukan? Saya lulusan teknik, tak ada background mengajar sama sekali. Sudah, akhirnya saya Bismillah saja menjalaninya. Saya buat kelas itu menjadi hidup dari beberapa banyolan yang saya bikin sendiri, menyanyi ala anak TK, dan bertepuk-tepuk. Walah…pasti masih jauh dari harapan seorang guru dalam mengajar. Saya pasrah apa hasilnya nanti.

Beberapa hari kemudian saya ditelepon kembali oleh kepala sekolah tersebut yang menyatakan saya diterima menjadi guru disana. Saya datang kesana agar bisa menandatangani kontrak kerja secara langsung. Subhanallah… Amazing… Saya yakin bahwa ini adalah jawaban terbaik Allah untuk saya.

Akhirnya saya menandatangani kontrak tersebut. Gaji memang tidak seberapa, tapi saya mendapatkan fasilitas tempat tinggal di sebuah rumah yang dikhususkan untuk guru-guru yang masih single dan dari luar daerah. Alhamdulillah…saya mendapatkan keberkahan dari gaji tersebut. Saya taklagi minta uang saku ke orang tua, malah saya bisa pulang pergi kereta api ekskutif Jakarta-Jombang dengan biaya sendiri.

Dari sanalah saya merasakan cinta pertama saya pada sebuah pekerjaan. Benar-benar saya telah mendapatkan tambatan hati saya. Tempat berlabuh saya dalam mencari maisyah. Pekerjaan yang saya cintai karena kelak ketika saya menikah tidak akan mengganggu kewajiban saya sebagai seeorang istri dan seorang ibu untuk anak-anak saya. Takhanya itu saja, menjadi pengajar adalah pekerjaan yang mulia. Kelak anak-anak didik saya menjadi pewaris ilmu yang saya transferkan kepada mereka.Saya dapat pahala juga kan akhirnya?

Subhanallah… wal Hamdulillah…

DSCN6840DSC00879DSC01014

8 Responses

  1. Owallah ketipu ƪάƍϊ. Cinta pertama yg Ɖ tunggu2 Ťα kunjung muncul juga. But ⌣»̶·̵̭̌·̵̭̌✽̤̈̊ (y) story sist

  2. hehehe.. smoga berkah ya mbak.. kalau tambatan hati yang kayak gitu sy ditakdirkan tak sempat bertemu sama sekali.. lgsg nyemplung jd ibu, pengjara anak2 sendiri.. doakan berkah juga.. *sering iri sm guru2 yg bs dapet banyak pahala… gaji pula😀

    • hehehe…jangan sedih jadi ibu rumah tangga. Kadang aku kangen bisa nyantai dirumah jadi ibu tulen (bisa masak2,main ma anak2,bisa konsen menulis juga)
      Aamiin…apapun pekerjaan kita,semua akan menjadi baik jika kita lakukan dg tulus ikhlas. Ya ga?

  3. Semoga berkah ya Mba,saya juga dulu sempat 4 tahun mengajar, sebelum akhirnya “bercerai” soalnya memang nggak jodoh sih. bukan berasal dari jurusan pendidikandan tak memiliki Akta 4, ikut test PNS, keterima di Kementrian Agama. memang banyak suka dukanya menjadi guru, beda dengan kerja kantoran. kemana-mana masih sering disapa mantan anak didik dulu, hehehe serasa orang penting aza🙂

    • Aamiin…wow sayang jg ya sudah 4 tahun mengajar kemudian “bercerai”. Tapi Alhamdulillah dapat pengganti yg lebih baik.
      Betul2…suka malu kl dah jadi orang penting.Pas jalan2 naik motor ketemu ma siswa yg naik mobil, “Sore Ustadzah…”
      Sukses juga untuk mbak Aisyah ya…

  4. Terus kapan cinta buat si dia… huahuahuhaua

  5. selamat mencintai yang dicinta🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: