Bahagia di Hari Raya Idul Adha

Takbir mengalun riuh rendah. Mushala, Masjid, jalan raya dan hampir seluruh rumah mengumandangkan kebesaran Yang Mahakuasa. Esok, hari raya Idul Adha. Umat Islam berlomba-lomba melaksanakan kurban untuk mendapatkan ridha Illahi. Takbir malam itu terasa begitu istimewa, karena 24 jam lagi aku akan menjadi seorang istri. Padahal dua pekan lalu tak terbersit sedikitpun pernikahanku akan diselenggarakan secepat ini. Aku mengambil cuti dari pekerjaanku sebagai pengajar sebuah SDIT di Depok, pulang ke kampung halamanku di Jombang, Jawa Timur hanya untuk mengabarkan seorang laki-laki berniat melamarku, ia dan keluarganya akan segera datang, dugaanku hanya untuk berkenalan. Continue reading

Advertisements

Lelaki Pilihan Nina

akhwat 14Laki-laki itu membuyarkan konsentrasi pekerjaannya. Dihampirinya meja kerja Nina berbentuk persegi, menggeser vas bunga dan tumpukan file-file penting di meja Nina lalu duduk persis di sudut meja. Nina mengetahui polah atasannya langsung menggeser kursi putarnya, mundur sedikit.

“Kamu jangan beranggapan bahwa kamu berhutang budi pada saya karena kamu sudah saya beri pekerjaan ini. Saya ikhlas melakukan ini semua. Nin, saya tak memaksamu untuk menerima saya. Tapi biarkan saya mencintaimu apa adanya. Jangan kamu larang saya melakukannya.”

“Maaf pak, tapi bapak perlu tahu saya sudah mempunyai calon suami. Dan Insya Alloh dalam waktu dekat ini kami akan menikah.” Nina membela diri. Continue reading

Sinar Di Mata Mbah

Usianya sudah senja, lebih dari delapan puluh tahun. Saya mengenalnya tak kurang dari tiga tahun sepadan dengan usia pernikahan saya dengan suami tercinta. Jadi belum pantas jika saya menyatakan “aku telah mengenalnya lama”. Tapi…pancaran sinar dari aura yang ia berikan pada saya, membuat hati saya semakin hidup.
Ia masih kuat dari segi fisik dibandingkan dengan nenek-nenek seusianya. Meski kadang penyakit menuanya menghampirinya. Continue reading

Goceng

Pagi itu saya beranikan diri untuk belanja sayuran yang letaknya sekitar 150 meteran dari rumah selepas shubuh. Pengalaman pertama setelah saya pindah rumah di Depok bersama suami yang baru menikahi saya seminggu sebelumnya.

“Wortel ini harganya berapa bu?” Tanya saya pada penjual sayuran itu.

“Cenggo aja.” Jawabnya nyantai yang sempat membuat saya bertanya-tanya dan kebingungan.

“Ih ibu ini ko tidak menjawab pertanyaan saya ya?” pikir saya dalam hati. Dan kemudian saya berpikir positif saja, mungkin beliau tidak mendengar pertanyaan saya atau mungkin masih sibuk meladeni pelanggannya yang lain atau mungkin ibu itu menjawab pertanyaan pelanggan yang lainnya yang nama sayuran itu adalah sayuran “cenggo”.

Saya pun kemudian memilih-milih sayuran dan lauk lainnya. Saya melihat ada ikan mujaer yang masih segar disana. Saya ambil kemudian saya tanya lagi ke penjual itu. “Ikan ini berapa bu?”

Continue reading

Kaya Mendadak ala FLP

Ahad, 4 Januari 2009 adalah hari yang membuat FLP (Forum Lingkar Perampok) menjalankan aksinya yang pertama kali. Tuntutan sebuah pelatihan yang mengharuskan mereka melakukan itu semua. Rencana kali ini adalah perampokan sebuah Cabang Bank BNI yang terletak di Kampus UI Depok. FLP beranggotakan 5 orang. Kepala perampok (gembong perampok) bernama Ronald, Wakil perampok bernama Herna, empat lainnya adalah anggota bernama Ayu, Iin, dan Imma.

FLP mengatur strategi untuk menjalankan aksinya itu agar berhasil dan tidak diketahui aksinya oleh pihak berwajib. Berbagai ide muncul di setiap kepala para personil FLP.

“Bagaimana teman-teman. Ada yang punya ide jitu melumpuhkan Bank itu?” Tanya kepala perampok pada anggotanya. Keadaan hening sejenak, semua menguras otak mungkin saja mereka menemukan ide cemerlang. Continue reading

“Di Akhir Sujudnya”

0980-298x300 “Mbok…tolong bawakan es pudingnya ke depan sekalian ya!” suruh Manda pada mbok Ijah.

Mbok ijah seorang nenek yang sudah hampir tiga tahun ini bekerja pada Manda. Manda merekrutnya karena mbok Ijah sudah tak punya sanak keluarga lagi. Suaminya meninggal tujuh tahun lalu karena sebuah penyakit yang dibiarkan begitu saja, TBC. Usianya juga tak jelas, saat ditanya berapa usianya ia pun hanya mengira-ngira 70 tahunan. Manda merasa iba pada nenek itu lantaran ia mendapatkan uang bulanan dari upah mencuci dari tetangga yang membutuhkan tenaganya. Itu pun kalau dibutuhkan, kalau tidak dibutuhkan nenek itu pergi ke pasar Kramat Jati untuk mengais sisa sayuran yang masih cukup segar kemudian ia jual kembali ke pembeli dengan harga yang jauh murah. Sehari pendapatannya hasil mengais tak tentu, paling banyak ia dapatkan 15 ribu rupiah saja itu pun sekali dua kali ia dapatkan. Sisanya dibawah itu.

Rumahnya sudah tak layak dijadikan tempat tinggal. Dindingnya cuma separoh terbuat dari bata yang belum sempat di lapisi semen, separohnya terbuat dari bambu yang dianyam. Meski keadaannya seperti itu tapi rumahnya teduh seteduh hati mbok Ijah yang tak iri dengan rumah para tetangga bak istana. Ia senang menebar senyum saat ia berjumpa dengan para tetangga. Banyak tetangga yang mengiba padanya tak ayal mbok Ijah mendapat sumbangan beras dari tetangga yang masih punya hati nurani. Disekeliling rumahnya tumbuh pohon pete yang berumur sekitar sepuluh tahunan, pohon rambutan yang siap dipanen, dan masih banyak lagi pohon lainnya yang tak jauh besarnya. Tapi itu semua bukan miliknya, milik tetangga yang masih egois untuk menebangnya. Mereka takut tak punya pohon lagi untuk di panen sendiri. Ya rumah mungil itu memang berada di tengah-tengah pohon itu dan tak satupun rumah yang bersebelahan dengannya. Itulah sebabnya rumahnya semakin sejuk dan teduh.

Continue reading