Al-Balkhi dan Si Burung Pincang

Alkisah, hiduplah pada zaman dahulu seorang yang terkenal dengan kesalehannya, bernama al-Balkhi. Ia mempunyai sahabat karib yang bernama Ibrahim bin Adham yang terkenal sangat zuhud. Orang sering memanggil Ibrahim bin Adham dengan panggilan Abu Ishak.

Pada suatu hari, al-Balkhi berangkat ke negeri orang untuk berdagang. Sebelum berangkat, tidak ketinggalan ia berpamitan kepada sahabatnya itu. Namun belum lama al-Balkhi meninggalkan tempat itu, tiba-tiba ia datang lagi. Sahabatnya menjadi heran, mengapa ia pulang begitu cepat dari yang direncanakannya. Padahal negeri yang ditujunya sangat jauh lokasinya. Ibrahim bin Adham yang saat itu berada di masjid langsung bertanya kepada al-Balkhi, sahabatnya. “Wahai al-Balkhi sahabatku, mengapa engkau pulang begitu cepat?”
“Dalam perjalanan”, jawab al-Balkhi, “aku melihat suatu keanehan, sehingga aku memutuskan untuk segera membatalkan perjalanan”.

“Keanehan apa yang kamu maksud?” tanya Ibrahim bin Adham penasaran. Continue reading

Advertisements

Bagaimana Kita Menilai Seseorang?

Seorang wanita yang mengenakan gaun pudar menggandeng suaminya yang berpakaian sederhana dan usang, turun dari kereta api di Boston , dan berjalan dengan malu-malu menuju kantor Pimpinan Harvard University .

Sesampainya disana sang sekretaris Universitas langsung mendapat kesan bahwa mereka adalah orang kampung, udik, sehingga tidak mungkin ada urusan di Harvard dan bahkan mungkin tidak pantas berada di Cambridge.

“Kami ingin bertemu Pimpinan Harvard”, kata sang pria lembut.
“Beliau hari ini sibuk,” sahut sang Sekretaris cepat.
“Kami akan menunggu,” jawab sang Wanita.

Selama 4 jam sekretaris itu mengabaikan mereka, dengan harapan bahwa pasangan tersebut akhirnya akan patah semangat dan pergi. Tetapi nyatanya tidak. Sang sekretaris mulai frustrasi, dan akhirnya memutuskan untuk melaporkan kepada sang pemimpinnya. Continue reading

Pengorbanan Seorang Suami (Kisah Nyata)

Ini kisah saya copas dari sebuah milist.  Setelah saya baca hingga selesai, Subhanallah…telah membuka kembali hati saya, bahwa sangat berartinya suami saya selama ini. Terimakasih cinta…apa yang telah engkau lakukan untuk kami, adalah perjuangan yang sangat besar dan mulia. Semoga Allah senantiasa melindungimu,  memberikan balasan dan pahala yang sangat besar   pula atas pengorbananmu selama ini. SyurgaNya. Amiin…Ya Rabbal’alamiin…

Selasa malam (1 Februari 2005), Setelah hujan lebat mengguyur Jakarta, gerimis masih turun. Saya pacu motor dengan cepat dari kantor disekitar Blok-M menuju rumah di Cimanggis-Depok. Kerja penuh seharian membuat saya amat lelah hingga di sekitar daerah Cijantung mata saya sudah benar-benar tidak bisa dibuka lagi. Saya kehilangan konsentrasi dan membuat saya menghentikan motor dan melepas kepenatan di sebuah shelter bis di seberang Mal Cijantung. Saya lihat jam sudah menunjukan pukul 10.25 malam. Continue reading

The Power of Mother

WORDS SHARE CONTEST ‘AKU BISA’

Pengirim : Imma R. Rusydi

Terinspirasi dari sebuah cerita yang dulu pernah saya baca sebelum akhirnya saya menikah. Semoga dengan cerita yang saya tulis kembali akan memotivasi teman-teman yang membacanya. Ceritanya begini :

Suatu hari ada seorang anak yang menghampiri ibunya yang sedang sibuk memasak di dapur. Anak ini membawa catatan yang sudah ia tulisi dan ia siap menunjukkannya pada ibunya.
“Ibu, lihatlah catatanku!”
“Catatan apa nak? Sebentar ya…”sang ibu pun penasaran dengan apa yang ditulis si anak. Selepas membereskan semuanya, sang ibu membacanya. Catatan itu tertulis : Continue reading

Pemuda Egois

Pagi menjelang siang itu kulangkahkan tubuh dan pikiranku menuju sebuah tempat keramain. Orang hilir mudik berlalu lalang dengan tujuan yang entah kemana, kutakdapat menyebutnya satu persatu.  Begitu juga dengan kendaraan panjang mirip ular itu, datang dan pergi dengan cepatnya. Suara bisingnya, suara alarmnya, dan suara tubuh kendaraan itu semakin membuatku ingin segera menungganginya.

Fiuh… deretan antri lumayan cukup panjang telah menyapaku pertama kali di loby tepat di depan loket karcis. Beberapa menit kemudian aku dapatkan tiket itu, only Rp. 5500 dengan fasilitas AC jurusan Bekasi-Kota. Tapi kalo seperti ini ceritanya dapat tempat duduk yang nyaman bakal tinggal impian. Pasalnya usai aku dapat tiket itu, kendaraan itu sudah parkir di jalurnya dan sudah menelan banyak penumpang yang berjubel-jubel ria tadinya. Masya Allah…segera aku maraton menuju tubuhnya yang panjang itu. Continue reading

Tetangga…Oh tetangga…

ikhwan 11Hadis riwayat Abu Syuraikh Al-Khuza’i ra., ia berkata: Nabi saw. bersabda: Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia berbuat baik kepada tetangganya. Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia memuliakan tamunya. Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia berkata yang baik atau diam. (Shahih Muslim No.69) Continue reading

Pelajaran Berhikmah di Ahad Pagi

ikhwan 12

Ahad pagi saya sudah bergegas menyelesaikan tugas saya sebagai ibu rumah tangga. Karena jarum jam pendek tepat menunjukkan pukul 08.00 saya mengikuti halaqah rutin. Alhamdulillah aktifitas-aktifitas itu saya mulai dari pukul 5 meski saya mulai membuka mata dari pukul 4 lewat sedikit. Membangunkan suami dan anak kemudian kami jalan-jalan naik sepeda yang baru kami beli kemarin. Alhamdulillah rasanya asyik sekali bisa jalan-jalan pakai sepeda mini kemudian mampir ke tukang sayur. Sepulang dari sana saya langsung memasak. Menunya sih tidak terlalu istimewa, paling tidak cukup untuk sarapan pagi ini aja buat Azhar, suami dan saya. Perkara nanti siang, saya bisa memasak lagi sepulang halaqah. Pas selesai memasak, saya melirik jam dinding yang terpatri di ruang kamar. Wow, sudah pukul 07.03…lantas saya segera bersiap-siap untuk bertolak ke rumah teman halaqah. Alhamdulillah suami orangnya pengertian banget. Tahu saya mau halaqah, tanggung jawab Azhar ada ditangannya. Alhamdulillah ini juga bukan kali pertama saya meninggalkan mereka. Tak hanya halaqah, tapi juga saat saya mengikuti pelatihan FLP, ngisi halaqah anak-anak SMP, dan masih banyak lagi kejadian-kejadian serupa yang membuat saya harus meninggalkan Azhar untuk sementara di tangan ayahnya. Alhamdulillah…saya bersyukur punya suami yang pengertian sepertinya. Continue reading